JOMBANG – Peringatan Hari Kartini tak lagi sekadar identik dengan kebaya dan seremoni tahunan. Semangat emansipasi yang diwariskan Raden Ajeng Kartini dinilai harus terus hidup dalam langkah nyata perempuan masa kini. Hal itu disampaikan Fitriah Susanti, M.PdI, perempuan asal Jombang yang memaknai Hari Kartini sebagai momentum untuk terus berkembang tanpa kehilangan jati diri.
Menurutnya, perempuan saat ini harus berani mengambil ruang sekaligus membuka jalan bagi perempuan lain untuk maju. ”Semangat Kartini hari ini adalah berani berkembang tanpa kehilangan jati diri dan membuka jalan bagi perempuan lain untuk terus maju,” ujarnya.
Fitriah menekankan, kemandirian menjadi hal penting bagi perempuan. Namun, kemandirian yang dimaksud bukan berarti harus mampu melakukan semuanya sendiri. Lebih dari itu, perempuan harus memiliki kendali atas hidupnya, mampu menentukan pilihan, serta memiliki batasan yang sehat dalam setiap relasi. ”Perempuan perlu mandiri bukan untuk menjadi ‘superwoman’, tapi agar punya pilihan dan tetap utuh sebagai diri sendiri,” jelasnya.
Di sisi lain, ia menyoroti pentingnya pendidikan sebagai fondasi utama perempuan. Perempuan disebut sebagai madrasah pertama bagi anak, sehingga kualitas pendidikan yang dimiliki akan sangat berpengaruh terhadap generasi berikutnya.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya membentuk kecerdasan akademik, tetapi juga pola asuh, kesehatan, hingga arah masa depan anak. Karena itu, perempuan perlu terus belajar, baik melalui jalur formal maupun ruang-ruang nonformal seperti komunitas, organisasi, dunia kerja, hingga lingkungan keluarga. ”Proses belajar perempuan tidak pernah berhenti selama masih ada kemauan untuk berkembang,” tambahnya.
Baca Juga: Student Journalism: Semangat Kartini
Dalam dinamika kehidupan modern, Fitriah juga menyinggung peran ibu bekerja yang semakin kompleks. Ia menilai, kehadiran ibu kini tidak lagi diukur dari lamanya waktu bersama anak, melainkan kualitas kebersamaan yang dibangun. ”Anak tetap butuh rasa bahwa ‘pulang itu aman’. Tidak harus lama, tapi konsisten,” tuturnya.
Lebih jauh, ia melihat perempuan sebagai penghubung nilai antar generasi. Peran perempuan dinilai sangat strategis dalam menjaga nilai budaya, moral, dan spiritual di tengah perubahan zaman. Dengan begitu, pendidikan yang diberikan tidak hanya mencetak generasi cerdas, tetapi juga berkarakter.
Fitriah menegaskan, kontribusi perempuan dalam pembangunan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Peran di lingkup keluarga pun memiliki dampak signifikan jika dijalankan dengan kesadaran dan konsistensi. ”Tidak harus terlihat besar, yang penting memberi manfaat nyata,” tegasnya.
Ke depan, ia berharap perempuan tidak hanya berorientasi pada kesuksesan semata. “Tetapi juga mampu hidup secara utuh sebagai individu yang memiliki pilihan, nilai, serta memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya,” harapnya.
Baca Juga: Gelorakan Semangat Kartini, Ibu-ibu Forsid DPRD Jombang Gelar Lomba Kebaya Hingga Puisi Kartini
Konsisten Mengabdi di Bidang Keagamaan
PERJALANAN karier Fitriah Susanti, M.Pd.I, menjadi gambaran nyata dedikasi perempuan dalam bidang keagamaan sekaligus pelayanan masyarakat. Perempuan kelahiran Jombang, 23 Juni 1985 ini meniti karier dari bawah, dengan fokus pada pembinaan umat hingga pemberdayaan sosial.
Kariernya dimulai pada 2009 sebagai Penyuluh Agama Islam fungsional di KUA Bandarkedungmulyo. Selama delapan tahun, Fitriah aktif turun langsung ke masyarakat, memberikan pembinaan keagamaan serta pendampingan umat hingga 2017.
Pengalaman tersebut berlanjut saat ia bertugas sebagai Penyuluh Agama Islam di KUA Jogoroto pada 2017 hingga 2022. Interaksi intens dengan masyarakat membuatnya memahami berbagai persoalan sosial-keagamaan secara lebih mendalam. ”Di lapangan kita belajar langsung dari masyarakat, bagaimana membangun komunikasi, memberi pemahaman, sekaligus menjadi bagian dari solusi,” ujarnya.
Dedikasi panjang itu mengantarkannya ke jenjang berikutnya. Sejak 2023 hingga sekarang, Fitriah dipercaya mengemban amanah sebagai Penyelenggara Zakat dan Wakaf di Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Jombang. Peran ini memperluas ruang pengabdiannya, terutama dalam pengelolaan dana sosial keagamaan untuk pemberdayaan masyarakat.
Di balik kiprah tersebut, latar belakang pendidikan Fitriah turut menjadi fondasi kuat. Ia mengenyam pendidikan dasar di MI Salafiyah Syafi’iyah Seblak, kemudian melanjutkan ke MTs dan MA Perguruan Muallimat Cukir. Pendidikan sarjana ditempuh di Ikaha Tebuireng (Sekarang Unhasy) lulusa tahun 2007 dan melanjutkan jenjang S2 DI Unhasy Tebuireng lulus 2020.
Kombinasi pengalaman lapangan dan pendidikan formal tersebut membentuk kompetensinya, baik dalam aspek keagamaan maupun pendidikan masyarakat.
Meski disibukkan dengan peran publik, Fitriah tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Sebagai ibu dari empat anak, ia berupaya menjaga keseimbangan antara karier dan kehidupan rumah tangga.
Ia membiasakan kegiatan keagamaan bersama keluarga, seperti salat berjamaah dan mengaji selepas maghrib. Rutinitas tersebut menjadi cara sederhana untuk membangun kedekatan sekaligus menanamkan nilai spiritual sejak dini.
Tak hanya itu, ia juga menerapkan pola hidup sehat dengan menyediakan makanan bergizi serta membangun komunikasi terbuka dengan anak-anak. Baginya, keharmonisan keluarga menjadi fondasi penting dalam menjalankan peran di ruang publik.
Fitriah menilai perempuan memiliki peran strategis, baik di lingkup keluarga maupun masyarakat. Keduanya tidak harus dipertentangkan, melainkan bisa dijalankan secara seimbang. “Tidak harus terlihat hebat di mata publik. Kontribusi terbaik adalah yang sesuai kapasitas, berkelanjutan, dan memberi manfaat,” pungkasnya.(yan/naz)
Editor : Anggi Fridianto