Radarjombang.id - Kepala SMAN Ploso, Qoidatun Nisak SPd MPd, memaknai Hari Kartini sebagai refleksi diri, apakah perempuan sudah mampu menjadi ’’Kartini’’ bagi lingkungan sekitarnya.
Menurutnya, perjuangan perempuan saat ini bukan lagi sekadar menuntut emansipasi. Melainkan bagaimana mampu memberi manfaat, menyediakan ruang bagi keluarga, serta menebar kebaikan di lingkungan sekitar.
’’Hari Kartini bukan hanya ritual berkebaya, tapi kesadaran apakah kita sudah menjadi Kartini bagi orang-orang di sekitar kita,’’ katanya.
Perempuan memiliki peran besar dalam membentuk generasi masa depan. Bahkan, perempuan disebut sebagai ”tiang negara” karena pengaruhnya yang sangat kuat terhadap tumbuh kembang anak. ’’Generasi hebat lahir dari perempuan-perempuan hebat,’’ tegasnya.
Dalam konteks pendidikan, perempuan dipandang sebagai madrasah pertama bagi anak. Oleh karena itu, pendidikan bagi perempuan menjadi hal yang sangat penting, tidak hanya dalam bentuk formal, tetapi juga informal melalui berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
Baca Juga: Peduli, RSUD Jombang Gelar Edukasi PKRS Bersama Komunitas Stroke Smile
Selain itu, kemandirian perempuan juga menjadi hal yang krusial. Menurutnya, perempuan yang mandiri akan lebih mampu berkontribusi, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Namun, kemandirian tersebut tetap harus selaras dengan peran sebagai ibu dan pendamping dalam keluarga.
Dalam kehidupan sehari-hari, ia menekankan pentingnya peran ibu sebagai pusat keluarga. Meski memiliki pendidikan tinggi atau karir, seorang perempuan tetap menjalankan kodratnya sebagai ibu yang mendampingi anak dan suami. Serta menciptakan rumah sebagai tempat yang nyaman untuk kembali.
Ia juga menilai, kontribusi perempuan dalam pembangunan dapat dimulai dari hal sederhana, yakni menjadi ibu yang baik. Mendidik anak dengan benar. Serta menciptakan keluarga yang harmonis. Dari keluarga yang kuat, akan lahir generasi yang berkualitas.
Ke depan, ia berharap perempuan semakin berpendidikan, mandiri secara finansial, serta matang secara kepribadian. Sehingga mampu berperan optimal di berbagai bidang kehidupan. (wen/jif)
Menjaga Keseimbangan sebagai Ibu dan Pendidik
Kiprah Qoidatun Nisak SPd MPd di dunia pendidikan menunjukkan dedikasi panjang yang konsisten. Perempuan kelahiran Gresik, 9 Maret 1976, ini telah mengabdikan dirinya sebagai pendidik selama lebih dari dua dekade.
Ia mengawali perjalanan mengajar di SMA Sunan Giri Menganti, meski hanya berlangsung satu semester. Setelah itu, ia melanjutkan pengabdian di MTs Bustanul Arifin Menganti Gresik sebelum akhirnya menetap di SMAN Menganti Gresik sejak tahun 2000 hingga 2025.
Pada 2006, ia resmi diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Dalam perjalanan karirnya, ia juga dipercaya mengemban berbagai tanggung jawab.
Di antaranya sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum sejak 2021 hingga 2025. Ia juga tergabung sebagai guru penggerak angkatan 6. Ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan nasional.
Qoidatun Nisak menempuh pendidikan dasar di SDN Gadingwatu. Kemudian melanjutkan SMP dan SMA di Avisena Kedungcangkring, Sidoarjo. Ia meraih gelar S1 Pendidikan Fisika di Universitas Jember. Serta melanjutkan S2 Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya.
Di tengah kesibukannya sebagai pendidik, ia tetap menjalankan peran sebagai ibu dan istri. Karena bekerja di luar kota, ia memanfaatkan waktu akhir pekan untuk sepenuhnya bersama keluarga. Mulai dari memasak, mengunjungi anak di pondok, hingga menjalankan peran domestik lainnya.
Menurutnya, keseimbangan antara karir dan keluarga menjadi kunci dalam menjalankan peran sebagai perempuan. Ia percaya, keberhasilan perempuan tidak hanya diukur dari karir, tetapi juga dari bagaimana ia mampu menjaga keharmonisan keluarga.
’’Minimal dari keluarga yang baik, akan lahir generasi yang baik pula,’’ ungkapnya. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto