Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

dr Antina Nevi Hidayati SpKj, Dokter Spesialis Jiwa Karena Panggilan Hati

Achmad RW • Rabu, 29 Juni 2022 | 15:03 WIB
Antina Nevi Hidayati SpKj
Antina Nevi Hidayati SpKj
JOMBANG – dr Antina Nevi Hidayati, SpKj merupakan satu-satunya dokter spesialis kedokteran jiwa di RSUD Jombang. Menjadi dokter spesialis kedokteran jiwa merupakakan panggilan hati, agar bisa membawa manfaat lebih untuk orang lain.

”Menurut saya, dulu spesialis jiwa itu sangat jarang diminati, sedangkan banyak masyarakat yang membutuhkan tenaga yang ahli di bidang itu,” ungkap dokter penanggung jawab pasien di Poli Kesehatan Jiwa RSUD Jombang.

Ia merupakan alumni SMAN 2 Jombang. Sejak dulu ia memang lebih suka dengan ilmu psikologi. Salah satu buku yang membuatnya termotivasi adalah Sybil, kisah nyata seorang gadis dengan 16 kepribadian, karya Flora Rheta Schreiber.

Buku yang ia temukan di perpustakaan SMAN 2 Jombang itu yang membuatnya jatuh cinta dengan psikologi. ”Sebetulnya buku itu tidak ada hubungannya dengan keilmuan saya, tapi saya suka, setiap saya ke perspustakaan, buku yang saya cari adalah buku psikologi,” katanya.

Setelah lulus SMA, ia yang awalnya ingin mengambil psikologi, akhirnya memilih mendengarkan saran dari kedua orang tuanya untuk melanjutkan ke fakultas kedokteran di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Ia masuk tahun 1994 dan lulus tahun 2000. ”Yang saya inginkan adalah bidang karir yang membawa manfaat besar bagi orang banyak,” jelasnya.

Menurutnya, restu kedua orang tua merupakan hal  yang tidak bisa ditawar. Ia bisa berada hingga titik ini karena restu dari orang tua. Dengan mengikuti pilihan orang tua, membuat jalan karirnya mulus. ”Ya meskipun ada hal yang dikorbankan, yaitu waktu kebersamaan bersama keluarga, mungkin karena itu anak-anak tidak mau jadi dokter, sering ditinggal-tinggal, sekolahnya lama,” katanya.

Setelah lulus kuliah, ia menikah 2001 dengan Muhammad Rosyid Ridlo, ST. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di spesialis jiwa mulai tahun 2010-2015. Sementara kesehatan jiwa ia pilih karena ia pertama kali koas di psikiatri. ”Tapi sempat juga ingin ke syaraf, ke penyakit dalam. Dan lebih terpanggil lagi, saat itu ada kerabat yang sampai meninggal karena depresi, baru menyadari baru saat itu spesialis jiwa minim peminat, sampai pasien seperti kerabat saya tidak tertangani,” jelasnya.

Ia mengaku puas saat ia bisa menangani orang-orang dengan masalah kejiwaan. Sesuai dengan cita-citanya, dan bisa mendampingi pasien berobat hingga sembuh. ”Setelah cita-cita tercapai, ada satu kepuasan tersendiri, bisa mendengarkan cerita-cerita dari orang-orang yang memiliki gangguan jiwa,” katanya.

dr Nevi merupakan satu-satunya dokter spesialis jiwa di RSUD Jombang. Ia mulai bertugas tahun 2015. Ia kemudian menjadi dokter penanggung jawab pasien di poli kesehatan jiwa RSUD Jombang. Di Komite Medik ia sebagai sekretaris komite kredensial. Ia juga merupakan anggota komite farmasi dan terapi RSUD Jombang.

Selanjutnya......

Keluarga Tetap Nomor Satu

KELUARGA menjadi bagian yang harus diprioritaskan. Setelah sampai di rumah, dr Nevi mencurahkan seluruh waktunya untuk keluarga.

”Saya sengaja membatasi praktik agar bisa memiliki waktu untuk keluarga,” ungkap ibu tiga anak ini.

Kepada keluarganya khususnya kepada anak, ia tak ingin mengekangnya dalam hal memilih karir. ”Meskipun anak-anak memiliki bakat untuk menjadi dokter, tapi saya tidak memaksakan,” ungkapnya.

Kepada ketiga anaknya ia selalu memantau apa saja aktivitasnya, aktif menjalin komunikasi, dan selalu memberikan nasehat, jika ada kegiatan yang kurang pas. ”Alhamdulillah-nya, sampai sekarang mereka aman-aman saja, kegiatannya positif, tapi tetap saya pantau terus,” jelasnya.

Mengenai pendidikan, ia memberikan keleluasaan kepada anak-anaknya untuk memilih. Seperti kepada si sulung, ia memilih tidak menjadi dokter, dan diterima pada jalur SNMPTN di ITS tahun ini. ”Mungkin dia tidak mau jadi dokter karena sekolahnya lama, waktu untuk keluarga juga sedikit, lihat dari ibunya begitu,” ungkapnya sembari tertawa.

Menurut Nevi, menjadi dokter harus mengambil banyak risiko. Salah satunya berkorban waktu dengan keluarga. Ia pernah Lebaran tidak pulang, saat ditugaskan di Gorontalo. Sehari-hari ia aktif di RSUD Jombang, ia juga sering melewatkan banyak acara keluarga karena jadwalnya bentrok dengan tanggung jawabnya di kantor. ”Dalam sehari biasanya 30-an pasien. Pernah sampai 70 pasien, kita layani saja,” ungkap dokter spesialis jiwa di RSUD Jombang ini.

Dukungan suami membuatnya bisa menjalani semua tanggung jawab dengan enjoy. Tidak ada tuntutan wajib memasak setiap hari, atau menjalani tugas sebagai ibu rumah tangga pada umumnya. ”Kalau tanpa dukungan suami, tidak mungkin saya bisa berada di sini. Keluarga sangat mendukung, kalau saya masak ya makan masakan saya, kalau saya tidak masak, mereka juga tidak menuntut apa-apa, karena memang mengerti tugas dan tanggung jawab saya dalam pekerjaan,” katanya. (wen/naz) Editor : Achmad RW
#Rubrik Wanita #wanita #dokter jiwa #dokter #RSUD Jombang #inspiratif