JOMBANG – Perjuangan anak dalam menuntut ilmu zaman sekarang bagi Ifadatun Nuroidah SHI MPdI lebih sulit jika dibandingkan dengan zaman dulu. Karenanya butuh tirakat.
Karena itu, penting baginya membersamai anak berjuang menuntut ilmu dengan doa dan tirakat.
”Bagi saya tirakat itu sangat penting, sebagai bentuk kita membantu anak dalam berjuang menuntut ilmu,” kata Ifa kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Wakil kepala madrasah bidang kesiswaan MAN 2 Jombang ini mendapatkan ijazah tirakat puasa Daud dari Pengasuh Pondok Pesantren Fathul Ulum Kwagean, Pare, Kediri KH Abdul Hannan Ma’shum.
”Sejak anak sulungnya memutuskan untuk mondok dan menghafal Alquran,” imbuhnya.
Sejak Oktober 2019, ia rutin menjalankan puasa Daud. Sempat berhenti pada tahun 2022 karena ia mengalami keguguran.
Beruntung, tak berselang lama ia kemudian hamil lagi anaknya yang bungsu. Saat si bungsu usia enam bulan, ia melanjutkan kembali puasa Daud sampai sekarang.
”Setelah anak usia enam bulan, saya izin sama suami untuk membersamai lagi anak-anak saya dalam menuntut ilmu kasihan kalau dia harus berjuang sendirian,” kata ibu lima anak ini.
Puasa tidak hanya bermanfaat dalam mendukung anak dalam menuntut ilmu. Tapi juga menyehatkan.
”Sangat terasa sekali, ketika saya berhenti puasa selama hamil hingga menyusui, dan sekarang kembali berpuasa, di badan terasa lebih segar,” tambahnya.
Ia juga terus memberikan doa-doa baik untuk anak-anaknya. Salah satunya menghadiahkan bacaan surat Al Fatihah kepada masing-masing anak sebanyak 100 kali setiap harinya.
”Risiko punya anak banyak ya, anak saya lima, jadi saya bacakan Fatihah ya 500 kali, tapi tidak dalam satu waktu,” jelasnya.
Doa yang tak kalah penting dipanjatkan adalah doa untuk ibadah anak, utamanya salat. Doa yang tidak pernah ia tinggalkan setiap kali salat adalah robbi habli minassholihiin, serta robbi`jalni muqimas sholati wa min dzuriyyati, robbana wataqobbal dua’.
”Agar anak-anak tidak menganggap enteng salat, agar anak-anak selalu menjaga salatnya,” jelasnya.
Tirakat tidak hanya dilakukan ibu saja. Baginya, orang tua adalah mitra dalam mendidik, tapi juga dalam hal mendoakan dan mentirakati anak.
”Anak laki-laki lebih baik ditirakati ayahnya, dan anak perempuan ditirakati ibunya,” jelas wanita yang tinggal di Desa Balongbesuk, Kecamatan Diwek ini.
Wanita kelahiran Jombang, 2 Februari 1980 tersebut begitu merasakan manfaat positif tirakat. Anak sulung yang sedang mondok dan menghafal Alquran semakin rajin setor dan murojaah.
Begitu juga anak-anaknya yang lain semakin dimudahkan dalam menuntut ilmu. ”Tirakat bukan untuk menyentuh lahir anak, tapi menyentuh batinnya dalam doa,” jelasnya.
Sebab, tantangan menuntut ilmu di zaman sekarang lebih berat, ada banyak godaan, salah satunya smartphone dengan beragam aplikasi yang melalaikan.
”Tirakat tidak hanya dengan ibadah, tapi juga dengan sabar, menjaga lisan, itu juga tirakat,” jelas istri M Shobih ini.
Salah satu bukti tirakatnya yang lain adalah ketika anak yang sudah hafal 15 juz tiba-tiba minta untuk berhenti dan boyong. Rasa panik ia redam dengan ijazah dari sang ibu, yaitu menambah jumlah Fatihah.
”Dan benar, saya Fatihahi dalam seminggu biasanya sehari 100 kali, ini jadi 500 kali, alhamdulillah, setelah saya sambang ke pondok dia tidak jadi ingin boyong,” ungkapnya. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW