JOMBANG - Umi Ida, begitu ia akrab disapa, merupakan gambaran seorang perempuan yang multitalent. Menurut ibu tiga anak ini, terlepas dari sosoknya yang merupakan salah satu pengasuh pondok pesantren di Jombang, perempuan memang dituntut untuk serbabisa.
”Saya lebih senang jika menyebut sosok wanita itu perempuan. Perempuan harus serbabisa, harus banyak menguasai berbagai keterampilan dan ilmu pengetahuan hingga detail-detail kecil yang tidak dijangkau laki-laki. Wanita itu sangat rinci, rapi, tuntas,” kata mertua dua menantu tersebut.
Wanita yang lahir di Jombang, 11 November 1967 tersebut memulai harinya dengan ibadah malam. Selain menjadi ibu bagi tiga anaknya, Ida juga ibu dari ratusan santri yang bermukim di La Raiba Hanifida.
Dengan telaten, ia membangunkan pengurus, untuk kemudian menunaikan ibadah salat malam dan zikir salawat bersama santri.
Masih berkutat dengan kegiatan ibu rumah tangga pada umumnya, meski telah memiliki banyak santri dan banyak ART untuk mengurus kebutuhan rumah tangga, namun semua ia handle sendiri.
Beberapa di antaranya seperti memasak, mencuci, menyetrika hingga membersihkan toilet tak jarang masih ia lakukan sendiri.
Tangan dinginnya juga mampu membuat pondok yang berada di tengah pemukiman warga tersebut menjadi pondok yang hijau.
Ia menanam berbagai macam sayuran, mulai kangkung, bayam, kacang panjang, jagung, dan berbagai macam buah, kelengkeng, mangga,jambu air, jambu isi, pisang, dan lain sebagainya.
”Pisang itu tidak pernah beli, mangga ada 10 jenis, rambutan, alpukat, duren, matoa, juwed, sirsak,manggis, kelengkeng dengan berbagai jenis, alhamdulillah berbuah semua.Senang melihatnya. Sekarang yang di depan rumah sedang saya tanami tanaman dan bunga-bunga. Di sini tanahnya subur sekali, jadi sayang kalau tidak ditanami.Lagi pula hasil tanaman kami lebih sehat dan lebih segar,karena tanpa pengaruh zat kimia,” jelasnya.
Di tengah kesibukannya sebagai seorang pengasuh, ia juga masih mengajar di Unhasy, juga sebagai kaprodi PAI pasca sarjana. Menurutnya, wanita sangat penting memiliki pendidikan yang tinggi, utamanya pendidikan agama.
Sebab, wanita merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ilmu agama bisa didapatkan dari mana saja. Bisa dari pesantren, melalui pengajian-pengajian, dan perkumpulan yang positif yang membuat ilmu semakin bertambah.
Sebagai sosok ibu, tugasnya tidak hanya merawat dan membesarkan anak-anaknya saja. Namun juga dibarengi dengan tirakat untuk anak-anaknya.
Misal Membacakan masing-masing anak 41x Fatihah setiap hari. Untuk masing-masing anak, kemudian untuk santri , untuk guru-guru dan untuk Hanifida secara keseluruhan, setiap hari saya lakukan,” jelasnya.
Tidak hanya Fatihah dan doa di setiap salat, tapi juga melakukan tirakat dengan puasa. Ia rutin puasa Senin-Kamis, juga melakukan puasa pada hari ulang tahun, dan tiga hari berturut-turut pada setiap tanggal 13, 14, dan 15 penanggalan Hijriah, dan 1.000 salawat.
”Kalau wetonnya, dibancaki dengan jajan pasar tujuh macam, yang di dalamnya ada isinya, seperti onde-onde, pastel basah,” jelasnya.
Tugas wanita sangat penting dalam rumah tangga, mendoakan anak, mengasuh anak sekaligus santri. Wanita juga yang memperhatikan detail-detail kecil dalam rumah tangga.
Dapur misalnya, meski sudah disibukkan dengan kegiatan pondok dan kampus, Ida masih memperhatikan sendiri berbagai kebutuhan terkait kebutuhan dapur, kebutuhan bangunan,kebutuhan koperasi guru dan santri, kebutuhan alat-alat tulis,kebutuhan cetak buku,kebutuhan shooting video kreativitas santri,kebutuhan training dan seterusnya.
”Hebatnya wanita di situ, laki-laki hanya bisa berfikir global, sedangkan perempuan berfikir dan beraktifitas global dan rinci. Misalnya bumbu dapur seperti garam, gula, kopi, teh, laki-laki tidak mungkin kepikiran seperti itu tapi perempuan berfikir detail meski sepele, itu sangat vital,” pungkasnya. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW