Radarjombang.id — Ketulusan dan semangat juang seorang guru bisa menjadi jembatan kesuksesan bagi para siswanya.
Hal itulah yang dibuktikan Dita Alfatana, S.Pd, guru sekaligus pembina lomba di SMKN 3 Jombang, yang sukses mengantarkan banyak siswanya meraih golden ticket masuk perguruan tinggi negeri (PTN) impian melalui jalur prestasi lomba.
Perempuan kelahiran Sidoarjo, 18 Desember 1992 ini tinggal di Dusun Jampirogo, Desa Mentaos, Kecamatan Gudo. Sejak kecil, Dita sudah akrab dengan dunia teknik dan bangunan. ”Orang tua saya bekerja di bidang bangunan, jadi saya diarahkan ke jurusan yang berhubungan dengan itu,” kenangnya.
Lulusan SMKN 3 Jombang jurusan Teknik Gambar Bangunan yang kini dikenal dengan Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan (DPIB) itu melanjutkan pendidikan ke Universitas Negeri Malang (UM) dan lulus tahun 2015 dari jurusan Pendidikan Teknik Bangunan.
Setahun kemudian, Dita kembali ke almamaternya sebagai pengajar. Sejak 2016, ia bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga aktif menjadi pembina lomba di sekolah. Semangat itu tumbuh karena ia sendiri dulunya merupakan siswa aktif dalam berbagai kompetisi. ”Dulu pembina saya Bu Erna Kusrini, sekarang beliau sudah jadi kepala sekolah di SMKN Kudu. Dari beliau saya belajar bahwa lomba itu bukan soal menang atau kalah, tapi tentang proses belajar,” tutur Dita.
Perjalanan menjadi pembina lomba tidak selalu mulus. ”Awalnya saya bimbing lomba karya tulis. Tahun pertama cuma masuk 10 besar. Tapi dua tahun kemudian, setelah belajar dari pengalaman, akhirnya tembus juara 2,” ujarnya bangga.
Tantangan makin besar saat Dita dipercaya membimbing Lomba Kompetensi Siswa (LKS). Ia sempat khawatir karena kepala sekolah saat itu menekankan pentingnya hasil juara. ”Tapi dari situ justru jadi motivasi besar bagi saya dan anak-anak. Kami jadi semangat dan akhirnya aktif ikut lomba setiap tahun,” katanya.
Kini, Dita juga menjadi pembina ekstrakurikuler Civil Engineering Basecamp di sekolahnya. Ia dikenal dekat dengan para siswa.
”Saya selalu berusaha memposisikan diri bukan sebagai guru, tapi sebagai kakak tingkat. Saya sering bilang ke mereka, saya dulu juga peserta lomba, jadi mereka lebih semangat ikut,” ujarnya sambil tersenyum.
Bagi Dita, lomba bukan sekadar ajang bergengsi, tapi juga investasi masa depan. Ia kerap menekankan kepada siswanya bahwa sertifikat lomba bisa menjadi jalan emas menuju PTN. ”Waktu saya kuliah, saya bisa masuk PTN lebih mudah karena punya sertifikat. Jadi bisa lewat jalur prestasi,” jelasnya.
Dita pun selalu mengarahkan anak bimbingannya untuk ikut lomba yang diselenggarakan oleh PTN agar sertifikatnya bisa dimanfaatkan.
”Target saya, anak-anak bisa kuliah di PTN yang mereka impikan lewat jalur prestasi. Dan alhamdulillah, hampir setiap tahun ada yang dapat golden ticket di Polinema, ITS, Hingga Universitas Diponegoro,” ungkapnya bangga.
Kini, setelah diangkat menjadi PPPK tahun 2025, Dita semakin mantap mengabdi di dunia pendidikan. Baginya, mengajar bukan sekadar profesi, tapi panggilan hati. ”Kalau sudah nyemplung, ya harus berenang sekalian. Saya nikmati setiap prosesnya,” jelasnya.
Perempuan Harus Punya Kemauan untuk Terus Maju
Di tengah kesibukan sebagai guru sekaligus pembina lomba di SMKN 3 Jombang, Dita Alfatana, S.Pd tak berhenti mengasah diri. Baginya perempuan harus terus mengasah diri dan punya kemauan kuat untuk terus maju.
Setiap harinya, Dita membagi waktu dengan disiplin.
”Kalau di sekolah, saya fokus pada pekerjaan di sekolah. Kalau sudah di rumah, saya fokus dengan kegiatan rumah tangga,” ujarnya. Meski begitu, aktivitasnya tidak bisa dibilang ringan. Hampir setiap hari ia pulang sore, bahkan sering kali baru tiba di rumah sekitar pukul setengah tujuh malam. ”Kalau ada event, kadang bisa sampai jam delapan atau sembilan malam,” tambahnya.
Selain menjadi pembina lomba, Dita juga dipercaya sebagai bendahara bengkel Teknologi Konstruksi Perumahan. Tanggung jawab ganda itu ia jalani dengan penuh dedikasi. Di sela kesibukannya, ia tetap aktif mengikuti kegiatan keagamaan dan pengajian di lingkungan tempat tinggalnya, layaknya ibu rumah tangga pada umumnya.
Namun, di balik kesibukannya, Dita menyimpan cerita tentang perjuangan pribadi. Ia menjalani hubungan jarak jauh (LDR) dengan sang suami, Eko Prasstyo, S.Pd, yang bekerja di Kalimantan Timur di bidang pertambangan.
”Memang tidak mudah, tapi saya dan suami saling mendukung. Kuncinya komunikasi dan saling percaya,” katanya.
Prinsip hidup yang ia pegang menjadi sumber kekuatannya dalam menghadapi setiap tantangan. ”Saya orangnya tidak suka diremehkan. Tapi sekali diremehkan, itu justru jadi motivasi besar untuk saya terus berkembang,” tegasnya.
Meski saat ini Dita belum berencana melanjutkan studi ke jenjang S2, bukan berarti ia berhenti belajar. Ia memilih jalur upgrade diri melalui pendidikan informal. ”Saya masih punya rencana lain yang butuh waktu tenang.
Baca Juga: Tak Hanya Pandai Mengajar, Guru SMAN 2 Jombang Ini Juga Menyelami Filsafat dan Psikologi Hidup
Tapi saya tetap belajar, mengikuti perkembangan kurikulum terbaru, dan sering berkomunikasi dengan alumni. Bahkan kami sering mengadakan acara di sekolah yang melibatkan alumni untuk berbagi ilmu baru sesuai bidangnya,” jelasnya. Baginya, pendidikan tidak harus selalu formal. ”Belajar bisa dari mana saja, terutama dari pengalaman dan interaksi dengan orang lain. Yang penting ada kemauan untuk terus maju,” tutur Dita penuh keyakinan. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto