MESIR menjadi negeri perantauan bagi banyak santri Indonesia untuk menimba ilmu agama.
Salah satunya adalah Mohammad Fatihul Muzakki, pemuda asal Dusun Gotan, Desa Jatigedong, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, yang telah menempuh pendidikan lebih dari satu dekade di Negeri Para Nabi tersebut.
Lahir di Jombang, 30 November 1996, Fatih merupakan putra pasangan Sholeh dan Cholifah. Ia memulai perjalanan akademiknya di Timur Tengah setelah lulus dari MA Al-Azhar Denanyar pada 2014.
”Berangkat ke Mesir itu tahun 2014 setelah lulus MA Al-Azhar Denanyar. Waktu itu mengikuti seleksi dari Kementerian Agama,” ujarnya.
Perjalanan menuju Mesir tidak mudah. Ia harus melewati dua tahap seleksi ketat, yakni di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Seluruh tahapan tes dilakukan menggunakan bahasa Arab, mulai dari wawancara, listening, reading, hingga penulisan esai.
Menurutnya, seleksi tahap kedua di Jakarta jauh lebih menantang karena diuji langsung profesor dari Universitas Al-Azhar.
”Tes di Jakarta lebih susah karena yang menguji profesor langsung dari Al-Azhar Mesir,” katanya.
Saat itu, sekitar 200 mahasiswa dari seluruh Indonesia diberangkatkan ke Mesir melalui jalur tersebut. Fatih sendiri memilih Mesir karena melihat Al-Azhar sebagai salah satu pusat studi Islam terbaik di dunia.
”Awalnya sebenarnya coba-coba. Saya juga sempat tes ke Monash University Australia, tetapi akhirnya memilih Al-Azhar karena keluarga juga mendukung,” tuturnya.
Di Mesir, Fatih mengambil jurusan Syariah Islamiyah atau hukum Islam. Ia menyelesaikan pendidikan S1 pada 2019, lalu langsung melanjutkan S2 hingga lulus dan diwisuda pada akhir 2025.
Meski kuliah di Al-Azhar sudah ditanggung beasiswa, biaya hidup selama di Mesir awalnya harus dipenuhi secara mandiri. Namun, pada tahun kedua kuliah ia berhasil memperoleh beasiswa living cost dari Pemerintah Kuwait.
Saat menempuh S2, ia kembali mendapatkan bantuan biaya hidup dari Al-Azhar.
”Untuk kampusnya memang sudah beasiswa semua, baik S1 maupun S2. Awalnya living cost mandiri, lalu saya dapat beasiswa dari Kuwait dan kemudian dari Al-Azhar,” jelasnya.
Fatih mengaku sistem pendidikan di Mesir sangat berbeda dibanding Indonesia.
Di Al-Azhar, mahasiswa tidak diwajibkan hadir kuliah dan tidak ada tugas harian maupun tugas semester.
”Penilaian 100 persen dari ujian akhir. Kalau sakit saat ujian ya tidak ada susulan. Harus mengulang,” katanya.
Dalam satu mata kuliah, mahasiswa harus menguasai diktat hingga 300 halaman. Dalam setahun, terdapat sekitar 11 mata kuliah yang seluruhnya diujikan secara penuh di akhir tahun akademik.
Bekal bahasa Arab yang diperoleh selama belajar di MA Al-Azhar Denanyar sangat membantunya beradaptasi.
Ia menyebut kemampuan bahasa Arab menjadi kunci utama bagi pelajar yang ingin melanjutkan studi ke Timur Tengah. ”Kalau ingin kuliah di Mesir, yang paling penting harus dipersiapkan adalah bahasa Arab,” tegasnya.
Selain kemampuan berbahasa Arab, calon mahasiswa diharuskan memiliki hafalan minimal 2 juz.
Saat itu Fatih telah menghafal 4 juz. Selama kuliah, ada mata kuliah khusus hafalan Alquran, sehingga jumlah hafalan akan bertambah setelah di Mesir. ”Tidak ada target khusus," jelasnya.
Baca Juga: Keren! MTsN 4 Denanyar Padukan Kurikulum Madrasah dan Pesantren agar Siswa Tak Kelelahan
Selama di Mesir, Fatih tidak hanya fokus kuliah. Ia juga aktif mengikuti pelatihan di lembaga setingkat Majelis Ulama Mesir untuk penguatan keilmuan fatwa dan mufti.
Selain itu, ia pernah menjadi penyunting buku di salah satu percetakan di Mesir selama sekitar lima tahun.
Ia juga rutin mengikuti perjalanan dakwah bersama sejumlah syekh ke Singapura, Malaysia, dan Thailand. ”Rata-rata kegiatan saya memang tidak jauh dari dunia keilmuan,” ujarnya.
Setelah menyelesaikan studi S2, Fatih kini kembali ke Jombang dan baru pulang dari Mesir beberapa hari lalu. Meski demikian, ia masih mempersiapkan proposal studi doktoral (S3) di Al-Azhar.
”Kalau proposal diterima, kemungkinan lanjut lagi. Bisa jarak jauh atau kembali ke Mesir,” katanya.
Selama tinggal di Mesir, berbagai culture shock juga sempat ia rasakan.
Salah satunya banyaknya anjing liar di jalanan dan kebiasaan masyarakat membunyikan klakson kendaraan hampir di setiap momen. Namun di balik itu, ada banyak hal positif yang membuatnya kagum terhadap masyarakat Mesir.
”Di sana hampir semua orang membawa Alquran atau buku untuk dibaca di bus, halte, atau jalan. Di warung, mall, sampai kendaraan umum juga sering diputar murottal Alquran,” ungkapnya.
Ia juga terkesan dengan budaya masyarakat Mesir saat Ramadan yang gemar berbagi makanan dan uang kepada mahasiswa rantau. Bahkan di banyak tembok jalanan terpampang tulisan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
”Hal-hal seperti itu yang membuat suasana religius di Mesir sangat terasa,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto