RadarJombang.id - Kematian bagi orang Toraja 'wajib' diperingati bak sebuah pesta yang megah dan mewah. Jika tak percaya, wisatawan bisa menyaksikan upacara Rambu Solo saat liburan di Toraja.
Tak seperti daerah lain di Indonesia, upacara kematian bagi orang Toraja sudah seperti tradisi dan ritus budaya yang dilestarikan secara turun temurun.
Upacara kematian itu sesuatu yang wajib dipersiapkan sebaik-baiknya. Orang Toraja percaya, dengan upacara besar dan pengorbanan kerbau, mereka bisa 'mengantarkan' keluarga yang sudah meninggal ke Puya atau surga.
Rambu Solo adalah upacara kedukaan masyarakat Toraja, rangkaian upacara penguburan dari keluarga yang meninggal.
Pelaksanaannya itu tidak sama untuk semua kalangan masyarakat, tergantung dari status sosial dalam masyarakat, berhubungan dengan kemampuan dari keluarga yang berduka untuk menggelar upacara. Strata sosial yang berbeda akan menghasilkan upacara yang berbeda.
Karena sudah jadi atraksi budaya, setiap pihak keluarga yang akan menggelar upacara Rambu Solo wajib memberitahukan kepada pemerintah setempat.
Nantinya, Dinas Pariwisata akan mencatatnya dan menginformasikan dalam agenda yang bisa dikunjungi wisatawan.
Upacara Rambu Solo terdiri dari beberapa prosesi. Dari awal hingga akhir pemakaman, pelaksanaannya bisa memakan waktu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan jika dihitung dengan masa persiapan.
Ada prosesi Ma'passuruk, Mangriu' Batu, Ma'pasa' Tedong, Ma'palao, Ma'batang, Mantunu dan terakhir adalah upacara penguburan Ma'kaburu atau Ma'aa. Setiap prosesi penting dan memiliki makna tersendiri.
Ma'passuruk adalah kegaiatan mengarak kerbau (tedong) sekitar lokasi tempat pelaksanaan upacara sebanyak tiga kali dan pertemuan keluarga yang bertujuan untuk mengevaluasi kembali hasil musyawarah keluarga sebelumnya terkait pemakaman.
Prosesi selanjutnya adalah Mangriu' Baru atau menarik batu Menhir dari tempatnya ke lokasi acara yang dilakukan secara bergotong royong oleh pria-pria satu kampung.
Batu Menhir ini berfungsi sebagai penanda almarhum/almarhumah, sekaligus untuk pengingat kepada generasi berikutnya bahwa pendahulu mereka telah diupacarakan.
Baru setelah itu, dilakukan prosesi Ma'pasa Tedong atau mengarak kerbau yang disumbangkan kepada pihak keluarga yang tengah berduka. Jumlahnya minimal 24 ekor (sapurandanan) atau bisa lebih tergantung kemampuan.
Setelah diarak, kerbau-kerbau itu akan diadu hingga salah satunya mati atau tidak sanggup untuk melanjutkan pertarungan. Nantinya, kerbau-kerbau itu akan disembelih semua di acara puncak.
Setelah Ma'pasa Tedong, prosesi berikutnya adalah Ma'palao. Di prosesi ini, jenazah akan diarak keliling kampung untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya ditempatkan di Lakkean, semacam rumah persemayaman terakhir.
Ada pula prosesi Ma'batang atau penyambutan tamu, serta Mantunu alias hari penyembelihan kerbau yang disumbangkan kepada keluarga yang berduka. Setelah disembelih, daging itu akan dibagi-bagikan.
Terakhir, adalah Ma'kaburu atau proses penguburan. Bagi orang Toraja yang sudah memeluk agama Kristen, akan ada ibadah bersama.
Setelah itu, baru jenazah akan dimakamkan di Patane atau kuburan modern bagi orang Toraja.
(Achmad Syauqii Khumaini Fuadi)
Editor : Achmad RW