JOMBANG - Mengajar di jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, Neutrina Nilamsari SPd dituntut menjadi guru yang aktif dan kreatif.
Sebagai guru milenial, Nilamsari juga harus mengikuti cara belajar Gen Z yang kini lebih banyak berinteraksi dengan smartphone dan media sosial dibandingkan dengan buku.
”Karena selama pembelajaran mereka tidak bisa lepas dari HP, saya yang harus mengubah cara mengajar saya agar mereka tetap belajar dengan HPnya,” kata guru SMKN Gudo ini.
Guru harus pandai dalam melihat situasi dan kegemaran siswa zaman sekarang. Jika siswa lebih banyak berinteraksi dengan HP, Neutrina yang mengubah cara belajarnya.
Ia, mulai mengurangi mengajar dengan metode ceramah, materi lebih banyak disampaikan dengan game di smartphone.
”Jadi mereka tetap bisa main HP, tapi sambil belajar, saya yang harus mengubah mindset saya, jika HP bukan penghambat belajar, tapi justru pendukung belajar siswa,” jelasnya.
Ia menilai, kecenderungan siswa dengan HP memiliki dampak positif yang lebih banyak. Yaitu cepat dalam menangkap materi perkembangan teknologi.
”Mereka cepat dalam penggunaan teknologi, hasil praktik juga saya minta dituangkan dalam bentuk sesuai dengan minat mereka. Wah itu beragam sekali, ada yang bentuk video, presentasi, dan lain sebagainya, itu malah hasilnya bagus-bagus sekali,” jelasnya.
Wanita asal Desa Banaran, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, yang kini tinggal di Dusun Jambu, Desa Jabon, Kecamatan Jombang tersebut bisa dikatakan sebagai wanita yang beruntung.
Setelah lulus dari Universitas Negeri Yogyakarta jurusan Pendidikan Teknik Informatika 2014, ia langsung mendaftar CPNS pada 2015. Pertama kali mendaftar, ia langsung diterima.
Risikonya, formasi yang sesuai dengan pendidikannya hanya ada di luar Madiun, yaitu Kabupaten Jombang, Lamongan, dan wilayah yang lebih jauh. ”Saya pilih yang lebih dekat dengan Madiun, yaitu Jombang,” katanya.
Kuliah di Yogyakarta, magang mengajar di Yogyakarta juga, ia terbiasa berhadpan dengan orang yang kalem tutur katanya.
Masuk di Jombang, ia mengaku sering menangis saat awal-awal mengajar, karena kultur dan logat bicara yang lebih kasar.
”Sebelumnya saya tidak pernah jadi GTT, tidak pernah mengajar, tiba-tiba masuk SMK, dan siswa teknik, wah kaget saya, sering nangis, tapi setelah saya selami satu per satu karakter, sekarang saya merasa mengajar tidak hanya bagian dari pekerjaan saya, tapi juga hiburan,” jelasnya.
Neutrina kategori guru yang suka belajar. Apalagi adanya program guru penggerak, ia rasa sebagai guru harus terus update ilmu dan informasi dengan program-program yang diadakan pemerintah.
Pada program guru penggerak angkatan kelima, ia merasa masih belum tertarik, namun karena rasa ingin belajarnya tinggi, pada angkatan ketujuh, ia mendaftar dan langsung lolos. Sekarang ia sudah dinyatakan lulus dengan predikat amat baik.
”Saya awal mendaftar hanya ingin belajar. Saya percaya bahwa yang namanya guru harus terus belajar, guru harus update teknologi sesuai dengan perkembangan zaman. Saya ambil kesempatan ini untuk belajar,” ungkap anak kedua dari empat bersaudara tersebut.
Setelah mengikuti pendidikan selama sembilan bulan, ia merasakan manfaat yang lebih banyak dari yang ia pikirkan. Termasuk cara berfikir.
Dulu sebelum ikut pendidikan guru penggerak, ia menilai siswa bagaikan selembar kertas kosong yang bisa diisi apa pun sesuai dengan kehendak guru, membentuk karakter sesuai keinginan guru.
”Terlepas dari sebuah pendidikan, siswa adalah manusia yang memiliki karakter bawaan, ada karakter positif dan karakter negatif. Tugas guru adalah menonjolkan karakter positifnya dan menyamarkan karakter negatifnya,” ungkapnya.
Pedoman itu ia gunakan dalam mengajar. Jika dulu sebagai guru ia selalu ingin didengar, kini ia yang harus bisa memahami siswa, bahkan dalam mengambil keputusan, ia melibatkan siswa, cara belajar juga dibuat sesuai dengan kesepakatan siswa.
”Dulu misal ada anak terlambat kita beri hukuman, kalau sekarang kita beri kesempatan mereka untuk memberikan alasan, di situ malah saya kadang justru timbul empati. Tapi itu tak lantas memaklumi kesalahan mereka,” jelasnya.
Dalam pelatihan guru penggerak juga diajarkan tentang manajemen sekolah. Sebab, guru penggerak diproyeksikan untuk menjadi kepala sekolah. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW