Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Yayank Noerita, Guru Wanita yang Smart dan Suka Berorganisasi

Wenny Rosalina • Rabu, 27 September 2023 | 14:10 WIB
Yayank Noerita, guru Sosiologi SMAN Ploso
Yayank Noerita, guru Sosiologi SMAN Ploso

JOMBANG – Terbiasa berorganisasi sejak masih duduk di bangku sekolah, membuat Yayank Noerita mengembangkan dirinya di luar kegiatannya menjadi guru.

Salah satunya aktif dalam program Ibu Penggerak. Selain menambah teman, melalui kegiatan Ibu Penggerak ia banyak mendapatkan pengalaman dan wawasan baru di luar sekolah.

”Saya memang sejak dulu terbiasa aktif di organisasi-organisasi,” kata Yayank Noerita, guru Sosiologi SMAN Ploso.

Ia aktif di organisasi sejak masih duduk di bangku SMPN 1 Gudo. Saat itu, ia menjadi salah satu anggota OSIS.

Setelah itu, ia aktif di ekstrakurikuler PMR SMAN 3 Jombang. Ia menyebutkan, kesibukan PMR tidak terlalu padat, seperti OSIS.

”Sebetulnya pengen ikut OSIS juga, tapi kendala jarak, kalau OSIS kan sibuk sekali, sedangkan jarak rumah jauh, jadi ikut yang PMR saja,” kata wanita yang lahir di Bantul, 11 februari 1993 tersebut.

Setelah tamat SMA, ia kuliah di Yogyakarta. Di sana ia menempuh pendidikan S1 Pendidikan Sosiologi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Ia juga aktif di organisasi mahasiswa. Yang membanggakan, Ia dinobatkan sebagai lulusan terbaik jurusan Pendidikan Sosiologi UNY pada wisuda Mei 2015 lalu.

Selama tinggal di rumah saudaranya, ia juga aktif di kegiatan karang taruna desa. Kesibukannya semakin bertambah.

”Apalagi karang taruna di desa itu kegiatannya lumayan banyak. Sudah seperti EO, karena mengatur kegiatan hajatan warga, ngajar TPQ, mengelola sampah dan lain sebagainya,” jelasnya.

Lulus kuliah, wanita yang kini tinggal di Dusun Pojok RT 03, RW 03, Desa Plumbongambang, Kecamatan Gudo ini sempat kursus bahasa Inggris di Pare.

”Lulus kuliah tidak ada kegiatan, stres saya. Akhirnya saya ke Pare. Lalu dapat panggilan mengajar di Ponpes Tambakberas. Tapi tidak lama, hanya setahun,” katanya. Sembari mengajar di Tambakberas, ia juga mengajar di SMAN Ngoro.

Setelah menikah dan memiliki anak, ia kembali aktif berorganisasi, dengan mengikuti komunitas ibu-ibu.

Seperti komunitas gendongan, komunitas menyusui. ”Bahkan dulu saya sebagai admin, lumayan sibuk juga, mengedukasi masyarakat luas,” jelasnya. 

Setelah anak-anak tumbuh besar, ia tak lagi aktif dalam kegiatan komunitas ibu-ibu tersebut.

Tahun lalu, bergabung menjadi Ibu Penggerak, salah satu program dari Kemendikbudristek. Di dalamnya berisi ibu-ibu dari berbagai profesi.

”Meski saya sendiri sebagai guru, saya justru masih belum tertarik dengan Guru Penggerak, lebih tertarik dengan Ibu Penggerak,” katanya.

Melalui komunitas-komunitas yang ia ikuti, ia banyak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang berharga.

Misal, mengenai cara belajar, cara mengajar, hingga cara mendidik anak. Dalam mengajar, ia suka belajar dengan cara yang menyenangkan.

Dari komunitas yang diisi banyak profesi tersebut, ia juga aktif untuk sharing.

”Saya suka media pembelajaran yang menyenangkan, memang sejak dulu begitu. Awal-awal mengajar sering dibikin nangis sama siswa sendiri, karena mereka tidak menerima cara mengajar saya yang saya kemas yang menyenangkan, seperti game, tapi lama kelamaan, metode yang saya pakai jauh sebelum Kurikulum Merdeka ada itu, kini dilakukan banyak orang,” ungkapnya. (wen/naz/riz)

Editor : Achmad RW
#wanita #Guru #Jombang #SMAN Ploso