"Sebenarnya dulu tidak mempunyai niat masuk ke dunia politik, karena saya tidak mempunyai basic itu," ujar Sunardi saat diwawancarai wartawan koran ini.
Sebagai orang kampung, ia mengawali pendidikannya di SDN 1 Tampingmojo lulus 1980. Kemudian melanjutkan ke SMP Madinatul Ulum Tembelang lulus 1983. Masih di lembaga yang sama, ia melanjutkan SMA dan lulus 1986. "Karena cita-cita saya kerja di pertambangan, maka saya tidak melanjutkan kuliah dulu, tapi fokus mencari kerja," kenang warga Desa Tampingmojo, Kecamatan Tembelang ini.
Akhirnya, anak ke-4 dari enam bersaudara pasangan H Yasin dan Hj Sulasih ini merantau ke Kalimantan. Sunardi bekerja di pertambangan. Pekerjaan itu dijalaninya dari nol sebagai kuli pertambangan. Seiring dengan dedikasi dan etos kerja yang ditunjukkan, ia kemudian berangsur-angsur menduduki jabatan tertentu.
"Dulu itu kuli yang turun ke hutan untuk mencari sumber tambang. Terakhir menjabat senior supervisor PT Arutmin Indonedia di Jakarta," katanya. Selama bekerja di pertambangan itu Sunardi juga melanjutkan pendidikan dengan mengambil program Diploma 3 Teknik Pertambangan di Akademi Teknik Pembangunan Nasional.
"Pada 2001 akhirnya saya memutuskan pulang kampung," katanya. Berbekal modal yang dikumpulkan selama di perantauan, dia langsung membuka usaha di bidang pertanian dan material. "Jadi saya usaha tebu-tebuan sama material," tambah bapak tiga anak ini.
Lantas bagaimana ia bisa menjadi wakil rakyat dua periode berturut-turut? Sunardi mengaku sebenarnya tidak ada niatan menjadi wakil rakyat. Ia lantas menceritakan, saat itu ada pendaftaran calon legislatif (caleg), mengantarkan temannya yang mau ikut berkompetisi, melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP). "Saya itu cuma mengantar teman dan tidak ada niatan untuk mendaftar," bebernya.
Namun, setelah temannya tidak lolos secara administrasi. Sunardi justru mengikuti ajakan teman dan dipaksa untuk menggantikan. Ia kemudian mendapat lampu hijau dari PPP untuk maju di daerah pemilihan (Dapil) 5 yang sekarang menjadi Dapil 6. Dia terpilih sebagai anggota DPRD Jombang 2014 silam.
"Dulu bu nyai (Mundjidah Wahab, Red) sendiri juga mendukung dan memotivasi untuk maju. Akhirnya saya maju," kenangnya. Padahal, saat itu sang istri, Mulyanah, merasa tidak yakin bila dirinya mendaftar menjadi anggota dewan. "Istri juga kaget saya mau mencalon. Tapi akhirnya didukung hingga sekarang," tambahnya.
Bekal kedisiplinan yang didapatkan di perantauan terus diterapkan hingga sekarang. Sikap disiplin itu pula yang ditunjukkan dalam menyalurkan aspirasi masyarakat. Kini, ia merasa bersyukur bisa bermanfaat untuk masyarakat. Amanah yang diembannya bahkan dua periode berturut-turut. "Karena menjadi anggota dewan ini sebagai penyambung lidah rakyat," tegasnya.
Aktivitas sehari-harinya cukup padat. Ketiga anaknya, masing-masing Ardi Kurniawan, Ian Duwi Ashari dan Nia Fadia Suryaningwati, sudah dewasa dan memiliki kegiatan sendiri-sendiri. Meski begitu, komunikasi dengan keluarga terus dilakukan setiap waktu. "Komunikasi keluarga itu sangat penting. Bila tidak bertugas, saya menyempatkan minimal makan bersama keluarga," pungkas Sunardi. (yan/bin/riz)
Editor : Achmad RW