RadarJombang.id - Setelah lulus S1, Iis Makhisoh langsung melanjutkan kuliah S2 di Universitas Sunan Ampel Surabaya (UINSA) jurusan Pendidikan Bahasa Arab.
Saat ini, guru yang juga menjadi dosen ini juga ingin melanjutkan program doktor.
”Saya 2010 lulus S1, lanjut S2 lulus 2012 masih IAIN, saya sangat ingin lanjut S3, masih gantian dengan suami karena beliau awal tahun ini baru wisuda S3 juga,” ungkap istri Dr Abdul Rouf Hasbullah, M.Pd.I tersebut.
Sejak dulu, Iis semangat belajar dan mengikuti banyak kompetisi untuk mengisi waktu agar tak jenuh.
Sebab, setiap kompetisi pasti ada hal baru yang dapat dipelajari. Namun sekarang motivasinya dalam belajar sederhana, yaitu bisa tersenyum jika mengingat masa lalu suatu saat nanti.
”Saya cuma ingin merajut hari, hingga saya besok kalau mengingat ke belakang sambil tersenyum, mengingat hari-hari yang sudah dilewati sambil tersenyum,” harapnya.
Sejak 2010 sampai sekarang, ia mengajar sebagai guru Bahasa Arab di MAN 3 Jombang.
Ia juga pernah menjadi kepala Lab Bahasa 2012-2014, dan kini menjadi anggota tim BPMO (Bimbingan Pemantapan Materi Olimpiade).
Selain bertanggung jawab membimbing tim Bahasa Arab, juga membimbing materi integrasi tim mapel Sains KSM.
Ia juga pernah menjadi Dosen Luar Biasa LBB STAIN Kediri 2013-2015. Dan sejak 2014 sampai sekarang menjadi dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab STAI At Tahdzib Ngoro.
Ibu tiga anak ini mengaku selalu penasaran di mana posisinya di antara orang-orang terbaik dalam satu kompetisi.
”Selalu ingin tahu di mana tempat kita di antara orang-orang terbaik, kalau belum menang oke harus improve, kalau sudah dapat pasti mikir apa lagi ya, cari tantangan lain,” jelasnya.
Tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, ia juga belajar untuk ketiga anaknya, Achmad Dirfas Salim Hamidi, Aizza Rifah Hamidah, dan Nur Jannati Hamidah. Ia selalu mendukung bakat dan minat anak-anaknya.
Ia tak memaksa ketiganya untuk belajar di bidang yang sama seperti dirinya. Yang ia tekankan adalah keseriusan.
Mengerti waktu belajar, waktu bermain, dan mengajarkan bertanggung jawab atas diri sendiri.
”Kebetulan anak pertama dan kedua lebih senang ke bidang seni, ngikut ayahnya karena ayahnya juara MTQ Korpri Nasional,” terangnya.
Pendidikan agama menjadi yang paling penting di lingkungan keluarga Iis. Belum muluk-muluk mengajarkan berbagai kitab, namun menanamkan kebiasaan yang positif tentang ibadah sehari-hari.
Seperti membangunkan ketiganya sebelum salat Subuh, membiasakan salat Subuh jamaah, murojaah Alquran dan hafalan. Kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan pekerjaan rumah.
”Karena anak-anak masih kecil, paling besar 10 tahun, jadi yang paling ditekankan yaitu pembiasaan positif saja,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Achmad RW