Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Hariyati SPd, Enjoy Jadi Guru Karena Jalani Impian Masa Kecil

Achmad RW • Rabu, 4 Januari 2023 | 14:00 WIB
Hariyati SPd, Guru Seni Budaya SMAN 3 Jombang
Hariyati SPd, Guru Seni Budaya SMAN 3 Jombang
JOMBANG – Menjadi guru adalah impian Hariyati SPd sejak kecil. Berkat perjuangannya yang keras, ia pun berhasil mewujudkan cita-citanya tersebut. Saat ini guru seni budaya di SMAN 3 Jombang ini merasa sangat bersyukur dan menikmati profesinya dengan penuh semangat.

Ia terus berusaha semaksimal mungkin totalitas dalam menjalankan amanah sebagai guru. ”Menjadi guru adalah profesi yang betul-betul saya nikmati, saya banggakan, saya syukuri betul,” terang Hariyati kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Menurutnya, tanggung jawab sebagai guru tidaklah ringan. Selain dituntut bisa mentransfer ilmu, seorang juga punya tanggung jawab membentuk karakter siswa. ”Tugas guru tidak hanya mengajar, menyampaikan materi sudah selesai, tapi kita wajib untuk mendidik siswa,” kata ibu satu anak ini.

Hariyati lahir di Dusun Sumber Arum, Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam pada 20 April 1969. Sejak kecil, Hariyati sangat tertarik pada bidang seni pertunjukan. Tak heran, Hariyati kini mampu memainkan hampir semua alat musik, baik alat musik tradisional maupun modern.

Ia mengaku sudah memiliki cita-cita sebagai guru sejak masih duduk di bangku SD. Saat itu mayoritas guru SD di sekolahnya laki-laki. Bahkan sepanjang ia menempuh jenjang SD, ia hanya memiliki satu guru perempuan. Hal ini juga yang mendorongnya bercita-cita menajdi guru ”Itupun tidak lama, dari situ saya bertekad untuk bisa menjadi guru suatu saat nanti,” katanya.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, ia menempuh pendidikan di SPG (sekolah pendidikan guru). Di sekolah, ia aktif ikut berbagai kegiatan komunitas seni. Saat itu, Hariyati berharap bisa menyalurkan bakat dan pengalamannya kepada siswa ketika sudah menjadi guru. ”Saat itu saya sebetulnya juga diterima di SMPP, tapi saya memilih di SPG karena sesuai dengan cita-cita saya,” katanya.

Setelah menyelesaikan pendidikan SPG, ia melanjutkan kuliah di IKIP Surabaya, jurusan pendidikan seni tari, dan lulus 1994. Ia merupakan salah satu mahasiswi berprestasi yang mendapatkan beasiswa ikatan dinas. Pada 1995, ia ditugaskan di SMPN 2 Babat, Lamongan. Selanjutnya pada 2004 ia pindah tugas ke SMPN 1 Tembelang, Jombang dan 2010 ia dimutasi ke SMAN 3 Jombang sampai sekarang.

Hariyati juga memiliki ketertarikan pada bidang psikologi. Menurutnya, ilmu psikologi sangat penting dimiliki seorang guru. ”Dulu saya hampir saja ambil psikologi, tapi ingat cita-cita saya guru, akhirnya saya ambil jurusan pendidikan,” jelasnya.

Melalui ilmu psikologi juga, ia bisa membaca dan mengarahkan bakat dan minat anak, membawa situasi kelas. Dalam mengarahkan bakat siswa, ia tak peduli latar belakang siswa. ”Dulu saya mengalami sendiri, yang dapat kesempatan hanya anak-anak tertentu, dan itu tidak ingin saya lakukan. Siapa pun yang punya bakat dan minat akan saya dukung, saya arahkan, dan saya angkat,” katanya.

Sebagai guru, ia ingin semua siswanya selalu berhasil pada setiap mata pelajaran. Menurutnya, guru dan mata pelajaran adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Mau tidak mau siswa harus berjalan seirama dengan keduanya. ”Kalau ingin berhasil di mata pelajaran maka harus menyukai keduanya. Semua harus berjalan beriringan, seirama, kalau tidak suka dengan mata pelajaran jangan menjauh, harus didekati, harus dipelajari agar bisa,” katanya.

Ia selalu memberikan motivasi kepada siswa untuk menanamkan mindset tidak ada yang sulit dalam belajar, agar timbul rasa suka. Motivasi-motivasi hampir setiap hari diberikan kepada siswa. ”Minimal 10 menit sebelum pelajaran inti dimulai,” singkat Hariyati.

Tumbuhkan Cinta Budaya kepada Siswa

Hariyati yang sejak kecil aktif di bidang kesenian pertunjukan, ingin menanamkan cinta budaya kepada siswa. Dia ingin membuka pikiran siswa tentang begitu berharga dan bergengsinya budaya Indonesia di kancah internasional.

”Sebelum saya mengajar, pertemuan pertama saya selalu memberikan wawasan tentang budaya Indonesia di mata dunia,” ungkap warga Perum Firdaus Regency nomor F15, Sengon, Jombang ini.

Di luar negeri, banyak komunitas musik yang mengembangkan musik tradisional Indonesia. Setelah siswa terbuka wawasannya akan hal itu, ia baru mengajak siswa untuk belajar bersama tentang budaya bangsa. ”Mindset harus disetting dulu, tidak ada yang sulit, semuanya mudah. Kenalan dulu agar tumbuh rasa suka,” jelasnya.

Hasilnya, mata pelajaran seni budaya menjadi salah satu mapel yang paling ditunggu-tunggu.  Siswa sangat antusias mengikuti pelajarannya. Jika tidak cukup dengan belajar di kelas, siswa bisa mengembangkannya melalui ekstrakurikuler. ”Yang pasti, sebelum mengenal budaya luar kita harus menguasai budaya kita sendiri,” jelasnya.

Totalitas Hariyati membawa hasil yang positif. Setiap tahun, pada event FLS2N, SMAN 3 Jombang langganan menjadi juara di tingkat provinsi.

Hariyati sendiri menguasai hampir setiap alat musik tradisional, seperti kolintang, keroncong, gamelan, dan lain sebagainya. Dulu saat masih kecil, ia suka nimbrung dengan ibu-ibu di Wonosalam yang latihan gamelan, di mana ada yang kosong di situ ia masuk. ”Kadang di minggu ini yang kosong gamelan, kadang yang kosong alat musik lain, jadi saya hampir bisa semuanya,” jelas istri Ali Shodiqin ini.

Meski ia jatuh cinta dengan dunia seni, Hariyati tidak kemudian memaksa anak semata wayangnya, Ghaitsa Luckita Asri untuk mengikuti jejaknya. ”Tugas saya hanya mengarahkan, dan memberikan dorongan,” kata Hariyati. (wen/naz/riz)

 

  Editor : Achmad RW
#Guru Seni Budaya #wanita #Guru #Cita-cita #SMAN 3 Jombang #Jalani impian #Enjoy Jadi Guru