Radarjombang.id - Di balik deretan prestasi akademik dan kepiawaian mengajar Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) serta bahasa Jepang, Risyalah Diwandini, memiliki sumber kekuatan utama , yakni keluarga.
Dukungan penuh dari suami dan anak-anak menjadi energi yang menggerakkan langkahnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
”Keluarga sangat men-support, terhadap karier saya, bahkan pendidikan saya,” ungkap ibu dua anak ini.
Risyalah kini telah berkeluarga. Ia menikah dengan Ahmad Saifi Muzaqi, dan dikaruniai dua orang anak, M Miqdam Multazam dan Mahira Huwaida. Meski memiliki peran ganda sebagai pendidik sekaligus ibu, Risyalah mampu menata waktu antara tugas profesional dan keluarga.
Sepulang sekolah, waktunya sepenuhnya dicurahkan untuk keluarga. Mulai dari mengurus kebutuhan anak-anak, memandikan, hingga mendampingi mereka belajar setelah maghrib. Namun, aktivitas tersebut tidak menghentikan semangat belajarnya. Di sela rutinitas sebagai ibu, Risyalah tetap menyempatkan diri mengulang dan memperdalam bahasa Jepang setiap hari.
Keseriusan itu dilakukan sebagai persiapan apabila proposal kerja sama yang sedang diajukan bersama MAN 4 Jombang disetujui, yakni mendatangkan Nihongo Partners (NP) dari Japan Foundation. Program tersebut menghadirkan guru bahasa Jepang langsung dari Jepang untuk mengajar di sekolah.
Jika terealisasi, Risyalah akan menjadi pendamping utama karena seluruh komunikasi akan menggunakan bahasa Jepang. ”Kalau nanti ada orang Jepang yang langsung mengajar di sini, tentu pembelajaran bahasa Jepang akan jauh lebih maju. Maka dari itu, saya juga harus mempersiapkan kemampuan bahasa Jepang saya sebaik mungkin,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, Risyalah juga memiliki rencana besar dalam pengembangan akademik. Ia berencana melanjutkan studi S3 sekitar tahun 2027 dengan fokus linier pada Manajemen Pendidikan Islam. Selain itu, ia juga bercita-cita menempuh S1 kembali khusus di bidang bahasa Jepang, kuliah Bahasa Jepang merupakan impian yang telah tumbuh sejak masa aliyah, namun sempat tertunda karena berbagai kondisi.
Baginya, pendidikan bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan investasi jangka panjang untuk keluarga. Ia meyakini bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Karena itu, ia merasa perlu memulai dari dirinya sendiri. ”Kalau saya tidak membekali diri dengan pendidikan yang baik, bagaimana saya bisa menuntun anak-anak agar punya background akademik yang bagus. Maka saya mulai dari diri saya sendiri. Belajar setinggi-tingginya dan sebanyak-banyaknya agar bisa memberi contoh,” ungkapnya.
Semangat tersebut mendapatkan dukungan penuh dari keluarga, terutama sang suami. Bahkan, Ahmad Saifi Muzaqi justru menjadi motivator utama agar Risyalah terus melangkah.
”Suami saya selalu menyemangati. Katanya mumpung masih muda, anak-anak masih kecil, tenaga masih ekstra, justru harus dimanfaatkan untuk belajar,” tuturnya. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto