RadarJombang.id - Kiprah Maharsyalfath Izlubaid Qutub Maulasufa atau Alfath Flemmo di tingkat nasional tercermin dari keterlibatannya dalam Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2025.
Ini adalah ajang kesenian musik strategis yang digelar Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Alfath tercatat sebagai salah satu peserta termuda dan aktif mengikuti diskusi lintas sektor yang mempertemukan musisi, akademisi, pelaku industri, serta pembuat kebijakan.
”Topik yang dibahas mencakup transformasi industri musik digital, posisi kreator di era platform, serta keberlanjutan ekosistem musik Indonesia,” katanya.
Di sela rangkaian KMI 2025, dia berdialog langsung dengan sejumlah musisi lintas generasi.
Antara lain, Candra Darusman, Dwiki Dharmawan, Purwacaraka, Kadri Mohamad.
Bassist dan produser Barry Likumahuwa. Audio engineer papan atas Ari Renaldi.
Musisi generasi milenial Ezra Mandira. Hingga kreator dan rapper Willy Winarko.
’’Dialog ini membahas kesinambungan nilai artistik, etos kerja profesional, serta adaptasi teknologi dalam produksi musik masa kini,’’ imbuhnya.
Dalam forum yang sama, Alfath juga berdiskusi dengan para pemimpin industri musik nasional.
Di antaranya, Muhammad Soufan, Country Head Sony Music Entertainment Indonesia. Yonathan Nugroho, founder & CEO Trinity Optima Group.
Christian Bong, founder & CEO Indomusikgram. Serta Kiki Ucup, founder festival musik Pestapora.
”Diskusi ini membahas dinamika industri musik Indonesia, strategi pengembangan talenta, hingga peluang kolaborasi lintas ekosistem antara kreator, label, platform digital, dan penyelenggara event,” ujarnya.
Secara khusus, Alfath turut melakukan diskusi strategis dengan Paul Smith, Managing Director YouTube Music Asia Pacific. Membahas masa depan musik digital.
Peran kreator Gen Z. Serta peluang akselerasi talenta Indonesia di tingkat global melalui ekosistem YouTube Music.
Masih dalam rangkaian KMI 2025, Alfath juga mengikuti diskusi bersama Wakil Menteri Kebudayaan (Wamenbud) Republik Indonesia, Giring Ganesha.
Menyoroti peran generasi muda dalam penguatan budaya, tata kelola hak cipta, serta diplomasi musik Indonesia di kancah internasional.
”Saya percaya musik bukan hanya karya seni, tetapi bahasa global. Ketika teknologi, kreativitas, dan kolaborasi berjalan bersama, musisi daerah pun memiliki peluang yang sama untuk berdampak di level dunia,” ungkapnya.
Di tingkat internasional, Alfath mencatat pencapaian signifikan dengan menyelesaikan lebih dari 1.500 transkripsi musik Bollywood untuk BollyPiano Ltd (Hongkong) menggunakan Sibelius notation dengan presisi tinggi.
Ia juga menjabat sebagai Head of Music for Games di Orris Gaming Academy (Türkiye).
Merancang sistem audio interaktif dan mengintegrasikan sound architecture ke dalam Unity dan Unreal Engine untuk kebutuhan industri gim global.
Pengakuan global pada kiprahnya diperkuat melalui statusnya sebagai Sony Music Group Global Scholar, yang membawanya ke forum industri musik dunia di New York, Amerika Serikat. Serta perannya sebagai Yale Young Global Scholars (YYGS) Ambassador.
Dari sisi akademik, Alfath sudah menyelesaikan S1 double degree full-scholarship di bidang Computer Information Systems dan Marketing Communication.
Serta tengah menempuh program MBA-Tech yang dijadwalkan rampung pada akhir 2026. (fid/jif)
Editor : Anggi Fridianto