”Anak dapat mampu menyerap pelajaran dengan sangat maksimal pada usia 0-6 tahun,” ungkap Tita kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Ia mulai mengabdi di PAUD sejak 2002. Mulanya, ia hanya sebagai orang tua yang setiap hari mengantarkan anak sulungnya ke sekolah di Kabupaten Bangkalan, Madura. Setiap ada guru yang tidak masuk, Tita dengan senang hati mengisi kelas yang kosong. Lama kelamaan, ia diminta pihak sekolah untuk menjadi pengajar. ”Dulu saya kerja di perusahaan, tapi karena anak saya usia dua tahun sudah mulai masuk sekolah, saya resign kerja,” kata wanita asli Desa Pokjokkulon, Kecamatan Kesamben ini.
Saat itu ia memiliki background pendidikan akuntansi dan manajemen. Tita yang merasa nyaman memutuskan ingin totalitas mengabdikan diri di dunia pendidikan anak usia dini. Ia Kemudian memutuskan kuliah lagi di jurusan PGTK pada 2003. ”Keluarga juga menduukung,” imbuhnya.
Di tahun yang sama, ia pindah ke Desa Pojokkulon, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. Keluarganya memiliki yayasan pendidikan. Di dalamnya juga ada lembaga RA, namun Tita tidak bisa berpaling dari PAUD. Ia kembali terjun di kelompok bermain (KB).
Tita aktif mengikuti banyak diklat, hingga kembali kuliah di jurusan psikologi untuk menambah ilmunya dan meningkatkan kompetensinya dalam mengajar. Karirnya melejit, pada 2006, ia dipercaya sebagai Ketua Himpaudi Kecamatan Kesamben. ”Tapi hanya dua tahun, saya ditarik ke kabupaten karena ada pengurus yang mundur, sehingga saya menjadi pengurus antarwaktu, posisinya di wakil ketua Himpaudi, 2009-2011,” jelasnya.
Tita kemudian dipercaya menjadi Ketua Himpaudi Kabupaten Jombang periode 2015-2019. ”Hanya saja karena saat itu pandemi, pemilihan ketua ditunda, sampai 2020. Dan 2020 kembali terpilih sampai 2024,” jelas Tita.
Keputusan Tita mengabdikan diri di PAUD didukung penuh suaminya, , Mohammad Kafrawi. Padahal, Tita sadar betul jika kesejahteraan guru PAUD sangat tidak bisa diharapkan. Sebab, kelompok bermain (KB) adalah lembaga nonformal, yang gurunya tak bisa daftar menjadi PNS maupun PPPK. ”Kuncinya ikhlas. Kepada teman-teman guru semuanya saya juga selalu mengingatkan, jangan cari materi di PAUD, harus ikhlas dan sepenuh hati membangun pondasi bangsa,” katanya.
Sebagai seorang perempuan, Tita banyak terlibat dalam kegiatan organisasi. Selain menduduki jabatan Ketua Yayasan Ar Rohman Pokjokkulon, Kecamatan Kesamben, ia juga merupakan Kepala TK Al Hikmah Jombatan, Kesamben. Selain itu juga aktif sebagai Wakil Ketua PKG Kabupaten Jombang dan asesor PAUD Jawa Timur.
Pada 2010, Tita sempat mengajar di madrasah aliyah. Namun hanya bertahan sekitar empat bulan, dan kembali lagi ke PAUD. ”Sangat berbeda rasanya, saya lebih nyaman di PAUD,” katanya.
Meski harus berbagi waktu dengan tanggung jawab keluarga, Tita selalu berusaha totalitas menjalankan tugasnya sebagai nakhoda Himpaudi Himpaudi Kabupaten Jombang. ”Bahkan, dulu saat anak-anak masih kecil, tak jarang saya ajak rapat pengurus,” kenangnya.
Dengan begitu kedua anaknya tahu kegiatan ibunya di luar rumah. ”Dalam membagi waktu, saya memilih yang lebih prioritas, atau lebih penting,” jelas wanita kelahiran Jombang, 15 Juli 1971 ini.
Tanamkan Kemandirian Anak sejak Dini
Di hadapkan dengan kegiatan padat di luar rumah, Tita Aniqowardani tetap memprioritaskan untuk keluarga. Pendidikan karakter sudah dia tanamkan kepada kedua anaknya sejak dini. Di antaranya melatih keduanya hidup mandiri dan bertanggung jawab dengan waktu dan uang.
”Alhamdulillah yang sulung sekarang kerja di PLTU Batang, yang bungsu kuliah di Poltekes Semarang dan sekarang magang di Jepara,” terang Tita.
Menurut Tita, pendidikan karakter harus ditanamkan sejak dini. Salah satunya mendidik anak agar menghargai waktu dan uang. Sejak anak-anaknya duduk di bangku SD, mereka sudah diajarkan untuk belajar hidup mandiri dan mengatur keuangan secara mandiri. ”Saya buatkan anak-anak tabungan sejak kelas 3 SD. Di rumah tidak ada sedikitpun uang keleleran, karena di kamar masing-masing mereka punya celengan meski bentuknya sederhana untuk menyimpan koin. Kalau sudah terkumpul banyak, ditukarkan ke saya dan disimpan dalam tabungan,” katanya.
Bahkan, setelah kedua anaknya kini sudah dewasa dan jauh darinya, kebiasaan untuk mengatur keuangan masih dilakukan. ”Sampai mereka membuat laporan keuangan, untuk kebutuhan apa saja mereka catat dan dilaporkan ke saya. Bukan pelit, mereka memang sangat menghargai uang,” jelasnya.
Jauh dari kedua anak, Tita tetap melakukan komunikasi intensif melalui grup WhatsApp keluarga. Itu dilakukan karena Tita ingin tetap membersamai anak-anaknya meski sudah dewasa dan tinggal di tempat yang jauh. ”Wajib telepon atau video call beberapa hari sekali,” bebernya.
Ia juga mengajarkan anak-anaknya untuk menghargai waktu. Seperti waktu berkumpul bersama kaluarga. ”Biasanya saat kumpul bersama keluarga, kami hangout, ya cari makan, menginap di vila, atau healing ke mana gitu yang penting kumpul keluarga,” kata Tita.
Bahkan tak jarang, Tita yang bertandang ke Jawa Tengah untuk menemui kedua anaknya. ”Kalau mereka yang sibuk, saya yang ke sana,” jelas Tita.
Kebiasaan Tita mendidik anak secara mandiri membawa manfaat ketika anak-anaknya sudah dewasa. Anak-anak Tita terbiasa masak menu yang mereka mau jika tidak suka dengan menu yang telah disediakan. ”Banyak yang bilang kasihan anak kecil dipegangi kompor, tapi setelah mereka SMP, SMA, kuliah saat jauh dari orang tua mereka sudah mandiri,” kata Tita.
Tita mengaku bersyukur, kedua anaknya yaitu Alfian Mahardika Insani dan Brillian Karimah Istnaini menjadi anak yang penyayang dan kuat secara karakter. ”Saya tidak pernah memaksakan kepada anak, kamu harus menjadi seperti ini seperti itu, saya biarkan mereka menentukan pilihan, dengan konsekuensi harus bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri,” pungkasnya. (wen/naz/riz) Editor : Achmad RW