RadarJombang.id – Banyak profesi yang pernah dilakoni Mujiono, warga Banjaranyar Kelurahan Wates Kecamatan Magersari Kota Mojokerto.
Mujiono yang dulunya lahir dari keluarga sederhana, dengan kerja keras dan upayanya kini kini ia memantapkan diri untuk terjun sepenuhnya jadi pengusaha di bidang lingkungan.
’’Pertama, saya suka belajar hal baru. Kedua, tuntutan hidup, agar anak-anak saya tidak merasakan apa yang saya rasakan dulu,’’ katanya.
Mujiono memulai pendidikannya di SDN Sidorejo 2 Jetis Mojokerto lulus 1991. Dia angkatan pertama SMPN 2 Jetis lulus 1994. ’’Waktu SD, saya angkatan ketiga,’’ terangnya.
Mujiono menjadi satu-satunya pemuda dari desanya yang melanjutkan pendidikan di SMA. Ia sekolah di SMAN 2 Kota Mojokerto.
Perjuangan sekolahnya tidak mudah. Ia harus menempuh jarak 14 kilometer menggunakan sepeda ontel untuk sampai di sekolah. Jalanan yang dilalui penuh lumpur.
Itu juga yang membuatnya dekat dengan takmir masjid Jetis. Sebab sepatu yang ia pakai hampir tak pernah dibawa pulang.
Ia bercerita, kampung kelahirannya cukup terbelakang dengan jalan keluar kampung becek sedengkul.
"Sepeda dipikul. Kalau mau keluar kampung baru ada aspal. Saya cuci kaki di situ lalu pakai sepatu. Begitu juga pulangnya. Saya sampai akrab dengan takmir masjid, karena setiap hari mampir,’’ kisahnya.
Kelas 1 SMA, Mujiono baru merasakan listrik masuk kampung. Sebelumnya, di malam hari, ia terbiasa menggunakan damar ublik.
Dibuat sendiri dari kaleng susu yang diberik minyak tanah ditambah dengan kain sumbu.
’’Kalau orangnya agak kaya, ya pakai petromaks yang dipompa,’’ katanya.
Semasa SMA, Mujiono tergolong siswa y berprestasi. Kelas dua, ia menjadi ketua OSIS.
Naik kelas tiga, ia dipercaya Dinas Pendidikan Kota Mojokerto menjadi ketua OSIS se-Kota Madya Mojokerto.
’’Saat itu ikut pembentukan forum pelajar Mojokerto. Saya terpilih sebagai ketua Forum Komunikasi Pelajar se Kota Madya Mojokerto,’’ ungkapnya.
Ia dikirim ke Jakarta untuk ikut Galang Pelajar Indonesia Wilayah Jawa Timur. Dari situ, ia mulai suka berorganisasi.
’’Pernah juga membantu Dikbudpora Kota Madya Mojokerto dalam penempatan job-job training pelajar ke perusahaan perusahaan di Mojokerto. Pesertanya sampai ribuan pelajar saat itu,’’ urainya.
Lulus SMA, banyak teman-teman seangkatannya yang daftar seleksi AKABRI. Mujiono sejak awal tidak berminat ikut.
Ia merasa pesimistis karena tak memiliki modal untuk kuliah. Namun, ia malah didaftarkan kepala sekolahnya.
Tahap demi tahap tes ia lakoni. Ia lulus tes administrasi, hingga tes kesehatan lanjutan. Yang tadinya pesimistis, berubah menjadi semangat.
Cukur gundul, hingga latihan lari di perbukitan dengan menggendong tas berisi batu ia lakukan agar fisiknya semakin kuat.
’’Sayangnya di pantukhir, saya gagal di danem. Saat itu danem minimal 41,00, saya danemnya 40,97. Sebetulnya ada kesempatan caba tanpa tes. Tapi karena saya sudah kadung kendor semangatnya, akhirnya kesempatan itu tidak saya ambil,’’ jelasnya.
Mujiono lantas dibelikan sepeda motor bekas oleh ayahnya. Kala itu dibeli Rp 2,2 juta. Pesan sang ayah, motor itu bisa digunakan bekerja atau dijual untuk kuliah.
Ia memilih kuliah D1 di School Of Business Malang jurusan Perbankan dan Keuangan.
Baca Juga: M Zainut Tamam, Terus Bermanfaat untuk Umat, Abdikan Diri untuk NU
Motor ia jual ke pakdenya dengan harga Rp 2,4 juta. Ia ingin pembayaran dicicil Rp 200 ribu per bulan untuk hidup di Malang.
Nilai Rp 200 ribu kala itu tak cukup dipakai hidup sebulan. Mujiono kemudian berinisiatif untuk berjualan nasi goreng.
’’Kuliah jam 6 sore sampai jam 9 malam. Jam 9 saya langsung lari pulang ke kos untuk ambil gerobak nasi goreng. Saya jualan sampai satu tahun,’’ kenangnya.
Kuliah perbankan, ia ingin kerja di bank, karena penampilan orang perbankan yang selalu rapi dan necis. Namun ia mendapat jalan bekerja di PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk.
Ia kembali belajar dari nol. Awalnya belajar ilmu perbankan, di pabrik tersebut ia justru pegang mesin kertas yang berbahasa Jerman.
Kegigihannya membuat Mujiono mampu bertahan, 1998-2004 menjadi Foreman and Tecnician Envelope Machine.
Pada 2004-2015 menjadi Staf Administration and V-Team. Lalu 2013-2015 menjadi Auditor 6S (5R + 1W), Zero Emission and Phoenix Project.
Hingga ia mendapatkan prestasi auditor terbaik di tingkat Sinar Mas 2014.
Awal-awal kerja di Tjiwi, Mujiono juga mewujudkan cita-cita sang ibu yang ingin anaknya menjadi guru.
Ia mengajar di SD tempatnya bersekolah, dan salah satu MI di dekat rumahnya. Profesi guru hanya bertahan satu tahun, karena di pabrik mulai berlaku shift.
’’Jadi guru tidak mudah, benar-benar niat mengamalkan ilmu dan memajukan anak-anak di desa. Gaji kala itu beras dan uang Rp 15 ibu selama sebulan di tahun 1999,’’ jelasnya.
Sudah berada di zona yang nyaman, Mujiono memilih hengkang dari Tjiwi. Tepatnya pada 26 Mei 2015, ia bergabung di PT Putra Restu Ibu Abadi (PT PRIA).
Dari yang tadinya belajar perbank-kan, bekerja di teknik mesin, kini malah bekerja di bidang lingkungan, perusahaan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) maupun non B3.
Saat itu, system di PT PRIA belum 100 persen berjalan. Ia memilih bergabung dan belajar lagi dari nol.
’’Saya lihat juga menjanjikan. Sekarang di mana ada industri yang tidak menghasilkan limbah, sehingga saya tertarik,’’ katanya.
Di lapangan, banyak ilmu yang ia pelajari. Saat ini, Mujiono menjadi salah satu mahasiswa aktif di Universitas Doktor Nugroho Magetan jurusan Teknik Industri.
’’Saya sudah praktisi, tidak mungkin ikut reguler. Alhamdulillah belum lulus S1, saya juga sudah ditawari untuk lanjut di Universitas Brawijaya Malang, pada jurusan teknik lingkungan untuk S2-nya,’’ ungkapnya.
Tentang lingkungan, ia belajar lagi dari nol. Biasanya pegang mesin produksi amplop, kini pengelolaan limbah.
’’Ini sesuatu yang baru, inilah ilmu yang sebenarnya. Ilmu yang didapatkan dari lapangan,’’ katanya.
Ia merasa, bidang pekerjaannya saat ini sangat menyenangkan. Bermanfaat untuk banyak orang, termasuk tata kelola lingkungan.
Melihat industri yang berkembang, limbah liar di mana-mana dan sekarang bisa terakomodir dengan PT PRIA. Ia merasa keberadaannya sangat bermanfaat untuk orang banyak dan lingkungan.
Di Tenang Jaya Grup, 2015-2018 ia menjabat sebagai Asisten Direktur PT PRIA. Kemudian 2018-2023, ia menjabat Manager Plant PT PRIA.
Pada 2016-2022 ia menjadi Komisaris PT Djagat Karya Abadi (PT Djaka) dan direktur di PT Djaka.
Ke depan, ia bakal menuntaskan pendidikannya hingga S2. Meski telah dinyatakan ahli B3 dan tersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), tapi untuk menjadi pakar, pendidikan minimalnya S2.
Baca Juga: Mengenal Sosok Soekeni Ayahanda Bung Karno yang Ternyata Pernah Hidup dan Menetap di Jombang
’’Lebih ke legalitas. Dari sisi kemampuan insya Allah sudah mampu. Karena saya benar-benar maksimal terjun di dunia lingkungan,’’ bebernya.
Dalam memimpin perusahaan, ia menganggap semua karyawan keluarga.
Ia tak segan meminta saran dan belajar langsung dengan bawahan.
’’Pemimpin adalah pelayan para bawahannya, saya lebih senang mendengarkan ide-ide segar dari bawahan. Bagi saya mereka bukan bawahan, tapi keluarga,’’ katanya.
Ketika ia mampu dekat dengan semua karyawan, maka dengan sendirinya, loyalitas karyawan tumbuh tanpa paksaan.
’’Justru senang belajar dengan metode dari bawah keatas. Tidak ada gengsi, kalau berpatokan pada gengsi ya percuma saja,’’ jelasnya.
Kesuksesannya sekarang tak lepas dari dukungan dan dorongan istrinya, Isabela Pudji Marviani.
Perempuan yang dinikahinya 2010 dulu karyawan bank dan guru SD. Dia rela mengorbankan karirnya untuk menjaga kedua anaknya, Rahma Tarika Sonji dan Ken Nizar Muji Bramantyo.
’’Istri saya sangat luar biasa. Orangnya juga paham religi, manut dan mendukung apapun yang saya lakukan. Ibu rumah tangga yang baik lah pokoknya. Saya tidak bisa berkata apa-apa,’’ ujarnya. (wen/jif/riz)
Editor : Achmad RW