JOMBANG – Lebih dari seorang ibu, Diah Tri Hekmawati, SE ME merupakan seorang teman yang asyik bagi anak-anaknya. Cara mendidik yang selalu mengikuti kesenangan anak membuat anak-anak semakin nyaman di dekatnya.
”Saya sebagai orang tua tidak pernah memaksakan anak harus menuruti keinginan saya,” kata wanita yang lahir di Jember, 6 Juni 1977 tersebut.
Ia berusaha memahami dan mendukung bakat anak-anaknya. Misalnya, anak yang suka seni, ia dukung seperti dengan memberikan les piano, biola, dan lain sebagainya.
Begitu juga anak yang suka olahraga, ia memberikan keleluasaan kepada anak-anaknya untuk memilih olahraga yang akan dipelajari.
Kepada si bungsu, karena masih kecil, yang memiliki tingkah aktif, ia mengarahkan ke olahraga karate.
”Jika anak diberikan kesempatan untuk memilih, ia akan bertanggung jawab dengan pilihannya, hasilnya, ia akan sungguh-sungguh belajar dan mencintai kegiatannya,” jelasnya.
Namun, terlepas dari tugasnya sebagai ibu, Diah juga merupakan wanita karir. Saat ini ia dipercaya mengemban tugas menjadi Kasubbag Umum dan Kepegawaian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang. Di tengah kesibukannya, Diah harus pandai membagi waktu anak-anak.
Pagi, ia harus menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Yaitu memasak, mencuci, membereskan rumah, dan menyiapkan segala persiapan anak sebelum sekolah. ”Kalau terlambat setengah jam saja, wah pasti bakal kerepotan,” jelasnya.
Ia juga mengajarkan kemandirian kepada anak-anaknya. Kelima anaknya sudah terbiasa menyiapkan segala kebutuhannya sendiri. Di kantor, ia bekerja totalitas, mengerjakan semua yang menjadi tanggung jawabnya.
Pulang kerja, ia kembali berkutat dengan kehidupan sebagai ibu rumah tangga. ”Kadang jadi tukang ojek juga, antar anak untuk les karate dan les renang. Tapi saya enjoy,” jelasnya.
Sabtu dan minggu merupakan hari keluarga. Ia bertandang ke Tulungagung pulang ke rumah suami tercinta, Sugeng Mardiwibowo.
”Karena kesibukan suami di sana, jadi saya yang sering ke sana bersama anak-anak,” jelasnya.
Waktu libur ia manfaatkan untuk membangun kedekatan dengan keluarga. ”Sambil menyelam minum air, di Tulungagung kan banyak tempat wisata ya, jadi saya dengan keluarga rekreasi di Tulungagung, yaitu ke pantai, lumayan untuk refreshing,” jelasnya.
Menjadi bagian dari IKBI (Ikatan keluarga Besar Istri) PG Mojopanggung Tulungagung, ia juga harus pandai menempatkan diri. Waktu bekerja, ia totalitas menjadi ASN yang baik, namun ketika bersama IKBI, ia juga berbaur dengan ibu-ibu lainnya serta mengikuti seluruh kegiatannya.
”Kebetulan sekali, kegiatan IKBI banyak dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu, jadi saya sedang libur kerja, bisa ikut kegiatannya,” jelasnya.
Pecinta Anggrek yang Cantik
Kecintaan Diah Tri Hekmawati kepada bunga anggrek begitu kuat. Di antara ratusan koleksi jenis anggrek miliknya, ia hafal betul karakter masing-masing jenis anggrek miliknya. Mulai dari yang paling manja, sampai yang paling kuat.
”Bagi saya, anggrek adalah bunga yang sangat cantik. Dari SMA saya sangat suka anggrek,” kata alumnus D3 Administrasi Keuangan Universitas Jember ini.
Ia mulai menyukai bunga anggrek ketika duduk di bangku SMA. Memiliki satu bunga anggrek kecil yang ia rawat sepenuh hati.
Sekitar setahun setelahnya, anggrek yang ia rawat sepenuh hati berbunga. Mengetahui bunganya yang cantik, ia mulai mencintai anggrek dari situ.
”Selama kuliah sempat vakum, setelah bekerja, saya kembali mengkoleksi anggrek,” kata warga Perum Denanyar Indah Desa Denanyar, Kecamatan Jombang.
Kini koleksi bunga anggreknya mencapai ratusan. ”Ada kalau ratusan,” katanya. Memenuhi seluruh taman di rumahnya, dan menjadi tempat rekreasi bagi Diah ketika pulang kerja atau libur bekerja.
Setiap jalan-jalan ke satu tempat, wisata yang paling ia nantikan adalah ketika berkunjung ke toko bunga. Tentu saja, bunga anggrek yang ia cari. Berbagai jenis telah ia koleksi.
Yang paling suka adalah anggrek bulan. Bunganya yang besar dan merekah begitu memanjakan matanya. Namun, bunga anggrek bulan yang ia suka merupakan kategori anggrek yang manja, sebab perawatannya sedikit sulit dibandingkan dengan jenis bunga yang lain.
”Yang paling sulit perawatannya anggrek bulan, kalau yang dendrobium dan cattleya itu anggrek yang lebih kuat,” katanya.
Merawat anggrek sepenuh hati, Diah hafal masing-masing karakter bunganya. Bagaimana perawatannya, dan kapan waktunya berbunga. Bahkan, ia mengalokasikan anggaran khusus bagi anggreknya setiap bulan.
”Saya anggarkan Rp 200 ribu sebulan, entah itu untuk beli anggreknya, atau beli pupuknya, potnya, atau perintilan lainnya,” jelas alumnus Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang Jurusan Manajemen ini.
Wanita Magister Ekonomi Undar Jombang ini mengaku beruntung, hobinya mengoleksi anggrek didukung suaminya. Bahkan ia memiliki impian memiliki rumah anggrek.
”Alhamdulillah suami mendukung, karena saya tinggal di perumahan, lahan terbatas untuk anggrek, saya tinggikan rumah bagian belakang untuk rumah anggrek, alhamdulillah suami tidak pernah melarang hobi saya,” pungkasnya. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW