Radarjombang.id - Memiliki rumah sendiri masih menjadi impian banyak orang. Namun, di tengah harga properti yang terus melambung dan biaya hidup yang semakin tinggi, impian tersebut kerap terasa sulit diwujudkan, terutama bagi generasi muda. Realitas inilah yang diangkat dalam film Home Sweet Loan, sebuah drama keluarga yang menyentuh dan sarat dengan pesan sosial.
Film produksi Visinema Pictures yang disutradarai Sabrina Rochelle Kalangie ini merupakan adaptasi dari novel populer karya Almira Bastari. Dengan durasi 112 menit, Home Sweet Loan mengajak penonton menyelami perjuangan seorang perempuan muda bernama Kaluna dalam mewujudkan impian memiliki rumah sendiri.
Kaluna, yang diperankan Yunita Siregar, digambarkan sebagai pekerja kantoran yang hidup bersama keluarganya di rumah yang sudah tidak lagi nyaman untuk dihuni bersama. Kondisi tersebut membuatnya bertekad mencari hunian sendiri. Namun perjalanan menuju impian itu tidak mudah. Meski memiliki pekerjaan tetap dan penghasilan tambahan, harga rumah yang tinggi membuat target tersebut terasa semakin jauh.
Melalui kisah Kaluna, film ini menampilkan berbagai persoalan yang akrab dengan kehidupan masyarakat urban. Mulai dari sulitnya mencari rumah dengan harga terjangkau, lingkungan yang kurang mendukung, hingga kekhawatiran terhadap risiko banjir yang masih menjadi pertimbangan banyak calon pembeli rumah.
Tak hanya menyoroti persoalan finansial, Home Sweet Loan juga mengangkat dinamika keluarga yang kompleks. Kaluna harus menghadapi tekanan sebagai bagian dari generasi sandwich, yaitu kelompok usia produktif yang harus memenuhi kebutuhan diri sendiri sekaligus membantu keluarga. Konflik-konflik tersebut membuat cerita terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari banyak penonton.
Salah satu kekuatan film ini terletak pada cara penyampaian pesannya. Isu sosial yang berat disajikan melalui dialog-dialog ringan dan situasi yang terasa realistis. Penonton tidak hanya diajak mengikuti perjalanan Kaluna mencari rumah, tetapi juga memahami berbagai tekanan yang dihadapi generasi muda saat berusaha membangun masa depan.
Akting Yunita Siregar menjadi daya tarik tersendiri dalam film ini. Ia berhasil menampilkan sosok Kaluna sebagai perempuan pekerja yang tangguh namun tetap menyimpan banyak kegelisahan. Emosi yang dibangun sepanjang film terasa natural dan mampu membuat penonton ikut larut dalam perjuangan yang dialami tokoh utama.
Nuansa haru semakin terasa dengan kehadiran lagu "Berakhir di Aku" dari Idgitaf dan "Rumah" yang dibawakan Salma Salsabil. Kedua lagu tersebut hadir di momen-momen penting dan memperkuat emosi yang ingin disampaikan dalam cerita.
Selain itu, sutradara juga menyisipkan sejumlah simbol menarik, salah satunya melalui sosok kelomang yang menjadi metafora pencarian tempat tinggal dan rasa aman dalam hidup. Film ini juga menyinggung isu Tapera yang sempat menjadi perhatian publik, sehingga membuat ceritanya terasa semakin relevan dengan kondisi saat ini.
Meski masih memiliki beberapa kekurangan pada penyelesaian konflik dan pengembangan kisah romansa, Home Sweet Loan tetap berhasil menyajikan tontonan yang hangat dan menyentuh. Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton merenungkan kembali arti rumah, keluarga, dan perjuangan dalam kehidupan.
Bagi penonton yang sedang berjuang mewujudkan impian di tengah berbagai keterbatasan, Home Sweet Loan menjadi film yang mudah untuk dipahami dan dirasakan. Kisahnya mungkin sederhana, tetapi pesan yang ditinggalkan terasa dekat dengan realitas yang dihadapi banyak orang saat ini.
Editor : Anggi Fridianto