Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Widiono: Pencetus Program "Madani", Toleransi Beragama Sangat Tinggi

Ainul Hafidz • Minggu, 5 November 2023 | 14:32 WIB

 

Widiono, Camat Mojowarno yang purnatugas 31 Oktober 2023 lalu
Widiono, Camat Mojowarno yang purnatugas 31 Oktober 2023 lalu

JOMBANG - Widiono yang baru purna tugas sebagai Camat Mojowarno per 31 Oktober 2023, tak pernah lepas dari dunia pertanian.

Dia  pencetus program camat dekat dengan petani (Madani) kala menjabat Camat Perak 2021 lalu.

Dengan program itu, ia berhasil memboyong juara 2 dalam lomba sinergitas kinerja kecamatan.

”Karir saya selama di pemerintahan, 28 tahun di Dinas Pertanian (disperta), 3 tahun sekcam, 3 tahun camat,” katanya kemarin.

Puluhan tahun menjadi abdi negara tak lepas dari pertanian. Termasuk mencetuskan program Madani saat menjabat Camat Perak 2021-2023.

Harapannya, desa dan kecamatan dekat dengan petani.

”Sebenarnya Madani ini program teknis pertanian, tetapi kami ingin mendukung melalui desa,” imbuh dia.

Paling utama dalam program itu memperbaiki struktur tanah karena selama ini rusak lantaran sering terkena pupuk kimia.

Hal ini yang dikhawatirkan berdampak pada tanaman yang sering terserang hama penyakit.

Tak disangka, program itu lolos di tingkat kabupaten. Hingga akhirnya menyabet juara 2 lomba sinergitas kecamatan.

”Petani juga ikut merasakan efek menggunakan pupuk organik,” tutur Widiono.

Baca Juga: Camat Ngusikan Ahmad Fahruddin Fauzi, Punya Pelayanan Cermat, Kembangkan Ekonomi Lokal

Program serupa kemudian diadopsi saat dia menjabat Camat Mojowarno Maret 2023 lalu.

”Di sana kendalanya air, hamparannya juga luas. Sehingga lebih banyak ditanami tebu, tapi di sana sudah ada pilot project untuk penggunaan pupuk organik di BPP Desa Karanglo,” lanjut dia.

Kala menjabat di Kecamatan Mojowarno, dia memiliki banyak pengalaman. Utamanya toleransi beragama sangat tinggi.

”Sambutan warga juga antusias, perangkat dan kepala desa kompak. Misalnya ada pertemuan, mereka pasti tepat waktu,” kata Widiono.

Hal itu dirasakan saat tradisi unduh-unduh di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno Mei lalu.

”Itu pertama kalinya saya mengikuti perayaan,” pungkasnya.

Baca Juga: Camat Kabuh Anjik Eko Saputro: Dampingi Petani, Kawal Industrialisasi

 

Awali Karir dari Tenaga Honorer Daerah

Sebelum menjadi PNS, sebenarnya Widiono punya cerita panjang. Awalnya ia merupakan pegawai honorer daerah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur.

Lima tahun kemudian, baru diangkat menjadi abdi negara atau tahun 1993 silam.

Widiono lahir di Desa Sambigede, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar, 6 Oktober 1965.

Masa kecil anak keempat dari lima bersaudara pasangan Samani dengan Saminem ini  dihabiskan di Blitar.

Baca Juga: Camat Kudu Wiwik Eko Ratna, Berkomitmen Layani dan Ayomi Masyarakat

”SDN Binangun 2 Blitar lulus 1980 dan melanjutkan SMP PGRI Binangun lulus 1983,” kata warga Desa/Kecamatan Perak ini.

Sejak lulus SMP, Widiono tertarik dengan pertanian. Dia lantas mendaftar di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Blitar dan tamat 1986.

”Karena rumah saya berada di lahan kering dekat dengan hutan. Sehingga pola tanamnya tergantung musim hujan atau terasering,” ujar dia.

Kala itu orang tuanya menjadi salah satu anggota kelompok tani (Poktan).

Setiap hujan turun, diminta untuk mengirim sampel tanah yang tergerus air ke penyuluh pertanian lapangan (PPL).

”Kadang bapak itu tidak bisa, akhirnya nyuruh saya,” kenang Widiono.

Karena sering bertemu petugas PPL, Widiono bisa mengetahui adanya pendaftaran pegawai Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur 1987.

”April 1988 dapat surat lolos dan diterima, waktu itu tidak langsung PNS. Masih honda atau honorer daerah ikut provinsi,” tutur dia.

Widiono kemudian ditugaskan di Disperta Jombang. Baru 1993, diangkat menjadi PNS.

”Selanjutnya 1994 ikut pra jabatan, 1995 mau melanjutkan kuliah ke Undar. Ternyata tidak diberi rekomendasi, kecuali kuliahnya sore. Takut mengganggu tugas,” ujarnya.

Dia lalu melanjutkan pendidikan S1 Fakultas Pertanian Universitas Kadiri, Kediri lulus 2002.

Sementara S2 Fakultas Pertanian Universitas Wijaya Kusuma Surabaya lulus 2007. (fid/bin/riz) 

Editor : Achmad RW
#Mojowarno #Pertanian #Camat