Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Pemdes Sumbernongko, Ngusikan Jombang Rutin Gelar Sedekah Desa Tiap Bulan Selo, Ini Tujuannya

Ainul Hafidz • Rabu, 15 Mei 2024 | 13:30 WIB
Kades Sumbernongko Sumartono (kanan berkopiah hitam) bersama perangkat desa mengikuti sedekah desa di pendopo Balai Desa Sumbernongko, Selasa (14/5).
Kades Sumbernongko Sumartono (kanan berkopiah hitam) bersama perangkat desa mengikuti sedekah desa di pendopo Balai Desa Sumbernongko, Selasa (14/5).

RadarJombang.id – Pemerintah desa (Pemdes) Sumbernongko, Kecamatan Ngusikan, Jombang menggelar sedekah desa, Selasa (14/5).

Tradisi ini turun temurun dari leluhur yang dihelat setiap memasuki bulan Selo.

Kades Sumbernongko Sumartono mengatakan, sedekah desa merupakan agenda rutinan setiap tahun di semua dusun.

Puncak acara berlangsung di pendopo balai desa setempat.

”Sedekah bumi ataupun sedekah desa ini rutin setiap tahun, dilaksanakan setiap bulan Selo,” katanya.

Desa Sumbernongko memiliki lima dusun. Meliputi Dusun Cangak, Candi, Sumbernongko, Nongko dan Dusun Mernungkidul.

”Di setiap dusun juga menyelenggarakan sedekah bumi di hari yang sama, tapi puncaknya fokus di balai desa,” imbuh dia.

Sampai sekarang, desa masih mempertahankan dan merawat tradisi leluhur tersebut.

Jadwal pelaksanaan sedekah desa juga tidak diubah.

”Dilaksanakan setiap bulan Selo, tanggalnya tidak ditentukan,” ujar Sumartono.

Sehingga bulan Selo itu dijadikan tetenger masyarakat sebagai hajatan besar setiap tahun.

Baca Juga: Begini Cara Pemdes Gambiran, Mojoagung Jombang Wujudkan Ikon Kampung Olahan Ikan Asap

”Kalau tidak mengadakan masyarakat akan menuntut dan biasanya tanya, kapan sedekah desa,” tutur dia.

Tidak diketahui persis kenapa tradisi sedekah desa dilaksanakan setiap Selo.

”Yang jelas masuk awal Selo itu sejak dulu ada sedekah desa,” tambahnya.

Selama prosesi sedekah desa ini masyarakat membawa tumpeng ke balai desa. Dilanjutkan doa bersama. 

”Tujuannya selain melanjutkan tradisi leluhur, juga sebagai uri-uri budaya. Agar masyarakat desa terhindar dari malapetaka, bencana dan jadi tolak balak,” ujar Sumartono.

Setelah doa selesai, tumpeng kemudian dimakan bersama.

Dilanjutkan dengan panggung hiburan tradisional.

Kali ini, pemdes memilih pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

”Tahun-tahun sebelumnya hiburannya ludruk, tahun ini kita ubah wayang kulit. Biar masyarakat tidak bosan,” ujar dia.

Diharapkan, upaya pemdes untuk uri-uri budaya lokal itu berdampak signifikan kepada masyarakat.

Dengan adanya panggung hiburan itu ekonomi masyarakat juga secara tak langsung ikut terangkat.

”Semoga masyarakat juga rukun, sehat dan diberi rezeki yang lancar serta terhindar dari musibah,” pungkasnya. (fid/bin/riz)

 

 

Editor : Achmad RW
#sedekah desa #Ngusikan #Jombang #sumbernongko #Pemdes