JOMBANG – Peringatan Hari Kartini menjadi momen refleksi bagi perempuan untuk terus menguatkan peran dan kontribusinya dalam berbagai bidang kehidupan.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKB-PPPA) Jombang, Dr dr Ma’murotus Sa’diyah MKes, menyatakan, semangat perjuangan perempuan kini tidak lagi terbatas pada simbol sejarah.
Peringatan Hari Kartini menjadi tonggak kesadaran awal perempuan pada pentingnya pendidikan, khususnya di kalangan perempuan Jawa. Namun, saat ini nilai-nilai tersebut sudah berkembang dan diwujudkan dalam kehidupan nyata.
’’Kartini adalah contoh dari masa lalu. Sekarang, sudah banyak perempuan yang memiliki kesadaran yang sama,’’ katanya.
Baca Juga: DPPKB PPPA Jombang Sabet Pengelolaan BOKB Terbaik dari BKKBN Jawa Timur, Ini Kunci Suksesnya
Makna Hari Kartini saat ini terletak pada kemampuan perempuan untuk hadir dan berperan aktif. Baik di dalam keluarga maupun di tengah masyarakat.
Perempuan dinilai mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai individu yang produktif dan berkontribusi dalam pembangunan.
’’Perempuan bisa berkarya, baik melalui peran domestik maupun di ranah publik, dan itu menjadi kontribusi sosial yang nyata,’’ imbuhnya.
Kontribusi perempuan tidak harus selalu dalam skala besar. Peran sebagai ibu yang mendidik anak dengan baik juga merupakan bagian penting dari pembangunan bangsa. Karena dari keluarga kualitas generasi masa depan ditentukan.
’’Perempuan harus bisa menjadi pendidik utama bagi anak-anaknya dan menjadi ibu yang baik,’’ tutur Ning Eyik, sapaan akrabnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kemandirian perempuan yang dibangun melalui proses belajar. Dengan terus belajar, perempuan mampu menghadapi berbagai tantangan dan keterbatasan dalam kehidupan.
’’Belajar menjadi kunci untuk membuka akses dan mengatasi keterbatasan, baik sosial, ekonomi, maupun lainnya,’’ urainya.
Pendidikan tidak hanya diperoleh melalui jalur formal, tetapi juga dari kehidupan sehari-hari. Kebiasaan sederhana seperti mengerjakan tugas rumah secara mandiri dinilai sebagai proses pembelajaran yang efektif. Terutama dalam membentuk karakter dan tanggung jawab anak.
’’Kebiasaan kecil di rumah itu penting untuk melatih pemahaman hidup dan tanggung jawab. Dari situ anak-anak bisa berkembang,’’ terangnya.
Menata Waktu, Menjaga Generasi
JABATAN tak membuat Dr dr Ma’murotus Sa’diyah MKes menjauh dari peran paling mendasar dalam hidupnya. Di balik posisinya sebagai Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKB-PPPA) Jombang, ia tetap menempatkan diri sebagai ibu, peran yang ia sebut paling menentukan masa depan generasi.
Lahir di Jombang, 14 Desember 1971, Ma’murotus Sa’diyah tumbuh di lingkungan pesantren di Dusun Pesantren, Desa/Kecamatan Peterongan. Pendidikan dasarnya ditempuh di lembaga Darul Ulum, sebelum melanjutkan studi kedokteran di Universitas Brawijaya Malang.
Ia kemudian meraih gelar magister di Universitas Airlangga (Unair) dan doktor Ilmu Ekonomi di Universitas Merdeka Malang.
Rekam jejak karirnya panjang dan beragam. Ia pernah memimpin Yayasan Universitas Darul Ulum Jombang. Menjadi rektor di kampus yang sama, serta menjadi kepala sejumlah puskesmas di Pasuruan dan Jombang.
Di RSUD Jombang, ia menapaki jenjang dari kepala bidang, wakil direktur pelayanan, hingga direktur pada 2022–2025. Sejak Oktober 2025, ia dipercaya mengemban amanah sebagai kepala dinas.
Di luar tugas pemerintahan, aktivitasnya tetap padat. Ia menjadi pengasuh Asrama Al Hambra Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan. Dokter keluarga, serta dosen luar biasa di Universitas Airlangga. Namun, di tengah semua peran itu, ia menegaskan keluarga adalah pusat dari segala hal.
Baginya, peran ibu bukan hanya hadir secara fisik, tetapi menjadi penanam nilai. Dari rumah, karakter anak dibentuk dan arah kehidupan mulai ditentukan.
’’Peran ibu sangat penting untuk menjaga generasi dengan menanamkan nilai-nilai utama. Tidak hanya fisik, tetapi juga nilai sosial dan nilai lainnya,’’ terangnya.
Kesibukan tak menjadi alasan untuk mengabaikan keluarga. Ia justru menekankan pentingnya menyediakan waktu khusus untuk berkomunikasi. Baginya, percakapan sederhana dengan anak dan pasangan menjadi ruang membangun kedekatan sekaligus sarana pendidikan.
’’Kita harus memberikan waktu dan ruang untuk bicara dengan anak-anak maupun pasangan. Serta melakukan aktivitas bersama,’’ imbuhnya.
Memiliki hobi membaca, menulis, dan memasak, ia menjadikan rumah sebagai ruang relaksasi sekaligus ruang pembelajaran. Aktivitas sederhana itu bukan cuma rutinitas, melainkan cara membangun kebersamaan dan menanamkan nilai tanggung jawab.
Di tengah tuntutan profesional yang tinggi, Ning Eyik menunjukkan keseimbangan bukan hal yang mustahil. Baginya, membangun bangsa tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari rumah.
’’Membangun bangsa dimulai dari peran ibu yang konsisten menanamkan nilai kepada generasi penerus,’’ tegasnya. (fid/jif)
Nama:
· Dr dr Ma’murotus Sa’diyah MKes
Alamat:
· Dusun Pesantren, Desa/Kecamatan Peterongan, Jombang
Pendidikan:
· S-1 kedokteran Umum Universitas Brawijaya Malang
· Profesi Kedokteran Umum Universitas Brawijaya Malang
· S-2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Airlangga Surabaya
· S-3 Ilmu Ekonomi di Universitas Merdeka Malang
Pengalaman kerja:
· Ketua Yayasan Universitas Darul Ulum Jombang 2000-2010
· Kepala UPTD Puskesmas Kepulungan Pasuruan 2006-2010
· Kepala UPTD Puskesmas Gempol Pasuruan 2010-2014
· Rektor Universitas Darul Ulum Jombang 2010-2014
· Kepala UPTD Puskesmas Mojoagung Jombang 2014-2018
· Kepala Bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Kabupaten Jombang 2018-2020
· Wakil Direktur Pelayanan RSUD Kabupaten Jombang 2020-2022
· Direktur RSUD Kabupaten Jombang 2022-2025
· Kepala Dinas DPPKBPPPA Jombang Oktober 2025 – sekarang
Sumber: data yang diolah
Editor : Anggi Fridianto