RadarJombang.id - Indonesia, negara kepulauan yang memiliki berbagai macam etnis, suku, hingga tradisi.
Dari Sabang sampai Merauke, berbagai tradisi lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi masih dipraktikkan, meski beberapa mulai tersingkir oleh perkembangan zaman.
Tradisi ini membuat kita bangga sebagai warga Indonesia, karena hanya bisa ditemukan di tanah air kita saja.
Penasaran tradisi apa saja yang membedakan Indonesia dengan negara lain? Simak penjelasan tradisi yang masih dilakukan hingga saat ini:
1. Upacara Tedhak Siten
Upacara tedhak siten merupakan tradisi yang berasal dari suku Jawa. Tedhak siten dilakukan untuk balita yang telah menginjak usia tujuh sampai delapan bulan atau saat pertama kali kakinya menyentuh tanah.
Kata tedhak memiliki arti turun, sementara siten atau siti artinya tanah.
Oleh karena itu, tedhak siten diartikan sebagai upacara turun tanah yang tujuannya membuat anak tumbuh kuat dan mandiri.
2. Batombe
Batombe adalah tradisi yang menampilkan pertunjukkan berbalas pantun antara laki-laki dan perempuan. Penyampaiannya diiringi irama dan tarian dari pemainnya.
Tradisi ini berasal dari Sumatera Barat, awalnya tradisi ini dilakukan ketika membangun rumah gadang. Tujuannya untuk menghibur orang yang bekerja agar lebih bersemangat.
3. Tiwah
Tiwah merupakan ritual upacara kematian yang dilakukan oleh Suku Dayak.
Tiwah yaitu prosesi mengantarkan tulang belulang atau sisa-sisa kerangka jenazah leluhur atau sanak saudara dari liang kubur menuju sanding tempat peristirahatan terakhir.
Sanding adalah tempat berbentuk rumah kecil khusus untuk menyimpan sisa-sisa tulang jenazah.
Tujuan ritual ini untuk mengantarkan roh menuju alam baka dengan harapan orang yang ditiwahkan mencapai surga atau lewu tatau.
4. Upacara Ruwatan
Ruwatan merupakan ritual penyucian yang hingga saat ini masih dilakukan oleh sebagian besar masyarakat suku Jawa dan Bali.
Ruwat dalam bahasa Jawa memiliki arti sama dengan Luwar yang berarti dibebaskan atau dilepaskan.
Upacara ruwatan dilaksanakan dengan tujuan untuk membebaskan atau melepaskan seseorang dari suatu kutukan yang diberikan oleh sang kuasa dan dapat menimbulkan marabahaya.
Hingga saat ini, upacara ruwatan masih di percaya oleh masyarakat Jawa dan Bali.
5. Gigi Runcing
Tradisi gigi runcing dilakukan oleh suku Mentawai wanita. Bagi suku Mentawai, wanita yang cantik harus memenuhi tiga kriteria.
Pertama, telinganya yang panjang. Kedua, tubuhnya dihiasi titi atau tato. Ketiga, giginya yang runcing.
Tradisi ini untuk meruncingkan gigi yang diyakini akan menambah kecantikan sang wanita.
6. Pasola
Pasola merupakan tradisi adu ketangkasan menggunakan kuda dan lembing.
Tradisi ini dilakukan setahun sekali oleh warga Kampung Kodi, Kampung Lamboya, Kampung Wanokala, dan Kampung Garoa di wilayah Sumba Barat.
Tradisi adu ketangkasan ini merupakan puncak acara dari Pesta Adat Nyale yang bertujuan untuk memohon restu terhadap dewa dan nenek moyang menjelang musim panen tiba.
Dalam pelaksanan Pasola, dua “Ksatria Muda” akan menungganggi kuda dan saling menyerang menggunakan tongkat kayu.
Darah yang jatuh pada arena Pasola dianggap mampu menyuburkan tanah dan panen berlimpah.
7. Ngaben
Ngaben merupakan upacara pembakaran jenazah yang dilakukan sebagai bagian dari kepercayaan agama Hindu.
Upacara ini bertujuan untuk menyucikan roh yang telah meninggal dan mempercepat kembalinya roh ke alam Pitra.
Upacara Ngaben dilakukan dengan meletakkan jenazah pada Lembu. Kemudian dibakar hingga menjadi abu, lalu abu tersebut dilarung ke laut atau sungai yang dianggap suci.
Itulah penjelasan terkait tradisi yang masih hidup hingga kini, mulai dari tradisi kelahiran hingga kematian seseorang yang dipercaya dan diwariskan. (Marcella Diva Anggraini)
Editor : Achmad RW