RadarJombang.id – Masyarakat Desa Kedungturi, Kecamatan Gudo memiliki cara tersendiri dalam menghormati jasa para leluhur desa.
Salah satunya dilakukan Pemdes Kedungturi dengan rutin menggelar doa bersama pada bulan Muharam di makam keramat yang ada di Dusun Turi 1.
Lokasi tersebut merupakan kompleks makam yang diyakini oleh masyarakat sebagai tokoh babat alas sekaligus lurah pertama Desa Kedungturi yaitu makam Mbah Mertodarmo atau Mbah Bau.
Kata Bau berasal dari istilah mbahu yang memiliki arti pemimpin lurah atau kepala desa pada masanya.
Di kompleks makam tersebut terdapat empat makam. Makam Mbah Mertodarmo beserta istri dan makam Mbah Mertodikromo (mbah carek) beserta istri.
Konon, penamaan Desa Kedungturi juga tak lepas dari keberadan sosok Mbah Bau.
Dinamakan Kedungturi karena dahulu di lokasi tersebut terdapat sebuah waduk kecil (kedung) yang d isekelilingnya dipenuhi dengan tanaman turi.
Pemerintah Desa (Pemdes) Kedungturi berperan aktif mendukung kegiatan yang diadakan oleh masyarakat desa.
”Salah satu yang kami lakukan, yakni mempercantik lokasi makam dengan membangun pagar gapura makam yang juga merupakan wujud bagian visi misi saya sebagai kepala desa,” ujar Kepala Desa Kedungturi Sugito.
Para warga setempat rutin menggelar doa bersama pada malam hari di bulan Muharam, dilanjutkan dengan rangkaian kegiatan tabur bunga dan ujub jawa.
Selain doa bersama di makam leluhur, rangkaian acara sedekah dusun dilanjutkan dengan salawat bersama pada keesokan harinya.
Baca Juga: Peringati Bulan Muharam, Pemdes Bedahlawak Jombang Gelar Sedekah Desa, Ini Tujuannya
Sugito menjelaskan, bahwa rangkaian acara sedekah dusun dilakukan untuk merawat sejarah.
”Kami tidak ingin anak cucu kami melupakan sejarah leluhurnya, nguri-uri sejarah perlu dilestarikan agar tidak punah ke depannya,” pungkasnya. (dwi/naz/riz)
Editor : Achmad RW