Di balik sosok Hindun MPd yang dikenal sebagai kepala MTsN 8 Jombang, terdapat peran lain yang tidak kalah penting.
Sebagai ibu dari tiga anak, ia menjadikan keluarga sebagai ruang pertama untuk menanamkan nilai agama, kemandirian dan tanggung jawab.
Hindun bersama suaminya, Salim SAg, dikaruniai tiga anak.
Hirza Hifdziatul Ilma, Dini Lubna Alyani dan Naura Tahliyah Reihana.
Bagi Hindun, pendidikan anak tidak cukup hanya dengan mendorong mereka mencapai prestasi akademik.
Fondasi agama menjadi hal pertama yang ia tanamkan kepada ketiga buah hatinya.
’’Yang saya tekankan, fondasi dasar yang utama. Anak-anak saya semuanya sekolah di madrasah dan selepas MI semuanya mondok,’’ ungkapnya.
Hindun tidak pernah memaksakan anak-anaknya untuk mengikuti pilihan yang sama.
Termasuk ketika berbicara tentang hafalan Alquran.
Ia terlebih dahulu memberikan wawasan kepada anak-anak mengenai proses menghafal Alquran, termasuk tantangan, kesulitan, sekaligus manfaatnya.
Setelah itu, pilihan diserahkan kepada masing-masing anak.
Hasilnya, dua anak pertamanya memilih menekuni hafalan Alquran.
Anak pertama, Hirza Hifdziatul Ilma, telah menyelesaikan pendidikan S2 sekaligus menuntaskan hafalan Alquran.
Sementara anak keduanya, Dini Lubna Alyani, juga telah menjadi hafidah dan kini menempuh pendidikan S2 serta dipercaya menjadi kepala SPPG.
Sementara anak ketiganya, Naura Tahliyah Reihana, masih menempuh pendidikan kelas 12 MAN 4 Jombang dan mondok di PP Al-Madienah Denanyar.
Untuk anak ketiga, Hindun memilih pendekatan berbeda.
Ketika sang anak merasa belum mampu menghafalkan Alquran, ia tidak memaksanya.
’’Kemampuan anak beda-beda. Saya melihat kemampuan anak dan saya tawarkan. Ketika dia tidak mau, saya juga enggak maksa,’’ jelasnya.
Menurut Hindun, menghafal Alquran membutuhkan konsistensi, istiqamah dan kesabaran.
Karena itu, ia merasa tidak tepat jika proses tersebut dilakukan dengan paksaan.
Sebagai gantinya, ia mengarahkan anak ketiganya sesuai minat.
Sang anak kemudian memilih mondok di Al-Madienah karena tertarik dengan pembiasaan penggunaan bahasa Inggris.
’’Dia bilang, saya enggak sanggup hafal Quran. Saya bilang enggak usah. Enggak mau menghafal enggak usah dipaksakan,’’ tuturnya.
Bagi Hindun, tugas orang tua adalah mengenalkan nilai dan memberikan arah, kemudian memberikan ruang bagi anak untuk menentukan pilihannya.
Meski demikian, pendidikan agama tetap dikenalkan sejak dini.
Ketiga anaknya mendapatkan pembiasaan keagamaan sejak duduk di madrasah ibtidaiyah.
Di rumah, Hindun turut membantu dan mendampingi proses tersebut.
Ia percaya, keberhasilan anak dalam menuntut ilmu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan ketekunan.
Doa dan kedekatan kepada Allah menjadi bagian penting yang selalu ia tekankan.
’’Yang utama adalah sang penentu, yaitu Allah. Setiap kesulitan yang mereka alami selalu saya arahkan untuk berdoa kepada Allah. Pasti solusi akan ada, jalan keluar pasti ada,’’ katanya.
Kebiasaan tersebut juga tumbuh dalam keluarganya.
Sang suami, Salim, dikenal istiqamah menjalankan puasa Daud.
Kebiasaan itu kemudian menginspirasi anak-anaknya.
Baca Juga: Kisah Hindun, Kepala MTsN 8 Jombang yang Memimpin dengan Teladan dan Dorong Siswa Hafal Alquran
Salah satu anaknya mengikuti kebiasaan tersebut.
Hindun pun akhirnya turut mencoba menjalankan puasa Daud.
Baginya, keteladanan dalam keluarga memiliki kekuatan yang lebih besar daripada sekadar nasihat.
Di balik keberhasilannya menjalankan amanah sebagai kepala madrasah, Hindun juga mengakui ada sosok yang memiliki peran besar dalam perjalanan hidupnya, yakni sang suami.
Salim selalu memberikan dukungan, terutama ketika dirinya menghadapi persoalan dalam pekerjaan maupun ketika ingin meningkatkan kinerja.
’’Motivasi terbesar itu dari suami saya. Suami sangat-sangat memotivasi saya. Apapun yang hubungannya dengan peningkatan kinerja, sangat mendukung,’’ ungkapnya.
Dukungan tersebut menjadi kekuatan tersendiri bagi Hindun untuk terus berkembang.
Ia pun berusaha menjaga keseimbangan antara amanah sebagai pemimpin madrasah dan tanggung jawab sebagai seorang ibu.
Baginya, keluarga dan pendidikan bukan dua dunia yang terpisah.
Keduanya justru saling menguatkan. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto