JOMBANG — Kecintaan terhadap Jepang sejak kecil membawa Mochamad Ainurrofiqi, pemuda asal Dusun Sekaru Desa Sukopinggir Kecamatan Gudo, menapaki pengalaman baru di Negeri Sakura.
Berawal dari kegemaran menonton anime dan mempelajari bahasa Jepang secara otodidak, kini dia bekerja dan menetap di Saitama, Jepang.
Perjalanan putra pasangan Muslam Asy’ari dan Siti Afida menuju Jepang tidak mudah. Lulus jurusan SMKN 1 Jombang jurusan Multimedia, dia sempat bekerja bersama sang kakak di restoran selama setahun.
Itu dia manfaatkan untuk mengumpulkan modal keberangkatan. Di sela bekerja, Fiqi belajar bahasa Jepang secara mandiri sebagai persiapan mengikuti pelatihan kerja.
’’Dari kecil suka Jepang. Dari lihat drama dan kartun Jepang, sudah mulai belajar sedikit-sedikit bahasanya. Jadi ketika masuk LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) lumayan gampang,’’ katanya.
Pria kelahiran 22 Februari 2004 ini kemudian mengikuti pelatihan di LPK selama delapan bulan. Di sana dia mendapat pembekalan bahasa Jepang.
Mulai percakapan sehari-hari hingga bahasa yang digunakan di tempat kerja. Juga dikenalkan budaya Jepang.
Usai pelatihan dan proses wawancara, dia masih harus menunggu kontrak kerja sekitar tiga bulan. Hingga akhirnya pada Februari 2025, Fiqi berangkat ke Jepang.
’’Kini saya sudah satu setengah tahun kerja di restoran Jepang,’’ ucapnya.
Menariknya, pekerjaan yang dia jalani tidak sebatas sebagai juru masak. Dengan visa pekerja yang dimiliki, tanggung jawabnya lebih luas. Dia juga menangani kasir, pelayanan, hingga tugas manajemen layaknya supervisor.
’’Selain masak atau chef, saya juga di bagian kasir, pelayanan servis, sama manajemen,’’ ujarnya.
Beradaptasi dengan lingkungan kerja Jepang juga menjadi pengalaman tersendiri. ’’Mereka sangat disiplin terhadap waktu,’’ ujarnya.
Baca Juga: Inspiratif! Cerita Mantri BRI Menembus Pegunungan Setia Dampingi Warga Garut Selatan
Dia mencontohkan kebiasaan masyarakat Jepang yang datang lebih awal ketika memiliki janji. Jika janji bertemu pukul 10.00, misalnya, mereka sudah tiba 15 menit sebelumnya.
Kegemarannya mempelajari budaya Jepang sejak kecil membuatnya sudah memiliki gambaran mengenai karakter masyarakat setempat.
Meski tinggal jauh dari kampung halaman, dia mengaku tetap bisa beradaptasi. Untuk makanan halal, kini semakin mudah ditemukan. Banyak toko Indonesia, India, maupun Pakistan yang menyediakan produk bersertifikat halal. Hanya saja, harganya cenderung lebih mahal dibanding makanan lokal.
Karena itu, Fiqi lebih sering memasak sendiri. Saat ini dia tinggal di sebuah hunian bersama sejumlah pekerja lainnya di Saitama, yang berdekatan dengan Tokyo.
Di luar pekerjaan, Fiqi berusaha memanfaatkan waktu luang untuk mengembangkan kemampuan. Ketika libur, dia tidak hanya jalan-jalan, tetapi juga belajar secara otodidak. Mulai olahraga dan gym, belajar barista, hingga musik.
Menurutnya, kesempatan tinggal di Jepang sekaligus bekerja menjadi momentum untuk mencoba berbagai hal yang sebelumnya belum sempat dilakukan.
’’Kalau sudah dapat uang, dimanfaatkan sebaik mungkin. Hobi-hobi lama atau keinginan yang dulu terpendam bisa dilepas,’’ katanya.
Dia bercita-cita memuiliki usaha sendiri.
Ke depan, Fiqi masih memiliki sejumlah target. Dia berencana mengurus status tinggal jangka panjang di Jepang.
Setelah itu, dia ingin melanjutkan pendidikan di Negeri Sakura.
Visa kerja yang dimilikinya saat ini berlaku selama lima tahun. Karena itu, dia ingin mempersiapkan langkah berikutnya agar dapat tinggal dan mengembangkan diri lebih lama di Jepang.
Kepada adik angkatan yang ingin mengikuti jejaknya, Fiqi berpesan agar mempersiapkan kemampuan bahasa sejak awal. Selain itu, kemauan belajar dan kepatuhan terhadap aturan menjadi bekal penting.
’’Di sini lumayan ketat soal aturan,’’ ucapnya. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto