Radarjombang.id - DI BALIK gemerlap panggung pemilihan duta dan deretan piala olimpiade, ada kerja sunyi seorang guru yang tekun membimbing dari belakang layar. Aliefia Meta Duwairoh menjadi salah satu sosok di balik keberhasilan siswa-siswa SMAN Ngoro menorehkan prestasi, dari tingkat kabupaten hingga luar daerah.
Sejak 2023, ia dipercaya menjadi pembina OSIS sekaligus aktif mendampingi siswa dalam berbagai ajang bergengsi. Mulai Duta Anak, Duta Lingkungan, Duta Generasi Berencana (Genre), hingga Guk Yuk Jombang.
Tak hanya itu, ia juga membina olimpiade berbasis kimia dan farmasi.
Hasilnya impresif. Pada 2023 dan 2024, siswa binaannya meraih Wakil 1 Guk Yuk Jombang dan Guk Yuk Favorit 2024. Di ajang Duta Anak, torehan prestasi datang melalui Juara 1 Putra, Juara 2 Putri, dan Juara 4 Putra.
Tahun 2024 mencatat finalis Duta Genre. Berlanjut pada 2025, siswa bimbingannya meraih Juara Harapan 2 Genre serta meloloskan dua finalis.
Di bidang lingkungan, empat siswa lolos final Duta Lingkungan 2025 dengan satu di antaranya menyabet gelar juara. Prestasi lain yang tak kalah membanggakan adalah Wakil 4 Guk Yuk Jombang 2025 dan Guk Favorit 2025, serta Harapan 2 Olimpiade Farmasi di Universitas Jember pada 2024.
Menariknya, Meta mengaku tak memiliki latar belakang pengalaman di ajang duta saat masih sekolah.
Ketika pertama kali dipercaya membina, ia benar-benar belajar dari nol. Ia mempelajari berbagai ajang pageant, menonton rekaman kompetisi tingkat kabupaten hingga nasional untuk memahami pola seleksi, teknik menjawab pertanyaan, hingga isu-isu yang kerap diangkat di panggung final.
”Saya tidak punya pengalaman, jadi benar-benar belajar dari nol,” tegasnya.
Pendekatannya tak berhenti pada aspek teknis. Sebagai pembina generasi Z, ia sadar bahwa memahami dunia siswa adalah kunci.
Ia aktif mengikuti perkembangan media sosial seperti Instagram dan TikTok agar tetap relevan dengan percakapan remaja. ”Kita harus tahu apa yang mereka lihat dan bicarakan. Dari situ kita bisa masuk dengan bahasa mereka, tapi tetap ada batasan sebagai guru,” ujarnya.
Kedekatan itu membangun komunikasi yang cair. Banyak siswa merasa nyaman berdiskusi, bahkan berbagi persoalan pribadi.
Bagi Meta, membina bukan sekadar mengejar gelar juara, melainkan membentuk karakter, keberanian berbicara, dan kepekaan sosial. ”Beberapa anak juga sering curhat dengan saya, dengan memahami perkembangan media sosial, saya juga sering menyelipkan nasehat-nasehat, ngobrol juga semakin nyambung dengan siswa,” jelasnya. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto