Radarjombang.id - KURANG dari tujuh tahun, Kuni Samsahayah, dapat menghafalkan 30 juz Alquran. Menariknya, dalam menghafal, ia berkali-kali berusaha memahami makna setiap ayat yang akan ia hafal. Dengan begitu, ia tidak hanya hafal, tapi juga mengetahui maknanya.
Proses menghafal dimulai sejak duduk di bangku MTs, dibina kedua orang tuanya di Pondok Pesantren Cemerlang Annajach.
Metode yang digunakan cukup terstruktur, yakni membaca tawassul terlebih dahulu, memahami makna ayat, kemudian membaca berulang hingga tujuh kali sebelum mulai menghafal. ”Biasanya satu halaman saya bagi tiga bagian. Setelah bagian pertama hafal, lanjut ke bagian kedua, lalu diulang lagi dari awal hingga selesai satu halaman,” ungkapnya.
Dalam kondisi tertentu, ia bahkan mampu menghafal hingga 10 halaman dalam sehari karena fokus penuh, meski harus mengorbankan waktu tidur. Seperti saat ia mondok di Mambaul Ulum Malang dulu.
”Karena kalau di rumah kan saya masih harus sekolah formal, sedangkan di Malang saya memang hanya fokus menghafal. Tidur sangat sedikit karena harus murajaah dan menambah hafalan,” katanya.
Selain Alquran, ia juga terbiasa menghafal berbagai kitab selama menempuh pendidikan di Muallimin Muallimat, seperti kitab-kitab nahwu, tasawuf, hingga materi pelajaran lain yang menuntut hafalan.
Manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri, terlebih saat harus membagi antara hafalan Alquran, hafalan kitab, dan pemahaman materi pelajaran. Ia mengaku terbiasa belajar di malam hari, bahkan sering bangun pukul 1 atau 2 dini hari untuk belajar, terutama saat ujian
. ”Kalau ujian, hampir tidak tidur. Itu sudah biasa sejak dulu,” ujarnya.
Keinginannya untuk mondok sempat mendapat penolakan dari keluarga. Namun ia tetap berusaha hingga akhirnya diizinkan setelah menyelesaikan pendidikan di Muallimin Muallimat dan menuntaskan target hafalan Alquran.
Selama di sekolah, ia juga aktif dalam organisasi, bahkan pernah menjadi ketua OSIS dan MPS, yang membuatnya sempat menunda keinginannya untuk mondok lebih awal.
Baca Juga: Profil Tantri Kusuma Dewi, Guru SMKN 2 Jombang Cetak Siswa Juara Nasional Fashion
Ia juga menegaskan bahwa dukungan keluarga menjadi kekuatan utama dalam perjalanannya, baik dalam bentuk doa, dukungan moral, maupun materi.
Sebagai anak keempat dalam keluarga, Kuni kini memiliki dua target besar, yakni melanjutkan studi S2 dengan fokus penuh tanpa bekerja, serta meraih cita-cita menjadi pengusaha dan dosen. ”Sekarang ingin benar-benar fokus belajar. Dulu kuliah masih belum maksimal fokusnya. Bahkan jadwal kursus bahasa inggris saya saat ini 12 jam dalam sehari,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto