JOMBANG - Sebagai salah satu anak yang berasal dari desa kecil di Jombang, Kaseri mengaku tak pernah bermimpi bisa meraih posisi sekarang.
Namun, berkat upaya dan perjuangannya, Kaseri kini sudah berkeliling dunia berkat profesinya sebagai guru.
Lahir di Desa Randuwatang, Kecamatan Kudu, 14 Mei 1974, Kaseri berasal dari keluarga kurang mampu.
Anak bungsu dari 10 bersaudara ini tinggal di gubuk bambu beralas tanah, tanpa listrik.
Ayah dan ibunya, Seran dan Genah, hidup dalam kondisi serba kekurangan. Keduanya bekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu.
“Pekerjaan bapak dan emak dulu serabutan, ya buruh tani, ya pencari kayu bakar sampai buruh angkut pasir, sempat buka warung juga,” kenangnya.
Karena kondisi itu ia dan saudara-saudaranya harus bekerja sejak usia dini.
Bahkan sejak kelas 4 SD, Kaseri sudah harus ikut kerja membungkus kerupuk demi mendapatkan uang.
“Tapi bukan berarti pendidikan saya terbengkalai, bapak dan emak selalu mendidik agama dengan kuat dan terus mendukung saya mencapai pendidikan tinggi,” katanya.
Setelah menuntaskan pendidikan SD dan SMP di Kecamatan Kudu, ia melanjutkan ke SMAN 2 Jombang hingga lulus 1993.
“Waktu itu ikut di rumah kakak saya nomor 2, dan nyambi bekerja untuk membantu,” imbuh Kaseri.
Baca Juga: Bukti SMAN 1 Jombang Jadi Gudangnya Siswa Berprestasi, Guru dan Siswanya Langganan Juara
Lulus dari SMA, ia sempat gagal saat mendaftar di Fakultas Kedokteran.
Ia kemudian bekerja sebagai pembuat kerajinan rotan dan mendaftar sebagai TKI di Hongkong, namun semua tak membuatnya nyaman.
Hingga akhirnya ia menemukan usaha berdagang cecek dan bumbu dapur di Pasar Legi Jombang.
Di saat yang sama, ia mulai mengajar sebagai guru di salah satu madrasah di Desa Bandung, Kecamatan Diwek.
“1995 saya jualan cecek, ale, telur di pasar setiap hari, setiap subuh. Paginya mengajar,” lanjutnya.
Di tahun itu juga, ia memutuskan kuliah di STKIP PGRI Jombang dengan mengambil Pendidikan Matematika.
Perkuliahan sore hari, membuatnya lebih leluasa berkuliah sambil bekerja. “Saya akhirnya lulus 1999,” tambah dia.
Gelar sarjana matematika itulah mengubah hidupnya. Kaseri mulai masuk sebagai guru di Yayasan Darul Ulum Peterongan.
Karirnya cukup gemilang, mulai guru, wakil kepala sekolah, kepala sekolah hingga akhirnya meraih posisi pengawas pendidikan pondok.
Pengabdiannya sebagai guru itu pula yang mengantarkannya berkeliling dunia, baik untuk menempuh pendidikan maupun membagikan pengalamannya.
Sebut saja pendidikan di University of Technology Perth Australia pernah diikuti.
Juga kesempatan ke Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Thailand, Qatar, Brunei, China, Hong Kong, Jepang, Korea Selatan hingga Saudi Arabia sudah pernah disinggahi dalam berbagai kegiatan.
“Perjuangan saya selanjutnya membangun bisnis untuk menampung banyak orang dan mengelola yayasan anak yatim,” pungkas suami Nining Yadaturrohmah ini. (riz/bin/riz)
Editor : Achmad RW