JOMBANG – Semangat Kartini di masa kini dimaknai Kepala SLB Negeri Balongsari, Megaluh, Shepty Ertu Winata Kartikasari SPd, sebagai keberanian perempuan untuk bermimpi besar dan terus bergerak, meski di tengah keterbatasan.
Menurutnya, Kartini tidak hanya tentang simbol kebaya, tetapi tentang semangat yang harus terus dijaga oleh perempuan masa kini. ’’Perempuan sekarang punya kesempatan lebih besar. Tugas kita adalah tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, terus belajar, berkontribusi, dan mengangkat perempuan lain di sekitar kita,’’ katanya.
Perempuan kelahiran Nganjuk, 2 September 1981, ini menilai kemandirian perempuan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Namun, kemandirian tidak berarti berjalan sendiri tanpa keluarga.
’’Perempuan mandiri adalah yang berdiri di atas kaki sendiri. Berani menyampaikan pendapat, dan bertanggung jawab atas pilihannya. Dengan begitu, perempuan tidak mudah bergantung atau direndahkan,’’ tegasnya.
Ia juga menekankan, pendidikan merupakan investasi terbesar bagi perempuan. Menurutnya, perempuan yang berpendidikan tidak hanya cerdas untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi fondasi bagi keluarganya.
’’Kalau kita mendidik satu perempuan, berarti kita sedang mendidik satu generasi,’’ ungkapnya.
Baca Juga: Student Journalism: Semangat Kartini
Selain pendidikan formal, Shepty melihat banyak ruang belajar lain yang dapat dimanfaatkan perempuan. Mulai dari lingkungan rumah, komunitas pengajian, arisan, hingga media sosial. Bahkan, menurutnya, dapur pun bisa menjadi ruang belajar untuk melatih kesabaran, kreativitas, dan kemampuan mengelola kehidupan.
Dalam keluarga, ia berusaha menjadi sosok ibu yang tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga emosional. Bersama suaminya, Bambang Riadi, serta dua anaknya, Laudia Shafira Dinata dan Alaric Atarahman Dinata, ia menjaga kedekatan melalui komunikasi dan perhatian.
’’Meski lelah sepulang kerja, saya tetap meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak-anak. Itu penting dalam masa tumbuh kembang mereka,’’ terangnya.
Ia juga menghadirkan kebersamaan melalui hal sederhana. Seperti memasak menu favorit keluarga semisal sayur lodeh, tempe goreng, telur dadar, ayam goreng, dan sambal terasi. Namun, ia menegaskan bahwa yang terpenting bukan hanya makanan, tetapi waktu dan perhatian yang diberikan.
Menurutnya, perempuan memiliki peran besar dalam pembangunan bangsa, terutama di bidang pendidikan. Dengan kepekaan sosial dan emosional yang dimiliki, perempuan mampu memberikan kontribusi besar, termasuk dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus.
Ia berharap perempuan masa kini tidak ragu untuk memiliki mimpi besar dan berani menentukan jalan hidupnya sendiri. ’’Perempuan berhak mendapatkan pendidikan terbaik, memilih karier dengan bangga, dan membangun keluarga secara setara,’’ ungkapnya.
Perjalanan karirnya di dunia pendidikan menunjukkan dedikasi panjang, khususnya dalam bidang pendidikan luar biasa (PLB). Kini, ia menjabat sebagai Kepala SLB Negeri Balongsari Jombang sejak Oktober 2023.
Shepty mulai pendidikan di SDN Begadung 2 Nganjuk (lulus 1994). SMPN 1 Nganjuk (lulus 1997), dan SMAN 1 Nganjuk (lulus 2000).
Ketertarikannya pada dunia pendidikan mengantarkannya menempuh studi S1 di jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Surabaya dan lulus pada 2004. Saat ini, ia juga tengah melanjutkan pendidikan S2 di bidang Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya.
Karirnya dimulai pada 2005 sebagai guru bantu hingga akhirnya diangkat sebagai PNS pada 2009 dengan penugasan di SLB Shanti Kosala Mas Trip Nganjuk.
Di sekolah tersebut, Shepty tidak hanya mengajar, tetapi juga dipercaya memegang berbagai posisi strategis. Mulai dari wakil kepala sekolah bidang kurikulum, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, hingga akhirnya menjadi kepala sekolah pada 2021.
Pengalaman tersebut mengantarkannya pada jabatan sebagai Kepala Sekolah definitif di SLB Negeri Balongsari Jombang sejak Oktober 2023 hingga sekarang.
Ia melihat peran perempuan sangat besar dalam dunia pendidikan, terutama di lingkungan sekolah luar biasa. Mayoritas tenaga pendidik adalah perempuan yang memiliki dedikasi tinggi dan kepekaan terhadap kebutuhan siswa.
’’Perempuan memiliki kepekaan sosial dan emosional yang tinggi, apalagi di pendidikan khusus. Itu menjadi kekuatan dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus,’’ terangnya.
Di tengah kesibukannya sebagai kepala sekolah, Shepty tetap menjalankan perannya sebagai ibu dalam keluarga bersama suaminya, Bambang Riadi, serta dua anaknya. Menurutnya, perempuan dapat berkontribusi dalam pembangunan dari berbagai lini. Tidak harus melalui jabatan tinggi. Peran kecil yang dilakukan secara konsisten juga memiliki dampak besar.
’’Yang penting adalah konsisten dan tidak meremehkan peran sendiri, sekecil apapun itu,’’ tegasnya. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto