Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Tak Paksa Anaknya Jadi Guru Ida Inayahwati Bekali Anak Dengan Amalan dan Bekal Khusus untuk Hidup

Wenny Rosalina • Minggu, 27 Juli 2025 | 20:58 WIB
Dra Ida Inayahwati MPdI bersama suami dan keempat anaknya
Dra Ida Inayahwati MPdI bersama suami dan keempat anaknya

RadarJombang.id - Ida Inayahwati tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk menjalani profesi seperti dirinya sebagai guru.

Pesannya hanya satu, mengamalkan ilmu yang dimiliki di jalan apapun. Ida juga membangun karakter keempat buah hatinya dengan akhlak yang baik, diimbangi dengan doa, sedekah dan Fatihah untuk setiap anak.

Dalam mendampingi anak-anaknya, Ida memiliki tirakat khusus. Ia rutin membaca surat Al-Fatihah sebanyak 11 kali untuk setiap anak setiap selesai salat.

’’Empat anak, berarti 44 kali. Kenapa 11? Karena ganjil saja,’’ ujarnya.

Selain Fatihah sebanyak 11 kali, ia juga rutin bersedekah. ’’Untuk saya, suami, dan anak-anak. Agar kami sehat, dijauhkan dari keburukan dunia, dan anak-anak tumbuh dengan akhlak mulia. Hasilnya kami serahkan pada Allah, karena ini hanya ikhtiar manusia,’’ tuturnya.

Ida dan Drs H Abdul Haris LC, suaminya, sepakat untuk tidak pernah memaksakan kehendak dalam mendidik.

Orang tua hanya bertugas mengarahkan, seperti pendidikan pondok pesantren, ia hanya memberikan gambaran bagaimana tinggal di pesantren, apa saja yang didapatkan, dan manfaat untuk kehidupan ke depan.

Selebihnya, ia memberikan kesempatan untuk keempat anaknya memutuskan sendiri. ’’Alhamdulillah semuanya mau mondok,’’ katanya.

Anak pertama Fena, kini mengajar di MA UWH Tambakberas. Anak kedua Ziyad, sudah lulus kuliah tapi masih tinggal di pondok pesantren.

Anak ketiganya Anil masih kuliah semester tujuh di Unesa. Si bungsu Talita masih kelas 2 MA dan tinggal di pondok pesantren.

Pendidikan di pondok pesantren menurutnya sangat penting. Sehingga ia tekankan kepada sang anak.

Salah satu manfaatnya yaitu mengajarkan anak agar lebih mandiri, belajar adab, memperkuat iman, dan mengajarkan kehidupan bermasyarakat dari sisi keagamaan.

Baginya, pendidikan agama dan akhlak lebih utama dibanding pelajaran umum. ’’Kalau agama dan adabnya kuat, pelajaran umum tinggal mengikuti. Karena yang paling penting, anak tahu bagaimana bersikap kepada guru, orang tua, dan masyarakat,’’ imbuhnya.

Dalam hal profesi, ia hanya berpesan agar mereka jadi orang yang bermanfaat, bisa mengamalkan ilmunya. ’’Tidak harus mengajar. Yang penting manfaat,’’ ungkapnya.

Ida dan suaminya kompak mendidik anak-anak dengan nilai-nilai agama yang kuat, tanpa menargetkan dunia.

’’Kalau dapat dunia ya itu bonus dari Allah. Semua ini titipan, dan pasti akan kembali kepada-Nya juga,’’ ucapnya lirih.

Kini, di usia 56 tahun, Ida tak muluk-muluk soal mimpi. ’’Saya hanya ingin di sisa usia ini, tetap punya karya. Tetap menulis, selama masih diberi sehat dan waktu,’’ ucapnya, tersenyum.

Dengan sederet karya buku dan dedikasi pada pendidikan, Ida Inayahwati adalah contoh nyata bahwa guru bukan hanya mengajar di kelas, tapi juga mendidik lewat tulisan dan keteladanan di rumah. (wen/jif)

 

Editor : Achmad RW
#anak #bekal #khusus #amalan #Guru #Jombang #penulis buku