Radarjombang.id – Mendaki gunung sering kali dianggap sebagai aktivitas yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki pengalaman dan kondisi fisik prima.
Padahal, tidak semua gunung memiliki jalur yang ekstrem. Bagi masyarakat yang ingin mulai mengenal dunia pendakian, Mojokerto menawarkan sejumlah pilihan gunung dan bukit dengan karakter jalur yang relatif bersahabat untuk pemula.
Berada di kaki Pegunungan Arjuno-Welirang dan Anjasmoro, wilayah Mojokerto memiliki bentang alam yang beragam. Mulai dari perbukitan dengan jalur pendek hingga gunung dengan medan yang cukup menantang dapat ditemukan di daerah ini. Menariknya, beberapa di antaranya justru sering dijadikan lokasi latihan bagi pendaki yang baru pertama kali menginjakkan kaki di jalur pendakian.
Baca Juga: Sosok Nurul Hidayati, Guru SMKN Mojoagung Jombang yang Geluti Pencak Silat dan Hobi Mendaki Gunung
Berikut lima destinasi pendakian yang layak dipertimbangkan bagi pemula yang ingin mulai menjelajahi alam pegunungan Mojokerto.
1. Watu Jengger
Di kalangan pendaki Mojokerto, Watu Jengger sering menjadi nama pertama yang direkomendasikan kepada pemula. Berlokasi di Dusun Nawangan, Kecamatan Jatirejo, bukit yang berada di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut ini menawarkan jalur yang relatif singkat dengan panorama yang cukup memuaskan.
Perjalanan menuju puncak umumnya dapat ditempuh dalam waktu satu hingga dua jam. Pada awal pendakian, pengunjung akan melewati area perkebunan warga dengan jalur tanah yang cukup landai. Memasuki pertengahan perjalanan, medan mulai menanjak namun masih dapat dilalui tanpa teknik pendakian khusus. Beberapa titik istirahat tersedia di sepanjang jalur sehingga pendaki dapat mengatur ritme perjalanan dengan lebih nyaman.
Salah satu daya tarik utama Watu Jengger adalah jalur punggungannya yang terbuka. Saat cuaca cerah, pendaki dapat menikmati panorama perbukitan dan pegunungan tanpa terhalang pepohonan tinggi. Kondisi tersebut membuat Watu Jengger dikenal sebagai salah satu lokasi favorit untuk berburu matahari terbit di Mojokerto. Banyak pendaki memilih memulai perjalanan pada dini hari agar dapat menyaksikan semburat cahaya matahari yang perlahan muncul dari balik pegunungan. Tidak sedikit pula komunitas pecinta alam yang menjadikan Watu Jengger sebagai lokasi latihan pendakian malam karena jalurnya relatif mudah dipahami dan tidak terlalu panjang.
Selain akses yang mudah dijangkau kendaraan roda dua maupun roda empat, kawasan ini juga telah memiliki fasilitas dasar yang cukup memadai. Biaya masuk umumnya berada pada kisaran Rp10.000 per orang, meskipun tarif dapat berubah mengikuti kebijakan pengelola.
2. Gunung Lorokan
Jika Watu Jengger dikenal sebagai lokasi latihan pendakian, Gunung Lorokan di Desa Sendi, Kecamatan Pacet, menawarkan pengalaman yang bahkan lebih santai. Gunung dengan ketinggian 1.100 mdpl ini kerap menjadi tujuan wisata keluarga maupun komunitas yang ingin menikmati suasana pegunungan tanpa harus menghadapi jalur yang terlalu berat.
Waktu tempuh menuju area puncak rata-rata hanya sekitar satu hingga satu setengah jam. Jalurnya didominasi tanjakan ringan dengan beberapa titik datar yang memungkinkan pendaki beristirahat sejenak. Di sepanjang perjalanan, pengunjung akan disuguhi pemandangan perbukitan hijau dan kawasan hutan yang masih cukup asri.
Salah satu hal yang membuat Lorokan berbeda dibanding destinasi pendakian pemula lainnya adalah keberadaan sejumlah objek wisata pendukung di kawasan tersebut. Selain menikmati suasana pegunungan, pengunjung juga dapat mengunjungi Air Terjun Sumber Waringin yang berada tidak jauh dari jalur wisata.
Banyak wisatawan memilih menikmati kesegaran air terjun terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan menuju area puncak. Jalur menuju Lorokan juga menawarkan panorama persawahan, area perkebunan, serta beberapa spot foto yang cukup populer di kalangan pengunjung.
Fasilitas yang tersedia pun tergolong lengkap. Warung, gazebo, musala, area istirahat, hingga camping ground tersedia untuk menunjang kenyamanan pengunjung. Tiket masuk yang dikenakan sekitar Rp15.000 per orang dan sudah termasuk voucher senilai Rp5.000 yang dapat ditukarkan dengan makanan atau minuman di warung yang berada di kawasan wisata. Keunikan inilah yang membuat Lorokan menjadi salah satu destinasi pendakian ringan yang cukup diminati masyarakat Mojokerto dan sekitarnya.
Nama Gunung Bekel mungkin tidak sepopuler Penanggungan, tetapi justru di sinilah letak keistimewaannya. Gunung dengan ketinggian 1.238 mdpl ini menawarkan jalur yang relatif ramah bagi pemula sekaligus menghadirkan nuansa sejarah yang jarang ditemukan di lokasi pendakian lainnya.
Pendakian biasanya dimulai dari kawasan Jolotundo, Trawas. Dari titik awal hingga puncak, perjalanan umumnya memakan waktu dua hingga tiga jam. Jalur yang dilalui berupa jalan tanah, akar pepohonan, serta tanjakan yang cenderung bertahap. Meski beberapa bagian cukup menguras tenaga, medan secara keseluruhan masih tergolong aman bagi pendaki yang baru belajar.
Yang membuat Bekel berbeda adalah keberadaan sejumlah situs dan peninggalan sejarah di kawasan lerengnya. Jalur pendakian berada tidak jauh dari Petirtaan Jolotundo, salah satu peninggalan bersejarah yang dipercaya telah ada sejak masa Kerajaan Kahuripan. Karena itu, banyak pendaki memanfaatkan perjalanan ke Bekel sekaligus untuk berwisata sejarah. Perpaduan antara panorama alam dan nilai budaya menjadikan pengalaman mendaki di kawasan ini terasa lebih berkesan dibanding sekadar mengejar puncak.
Di beberapa titik perjalanan tersedia area yang biasa digunakan untuk beristirahat sebelum melanjutkan pendakian. Saat cuaca cerah, puncak Gunung Bekel menawarkan pemandangan kawasan Trawas, lereng Penanggungan, hingga gugusan pegunungan di sekitarnya.
4. Bukit Cendono
Banyak orang mengira Bukit Cendono merupakan pendakian yang sangat mudah karena ketinggiannya hanya berkisar 1.131 mdpl. Namun anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Meski tidak terlalu tinggi, karakter jalur Cendono cukup unik karena didominasi tanjakan yang berlangsung hampir sepanjang perjalanan menuju puncak.
Pendakian dimulai dari kawasan Desa Kemiri, Pacet. Jalur awal melewati area persawahan dan kebun warga sebelum memasuki kawasan hutan yang lebih rapat. Semakin mendekati puncak, kemiringan jalur mulai terasa lebih konsisten sehingga stamina pendaki benar-benar diuji.
Baca Juga: Tradisi Sedekah Bumi Desa Karangpakis Kabuh Jombang Meriah dengan Gunungan Hasil Bumi
Karena alasan tersebut, banyak komunitas pendaki menjadikan Cendono sebagai tempat latihan fisik sebelum mencoba gunung yang lebih tinggi. Meski demikian, pemandangan yang disuguhkan dari puncak mampu menjadi kompensasi atas tenaga yang dikeluarkan. Hamparan Pegunungan Anjasmoro dan kawasan Pacet terlihat jelas dari beberapa titik pandang yang ada di sekitar puncak.
Selain tanjakannya yang terkenal, Bukit Cendono juga memiliki kawasan hutan pinus yang menjadi daya tarik tersendiri. Deretan pohon pinus yang menjulang menciptakan suasana sejuk dan tenang, sekaligus menjadi lokasi favorit pengunjung untuk berfoto. Pada malam hari, area camping di sekitar bukit juga sering dimanfaatkan untuk menikmati suasana pegunungan dan langit yang relatif minim polusi cahaya.
Bagi pemula yang ingin meningkatkan kemampuan sebelum mendaki gunung yang lebih tinggi, Cendono dapat menjadi pilihan yang menarik.
5. Gunung Pundak
Di antara lima destinasi dalam daftar ini, Gunung Pundak dapat dikatakan sebagai yang paling menantang. Dengan ketinggian 1.585 mdpl, gunung yang berada di kawasan Claket, Pacet, ini sering dianggap sebagai gerbang menuju pendakian gunung yang lebih serius.
Meski demikian, Pundak tetap banyak direkomendasikan kepada pemula yang sudah memiliki pengalaman hiking atau pernah mendaki bukit-bukit yang lebih ringan. Waktu tempuh menuju puncak rata-rata berkisar dua hingga tiga jam. Jalur awal masih didominasi hutan pinus yang teduh, namun tanjakan mulai terasa lebih konsisten setelah melewati beberapa titik istirahat.
Pendaki akan menemukan beberapa area yang kerap digunakan untuk beristirahat maupun mendirikan tenda. Saat cuaca cerah, puncak Gunung Pundak menyajikan panorama yang luas ke arah Arjuno, Welirang, hingga kawasan pegunungan lainnya di Jawa Timur. Lanskap tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Pundak tetap populer di kalangan pendaki pemula maupun pendaki berpengalaman.
Selain panorama puncak, suasana camping di Gunung Pundak juga menjadi daya tarik tersendiri. Banyak pendaki memilih bermalam untuk menikmati udara pegunungan yang sejuk serta pemandangan lampu-lampu permukiman yang terlihat dari kejauhan saat malam hari. Bagi mereka yang ingin merasakan pengalaman bermalam di gunung tanpa harus mendaki gunung dengan tingkat kesulitan tinggi, Pundak sering menjadi pilihan yang tepat.
Karena tingkat kesulitannya sedikit lebih tinggi dibanding destinasi sebelumnya, Pundak sering dianggap sebagai langkah lanjutan bagi mereka yang telah memiliki pengalaman pendakian dasar. Dengan kata lain, gunung ini masih cocok untuk pemula, tetapi bukan untuk mereka yang benar-benar belum pernah mendaki sama sekali.
Mendaki pada akhirnya bukan soal seberapa tinggi puncak yang berhasil dicapai, melainkan bagaimana seseorang menikmati setiap proses perjalanan. Bagi pemula yang ingin memulai hobi ini, Mojokerto menawarkan banyak pilihan yang memungkinkan pengalaman pertama berlangsung lebih aman dan menyenangkan.
Mulai dari Watu Jengger yang bersahabat, Lorokan yang nyaman untuk wisata keluarga, Bekel yang sarat nilai sejarah, Cendono yang melatih ketahanan fisik, hingga Pundak yang menjadi gerbang menuju pendakian yang lebih menantang, semuanya memiliki karakter tersendiri yang layak untuk dijelajahi. (Laili Hijriyah Zulfia Putri/ang)
Editor : Anggi Fridianto