”Minimal saya targetkan untuk saya sendiri satu semester satu buku, atau maksimal dua semester satu karya, entah itu buku atau jurnal,” ungkap guru bahasa Inggris ini.
Menulis sudah menjadi kegiatannya sehari-hari. Ia banyak memanfaatkan waktu luangnya untuk kegiatan menulis dan membaca. Genre tulisan antologi yang ia gunakan. Ia menampung karya-karya tulis siswa. ”Saya lebih suka kolaborasi. Karena sekolah kita SMK, ada banyak bidang keahlian, jadi berbagai macam tulisan juga ada,” tambahnya.
Menurutnya, menulis memiliki banyak manfaat. Salah satunya untuk memperkaya karya, agar menjadi guru tidak hanya mengajar, tapi juga produktif menghasilkan karya. ”Karya tulis yang dihasilkan juga penting untuk kenaikan pangkat guru,” imbuhnya.
Kegemarannya menulis ia salurkan ke siswa. Dalam mata pelajaran yang ia ajarkan, ia lebih banyak memberikan praktik writing, sebab, dengan menulis, siswa juga membaca dan mendengarkan.
Karya tulis ia sesuaikan dengan bidang keahlian siswa. Agar siswa juga lebih semangat menulis, lebih paham akan tulisannya. ”Karena saya guru bahasa Inggris, jadi tulisan saya semuanya bahasa Inggris,” jelasnya.
Menurut Itha, semua anak bisa menulis. Hanya saja biasanya menemui sejumlah kendala. Seperti malas memulai. ”Makanya anak-anak yang menulis saya arahkan untuk sesuai dengan project yang ada di bidang mereka masing-masing, bukan saya yang menentukan tema,” jelasnya.
Wanita kelahiran Plandaan, 28 Januari 1978 ini merupakan alumnus STIBA Malang jurusan Sastra Inggris tahun 2000. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magisternya di Unisma Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Ia lulus tahun 2015. ”Mulai saat itu, sering penelitian, saya jadi sering menulis,” jelasnya.
Namun, kegemaran menulis tidak terlalu ia tekankan kepada putra sematawayangnya. Namun di rumah, percakapan sering menggunakan bahasa Inggris. ”Anaknya memang suka bahasa Inggris, ngobrol pakai bahasa Inggris sudah biasa, saling menimpali,” tambahnya.
Gemar menulis saja menurutnya tidak cukup. Ia juga gemar membaca, berbagai genre buku ia baca. Tidak harus yang sesuai dengan bidangnya yaitu bahasa Inggris. Ia juga membaca buku-buku tentang hukum, buku-buku tentang alam, atau tentang tanaman.
Aktivitas membaca Itha kini tidak seintens dulu. Jika dulu ia sering berkunjung ke sejumlah perpustakaan, juga membaca koleksi buku-buku di rumah. Kini ia membaca hanya untuk mempersiapkan materi yang akan ia sampaikan besok saat mengajar. ”Bacaan saya menyesuaikan dengan materi yang saya ajarkan. Tidak seperti dulu yang membaca buku-buku lain, selalu cari referensi baru, karena kesibukan,” jelasnya.
Wanita Harus Sopan dan Rapi
SEBAGAI wanita karir, dan anggota Persit (persatuan istri tentara), Ita Pujiarti juga memperhatikan penampilan. Baginya, pakaian tidak harus mewah dan mahal. Yang penting sopan, rapi, dan nyaman, bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi.
”Penting sekali, kalau kata pepatah Jawa ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono, dan itu betul,” ungkap istri Fatchul Mukorrobin ini.
Saat bertugas, ia menggunakan seragam sesuai dengan hari dan kegiatannya. Berbeda saat jalan-jalan ke luar, ia lebih suka berpakaian kasual. ”Menyesuaikan saja, kapan kita pakai baju formal, kapan kita pakai baju kasual, kapan kita harus pakai gamis,” jelasnya.
Itha juga memperhatikan kesehatan tubuh, termasuk merawat kecantikan. Biasanya dua bulan sekali ia rutin facial wajah. Menurutnya menjaga kesehatan dan kecantikan kulit penting, tapi tidak menjadi yang utama. ”Itu penting, tapi bukan yang utama, cukup di rawat di rumah saja. Yang penting bersih, agar pantas saat berkumpul orang banyak, pantas dilihat suami, tidak kucel juga,” jelasnya.
Sibuk dengan kegiatan kantor, Itha biasanya mengisi waktu liburnya dengan jalan-jalan ke luar kota. Salah satu jujukannya Kota Malang. ”Kebetulan ada saudara di Malang, jadi biasnaya main ke sana sambil berwisata, tidak harus setiap libur, tapi cukup sebulan dua kali saja,” pungkasnya. (wen/naz/riz) Editor : Achmad RW