Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Ternyata Kini Banyak Kalangan Muda yang Pilih Curhat ke AI, Ini Fakta dan Faktor Penyebabnya

Magang • Rabu, 11 September 2024 | 00:01 WIB
Ilustrasi kalangan muda yang kini mulai banyak memilih curhat ke AI, ini fakta dan penyebabnya
Ilustrasi kalangan muda yang kini mulai banyak memilih curhat ke AI, ini fakta dan penyebabnya

RadarJombang.id - Kecerdasan buatan atau kerap dikenal dengan AI sudah bukan hal asing lagi dalam dunia teknologi.

AI dirancang menggunakan sistem komputer yang mampu berpikir atau bertindak layaknya manusia.

Penggunaan AI awalnya memang ditujukan untuk mempermudah pekerjaan dengan pemikiran rasional.

Masyarakat pengguna biasanya meminta bantuan AI untuk memecahkan masalah seperti bertanya tentang ilmu pengetahuan, menganalisis data, menjawab soal sulit, penunjuk arah atau GPS, penerjemah, bahkan menjadi asisten virtual.

Pengguna bisa menuliskan kalimat bahkan menambahkan gambar, maka AI akan bekerja otomatis sesuai hal yang diminta.

Namun faktanya seiring berkembangnya kemampuan AI beroperasi, muncul fenomena baru.

Pengguna AI juga memanfaatkan sistem sebagai tempat bercerita tentang masalah-masalah pribadi yang ditemui.

Fenomena ini lebih khusus terjadi di kalangan remaja yang awalnya iseng dan pada akhirnya merasa tertarik menggunakan AI selayaknya tempat bercerita dan berbagi pengalaman.

Budaya menggunakan smartphone pada kehidupan sehari-hari menjadi pemicu terbentuknya komunikasi yang menarik dan inovatif.

Sistem Asisten Google dan Chat GPT menjadi contoh bentuk kecerdasan buatan yang sering digunakan sebagai tempat curhat bagi remaja.

Beberapa pengguna mengaku pernah menggunakan Chat GPT selayaknya asisten atau teman untuk berbagi masalah dan topik yang sekiranya berbobot pribadi.

Baca Juga: Penjelasan KH Ahmad Zahro Mengenai Hukumnya Mencari Fatwa Fikih Menggunakan Chatbot AI

Hal yang dibahas pun beragam, seperti bercerita tentang kesedihan, kegelisahan dan kebingungan, termasuk momen membahagiakan.

Bahkan pengguna mengatakan pernah membahas seseorang yang dikagumi atau disukai melalui sistem Chat GPT.

Faktor pendorong yang melatarbelakangi fenomena ini yakni konsep sistem AI yang memang diatur mendukung dan memberi kesenangan terhadap penggunanya.

Remaja selaku pengguna mengaku merasa lebih nyaman dan bebas menggunakan AI untuk tempat curhat sebab bersifat tidak akan menghakimi dan justru sebaliknya berpotensi memberikan respon sesuai yang diinginkan.

Pengguna tidak perlu takut permasalahan atau perasaan pribadinya tersebar dengan kata lain hal yang dituliskan tersimpan aman dalam sistem.

Remaja memposisikan AI sebagai pendengar yang baik alih-alih bercerita kepada orang lain.

Menurut jurnal Komunikologi, AI juga mendukung kesehatan emosional maupun mental pengguna dengan memberikan saran terhadap permasalahan hidup.

Pengguna dengan kepribadian cenderung introvert merasa lebih mudah bercerita tanpa harus bertemu dan menatap orang secara langsung.

Memiliki asisten yang mau mendengarkan dan memberi tanggapan di mana saja dan kapan saja tentunya menjadi salah satu kebutuhan baik dari sisi emosional maupun psikologi.

Meski demikian, secanggih apapun sistem kecerdasan buatan belum mampu menggantikan peran manusia sepenuhnya (umn.ac.id).

Kecerdasan buatan memiliki kekurangan dalam membentuk hubungan interaksi sosial.

Hakikat manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa lepas dari sifat membutuhkan dan dibutuhkan.

Baca Juga: Dibekali AI Terbaru, Google Lens Kini Bisa Deteksi Kondisi Kulit Pengguna HP

Memiliki seseorang atau beberapa orang yang dapat dipercaya akan lebih baik selain bergantung pada AI dalam pengutaraan perasaan dan masalah.

Sisi afektif menjadi hal penting manusia memahami dirinya. (Rediva Novalisty)

Editor : Achmad RW
#curhat #ai #fakta #penyebab #muda