RadarJombang.id - dr. Bagus Setyoboedi, SpA(K) atau lebih dikenal dokter Bagus, merupakan konsultan gastrohepatologi anak di RSUD Dr. Soetomo sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga Surabaya.
Ia lahir di Surabaya, 18 Agustus 1969 dan telah berkecimpung cukup lama di bidang gastrohepatologi anak.
Ia juga sekaligus menjadi sosok penggerak deteksi dini atresia bilier karena telah lama menangani kasus atresia bilier.
”Cita-cita saya adalah Indonesia bebas atresia bilier,” ungkapnya.
Atresia bilier adalah penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran empedu.
Empedu yang tidak mengalir dengan baik dapat menyebabkan kerusakan hati.
Oleh karena itu, atresia bilier dapat menyebabkan komplikasi gagal hati kronis yang berujung pada kebutuhan transplantasi hati.
Ia menyebut, saat ini atresia bilier masih menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia.
Antara lain keterlambatan rujukan masih seringkali terjadi, manajemen pengobatan dengan operasi Kasai tidak sepenuhnya memberikan hasil yang baik.
”Masih banyak tantangan yang belum diselesaikan sebelum harus berakhir pada transplantasi hati,” lanjutnya.
Di masyarakat pada umumnya, bayi kuning dianggap hal yang normal.
Baca Juga: Kiat Sukses Raih Prestasi dari Miftahul Ulum, Kepala DLH Jombang: Asal Ada Kemauan Pasti Ada Jalan
Dengan penanganan cukup dijemur dan diberi minum yang banyak.
Namun, tidak semua bayi kuning akan sembuh sendiri.
”Ada kondisi tertentu yang harus diwaspadai pada bayi kuning,” ungkap suami dari dr. Novita Arbianti, Sp.MK ini.
Dokter Bagus juga selalu berpesan jika didapatkan bayi masih kuning pada usia diatas 2 minggu atau diikuti perubahan warna tinja yang semakin memudar.
Maka, jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan kadar bilirubin direk dan total pada darah bayi.
Jika didapatkan kadar bilirubin direk > 1 miligram per desiliter (mg/dL), bisa merupakan suatu tanda kolestasis atau gangguan aliran empedu.
Sehingga rujukan lebih lanjut ke fasilitas kesehatan yang mampu menangani atresia bilier perlu dilakukan.
”Ini juga selalu saya sampaikan setiap kegiatan sosialisasi dan dalam setiap kegiatan pengabdian masyarakat,” lontarnya.
Menurutnya, sebagian besar atresia bilier adalah suatu penyakit yang berproses dan dapat dicegah.
Untuk itu, diharapkan tidak sampai saluran empedu mengalami kebuntuan total.
”Oleh karena itu, dengan deteksi dini diharapkan dapat memperbaiki luaran pada atresia bilier dan menghindarkan anak dari kebutuhan transplantasi hati,” imbuhnya.
Ia, bersama timnya, yakni dr Sjamsul Arief, SpA(K) dan dr Rendi Aji Prihaningtyas, M.Ked.Klin, SpA saat ini terus berjuang dan melakukan sosialisasi deteksi dini atresia bilier secara offline maupun online.
Baca Juga: Camat Sumobito, Heru Cahyono, Kedepankan Kekeluargaan, Gemar Blusukan ke Desa-Desa
Kegiatannya bahkan telah dilakukan di beberapa kota seperti Surabaya, Sidoarjo, Magetan, Jombang, Probolinggo, Yogyakarta, Pulau Bawean Gresik, hingga Pulau Kangean di Kabupaten Sumenep.
”Dengan melakukan deteksi dini, maka rujukan atresia bilier dapat dilakukan dengan cepat dan pengobatan dapat memberikan hasil yang optimal,’’ papar dia.
Upayanya memberantas Atresia Biler, juga dilakukan dengan menerbitkan enam buku, puluhan publikasi jurnal dan HAKI.
Ia juga telah menciptakan inovasi Kartu Warna Tinja “lokal” dengan tujuan untuk membantu deteksi dini atresia bilier.
”Dengan itu diharapkan deteksi dini atresia bilier mampu mencapai seluruh kalangan, baik tenaga kesehatan di daerah maupun masyarakat umum dan memperbaiki luaran bayi dengan atresia bilier,” pungkasnya. (riz/ang/riz)
Editor : Achmad RW