Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Ikuti Saran Orang Tua, Begini Cerita Dr Kiswati Guru Madrasah Asal Jombang yang Kecanduan Belajar

Wenny Rosalina • Rabu, 14 Mei 2025 | 12:29 WIB
Dr. Kiswati, BBA, S.Ag., S.Pd., M.Pd
Dr. Kiswati, BBA, S.Ag., S.Pd., M.Pd

Radarjombang.id - Pembelajar sepanjang hayat, begitu menurut Dr. Kiswati, BBA, S.Ag., S.Pd., M.Pd, guru Bahasa Inggris MAN 5 Jombang.

Ilmu baginya adalah candu. Meski sudah menyelesaikan program doktoralnya di Univeritas Negeri Malang, Doktor Kiswati masih semangat belajar, bahkan kini menjadi salah satu pegiat literasi di madrasah tempatnya mengajar.

Kiswati lahir di Malang pada 18 Februari 1978. Ia memulai pendidikan dasarnya di SDN Ngoro 3, kemudian melanjutkan ke SMPN 1 Ngoro, lalu di SMAN Ngoro.

Setelah tamat SMA, ia menuruti saran kedua orang tuanya melanjutkan kuliah S1 IKAHA (sekarang Unhasy) Tebuireng Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), dan lulus tahun 1999. Sambil menempuh kuliah, Kiswati muda sudah mengabdi di sekolah.

”Semester 5, saya sudah mengajar di sejumlah sekolah, di SMK Sultan Agung Tebuireng, juga di MA Maarif Ngoro, juga SDN Badang 1 Ngoro,” terangnya.

Sembari menyelesaikan skripsi, ia mendaftar kuliah D1 di SOB Malang pada jurusan International Business Administration.

Setelah tamat D1, ia melanjutkan sampai D3 di Distance Learning Institutedengan jurusan yang sama.

Meski lulusan sarjana PAI, Kiswati justru mengajar Bahasa Inggris.

Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan saat Kemenag membuka kesempatan untuk kuliah di jurusan yang linier dengan mata pelajaran yang ia ampu dengan beasiswa.

”Kebetulan sejak SMA saya selalu suka bahasa Inggis,” jelasnya.

Kiswati kemudian kuliah S1 lagi di Universitas Muhammadiyah Malang pada jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, dan lulus tahun 2003.

Ia kemudian lulus seleksi CPNS di MAN 5 Jombang, dan diangkat menjadi PNS per 1 November 2006.

Minat belajarnya terus menggebu, apalagi belajar dengan beasiswa, ia merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Bisa dapat ilmu yang banyak, dengan biaya dan uang saku dari pemerintah. Ia melanjutkan kuliah S2 di Universitas Negeri Malang jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, dan lulus 2011.

”Sebetulnya sejak 2006 kesempatan itu ada, tapi saya gagal di percobaan pertama. Pada 2007 ada lagi programnya tapi saya tidak ikut karena baru melahirkan, 2008 programnya tidak ada, 2009 ada lagi saya ikut dan lolos,” jelasnya.

Tahun 2018, ia mendapatkan informasi Kemenag yang memiliki program 5.000 doktor, bagaikan angin segar baginya.

Ia langsung terbayang betapa nikmatnya mencari ilmu dengan orang-orang hebat. Ia mencoba dan berhasil lulus.

”Tapi beasiswa tidak dapat, karena saat itu untuk guru kuotanya hanya 14 se-nasional, jadi tetap saya terima, meski dengan biaya mandiri,” jelasnya.

Dukungan dari keluarga hingga kepala Kemenag Jombang yang menjabat saat itu, yaitu Abdul Haris membuat tekadnya bulat menempuh jenjang S3.

Ia akhirnya kuliah S3 di Universitas Negeri Malang jurusan Teknologi Pembelajaran dan lulus pada 2023.

Sambil kuliah, ia juga masih tetap bisa mengajar, meski harus berjuang pulang pergi Jombang-Malang.

”Oleh para pimpinan saya disarankan tetap lanjut S3, meski dengan biaya mandiri, awalnya saya pinjam koperasi Rp 10 juta untuk bayar kuliah, ada hikmahnya, saya tetap bisa mengajar, sehingga tunjangan saya bisa tetap cair untuk biaya kuliah,” katanya.

Ia menemukan banyak cinta ketika S3, tidak ada saling bersaing seperti S1 dulu.

Menurutnya, semakin tinggi ilmu seseorang, maka ilmu padi akan semakin terasa.

”Dua profesor saya, itu sangat baik, saingan baik, saya menemukan banyak cinta, ilmu padi profesor sangat terasa,” jelasnya.

Saat kuliah, ia harus pandai membagi waktu, antara keluarga, mengajar, dan belajar. Setiap ada jam kuliah, ia harus ke madrasah dulu, baru kemudian berangkat ke Malang naik motor.

Pernah suatu ketika ia terlambat 15 menit karena harus terlebih dahulu mengajar.

”Orang tua sangat mendukung saya mengajar, bahkan saat itu pernah profesor saya yang minta maaf karena sudah mulai duluan sebelum saya datang,” kenangnya.

Dalam menempuh pendidikan, ia bisa sukses karena dukungan keluarga.

Utamanya suaminya juga sangat mendukung karena sama-sama suka belajar. ”Saya dan mendiang suami itu sama-sama pemburu beasiswa,” ungkapnya.

Ia juga selalu mengingat pesan suaminya untuk terus memanfaatkan ilmunya untuk orang lain.

”Saya didukung untuk ganti profesi, tapi tidak untuk menjadi pimpinan, tapi menjadi pengawas, agar ilmu saya tetap bermanfaat kepada sesama guru lain,” jelasnya. (wen/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#belajar #kecanduan #wanita #Guru #Jombang #karir #Kemenag Jombang #MAn 5 Jombang