JOMBANG - Lebih dari bertugas untuk mentransfer ilmu. Guru bagi Sri Wilujeng adalah ibu yang harus mendidik siswa seperti anak sendiri.
Ikhlas dan sabar menjadi kunci utama agar ilmu masuk dan bermanfaat untuk siswa.
”Kuncinya cuma ikhlas dan sabar, mendidik siswa sama seperti mendidik anak sendiri, kita adalah ibu bagi mereka jika di sekolah,” kata Sri Wilujeng, guru SMAN Bandarkedungmulyo.
Baginya, keikhlasan guru dalam mengajar adalah hal yang paling utama agar ilmu yang diajarkan dapat masuk dan bermanfaat untuk siswa.
Untuk mencapai target pembelajaran dari guru, ilmu dan teori yang diberikan harus diimbangi dengan keikhlasan.
”Mengajar dengan penuh kesabaran kelemahlembutan, dengan penuh kasih sayang, bagi saya itu lebih mengena ke siswa,” kata guru PAI ini.
Untuk mencairkan suasana, Sri tak langsung mengajar ketika masuk dalam kelas.
Sri akan memastikan dulu, seluruh siswa ada di kelas, yang absen siapa saja, dan karena apa juga harus jelas.
”Kemudian saya harus memastikan kondisi mereka sedang sehat, dan baik-baik saja,” katanya.
Kemudian ia mengulas sedikit materi yang sebelumnya ia sampaikan dan membuka sesi tanya jawab di awal.
”Ya barangkali kemarin belum sempat bertanya karena waktunya habis, saya beri waktu untuk bertanya,” katanya.
Baca Juga: Luis Ardiana: Pahami Karakter Siswa Agar Belajar Lebih Nyaman
Tidak hanya memberikan materi PAI yang ia ajarkan. Sebagai ibu bagi siswa, Sri juga sering kali memberikan bekal kepada siswa untuk membentengi diri dalam bermedia sosial.
”Cara membentengi diri dari perkembangan zaman utamanya melalui media sosial, saya minta anak-anak untuk terus mencintai kearifan lokal dan mempertebal aqidah,” jelasnya.
Kepada kepada para siswi SMAN Bandarkedungmulyo, Sri menjadi salah satu guru yang paling cerewet dalam hal berpakaian.
Ia meminta agar siswa perempuan tak berpakaian ketat baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Hingga detail rambut yang ditutup dengan kedrudung, harus ditutup sempurna.
”Jangan sampai terlihat, meskipun sedikit, di belakang, biasanya ada kan yang begitu, itu yang terus saya ingatkan,” katanya.
Bullying yang kini marak terjadi di lingkungan sekolah, ia juga tak lelah memberikan pertuah-petuah untuk siswa.
Seperti dengan cara saling menghargai dengan sesama teman. Tidak ada saling bully baik secara verbal maupun non verbal.
Menurutnya, siswa itu sangat berharga bagi seorang guru, semuanya tidak ada beda, harus saling menghargai satu sama lain, banyak bersyukur untuk bisa saling menghargai.
"Hingga timbul kasih sayang, agar tidak sedikit-sedikit tersinggung bentrok, tersinggung bentrok, itu tidak akan terjadi jika kita saling menghargai,” katanya.
Ketika berada di sekolah, ia totalitas mengajar. Ia berprinsip, jika dirinya mampu memberikan kasih sayang bagi siswanya, maka anak-anaknya yang sedang belajar juga akan mendapatkan kasih sayang yang sama dari guru-gurunya.
”Karena hidup adalah timbal balik. Saya berusaha untuk berbuat baik kepada semua siswa agar anak-anak juga mendapatkan perlakuan yang sama dari gurunya,” kata ibu dua anak ini. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW