RadarJombang.id – Pemerintah desa (Pemdes) Gedongombo, Kecamatan Ploso, Jombang memiliki sentra anyaman bambu di desanya.
Agar kerajinan anyaman babu ini tetap bertahan, Pemdes Gedongombo mengelolanya melalui BUMDes Gedongombo Jaya.
Lewat sejumlah fasilitas yang diberikan BUMDes Gedongombo Jaya, para perajin anyaman bambu pun tetap berproduksi dan ikut mendongkrak perekonomian warga.
”Untuk anyaman bambu mayoritas ada di Dusun Balong Mojo,” kata Lasiman Kades Gedongombo kepada RadarJombang.id, Rabu (7/2).
Ia menyampaikan Desa Gedongombo memiliki enam dusun. Meliputi Dusun Balong, Gedong, Kalianyar, Sukoanyar, Kalimati dan Dusun Balong Mojo.
Dikatakan, kerajinan anyaman bambu sebenarnya sudah ada sejak lama sampai turun temurun keluarga.
”Bahkan dulu sampai 20 kepala keluarga (KK) yang membuat,” imbuh dia.
Seiring berjalannya waktu, jumlah perajin terus berkurang. Sampai sekarang yang masih bertahan, ada 10 KK.
Hasil produksi di antaranya menjadi tomblok atau keranjang dan cikrak.
”Tergantung yang mesan apa saja, tapi rata-rata buat tomblok dan cikrak,” tutur Lasiman.
Agar kerajinan itu tetap bertahan, sekarang masih dikelola BUMDes Gedongombo Jaya.
Baca Juga: Kembangkan Potensi Wisata Lokal, Cara Pemdes Wonomerto, Wonosalam Jombang Tingkatkan PADesa
”Kami juga sudah pernah mengadakan pelatihan untuk pengembangan, jadi mendatangkan pelatih untuk membuat tempat tisu, songkok dan sebagainya,” lanjut dia.
Namun produk baru tersebut tak bertahan lama karena terkendala pemasaran.
”Sehingga warga yang sudah membuat tempat tisu dan songkok, balik lagi menganyam cikrak dan tomblok,” tambahnya.
Meski demikian, hasil evaluasi yang dilakukan kini harus memikirkan sistem pemasarannya.
Tak sekadar pelatihan, ada upaya pengembangan dan pemasaran agar perajin tetap produksi.
”Jadi sifatnya sekarang kondisional, tempat tisu kalau ada yang pesan saja, juga kopyah,” ujar Lasiman.
Ia menyebut, rata-rata perajin anyaman bambu sudah memiliki pelanggan. Keranjang dan cikrak dijual hingga ke luar Jombang.
”Jadi ada yang dijual langsung ke pasar di Mojokerto dan Lamongan, tanpa lewat tengkulak,” tutur dia.
Diharapkan, ke depan anyaman bambu bisa mendongkrak perekonomian warganya. Selain bercocok tanam sebagai petani.
”Jadi menganyam ini bukan full mata pencaharian warga, melainkan tambahan. Karena rata-rata mereka bertani, seperti sekarang tanam kangkung, ketika musim kemarau tanam tembakau,” pungkasnya. (fid/bin/riz)
Editor : Achmad RW