Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Lawan Gempuran Budaya Digital, Kabid Kebudayaan Disdikbud Jombang Ini Hadirkan Program Wayang Masuk Sekolah

Anggi Fridianto • Minggu, 28 Juni 2026 | 05:29 WIB

PROAKTIF: Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang Anom Antono SSn saat membuka program Wayang Masuk Sekolah.
PROAKTIF: Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang Anom Antono SSn saat membuka program Wayang Masuk Sekolah.

 

JOMBANG - DI tengah gempuran budaya digital yang semakin menjauhkan generasi muda dari seni tradisi, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang Anom Antono SSn punya terobosan kreatif. Salah satunya, menghadirkan program Wayang Masuk Sekolah.

”Program ini sudah mulai kita dijalankan sejak 2022. Kita membawa program ini atas keprihatinan terhadap semakin jauhnya generasi muda dengan wayang kulit. Di sisi lain, sekolah membutuhkan media pembelajaran yang lebih kreatif, komunikatif, dan menyenangkan,’’ ujar dia.

Bagi Anom, sekolah merupakan ruang paling strategis untuk mengenalkan budaya kepada anak-anak. Melalui pengalaman menyaksikan pertunjukan wayang secara langsung, siswa tidak hanya mengenal tokoh pewayangan, tetapi juga memahami nilai kejujuran, keberanian, tanggung jawab, hingga semangat gotong royong yang tersirat dalam setiap lakon.

”Selama ini jumlah dalang muda, pengrawit, maupun sinden muda terus berkurang. Karena itu, Wayang Masuk Sekolah kita harapkan menjadi pintu masuk bagi lahirnya generasi baru yang mencintai sekaligus menekuni seni tradisional,’’ papar dia.

Baca Juga: Perjalanan Anom Antono, Dalang yang Kini Jadi Penjaga Warisan Budaya Jombang

Dalam pelaksanaannya, pagelaran wayang dikemas secara padat selama 30–40 menit agar sesuai dengan karakter peserta didik SD dan SMP.

Kegiatan diawali dengan pengenalan tokoh wayang, dalang, gamelan, kelir, hingga gunungan. Selanjutnya siswa diajak menyaksikan pertunjukan wayang dengan lakon sederhana yang mudah dipahami.

 Setelah itu, mereka mengikuti sesi refleksi mengenai pesan moral cerita dan dikenalkan berbagai perangkat pewayangan beserta teknik dasarnya. Program dilaksanakan secara bergilir di berbagai sekolah agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata.

Anom menilai, manfaat program tidak hanya dirasakan peserta didik. Bagi siswa, Wayang Masuk Sekolah menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan, memperkuat karakter, menumbuhkan imajinasi, sekaligus membangun kebanggaan terhadap budaya daerah.

”Selain itu, guru juga memperoleh media pembelajaran alternatif untuk mata pelajaran seni budaya, bahasa daerah, literasi, hingga sejarah. Sementara sekolah menjadi ruang apresiasi dan pelestarian budaya yang hidup di lingkungan pendidikan,’’ papar dia.

Anak dari pasangan pasangan Hadi Carito dan Hj Duryati ini berharap, Wayang Masuk Sekolah menjadi program berkelanjutan yang dilaksanakan secara berkala setiap tiga bulan. ”Kita ingin menghidupkannya kembali sebagai media pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda,’’ pungkasnya. (ang)

Editor : Anggi Fridianto
#Budaya Jombang #Wayang Masuk Sekolah #Anom Antono #pelestarian budaya #disdikbud jombang