Di sudut kota Amsterdam, aroma terasi, lodeh, dan rendang khas Jawa Timur justru menjadi pengikat rindu bagi banyak warga Indonesia.
Di balik dapur sederhana yang melayani makanan untuk dibawa pulang itu, ada sosok asal Jombang yang selama puluhan tahun bertahan menjaga identitas Indonesia di negeri orang, Budi Santoso.
Pria kelahiran Jombang, 29 April 1962 itu kini menetap di Pieter Calandlaan 55, 1066 KJ Amsterdam. Namun, dia tetap memiliki rumah di Jalan Bupati Ismail, depan SDN Badang I, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Baginya, Jombang tak pernah benar-benar jauh.
Budi menempuh pendidikan dasar hingga SMP di Jombang. Setelah itu, ia melanjutkan SMA dan perguruan tinggi di Malang. Kehidupannya berubah ketika sang istri, Liliek Fauziah Santoso, melanjutkan studi di Belanda.
Kala itu, Budi sebenarnya bekerja di sebuah BUMN di Indonesia. Namun, ia memilih mengundurkan diri demi mendampingi istrinya di Belanda. Keputusan besar itu diambil sekitar tahun 1990.
”Saya merasa tidak menemukan ketenangan hati ketika bekerja di instansi pemerintah. Akhirnya saya memilih ikut istri ke Belanda dan memulai hidup baru di sana,” tuturnya.
Sesampainya di Belanda, perjalanan hidup membawanya menekuni usaha kuliner khas Jawa Timur. Bersama istrinya yang memiliki latar belakang tata boga, ia mulai memperkenalkan makanan Indonesia kepada masyarakat Belanda.
Baca Juga: Cerita Sukses UMKM Jamu di Kediri Tembus Pasar Nasional Berkat Suntikan KUR BRI
Awalnya usaha itu dirintis kecil-kecilan. Sang istri kerap memasak tumpeng dan makanan Indonesia untuk mahasiswa. Ternyata peminatnya tinggi. Sejak 1991, pesanan terus berdatangan mulai dari tumpeng hingga hiasan bunga dari buah-buahan, dengan model promosi dari mulut ke mulut.
Waroeng Adji resmi dibuka tahun 1995 hingga sekarang. Kini usaha mereka berkembang menjadi toko sekaligus restoran kecil dengan konsep makanan dibawa pulang. Tempat duduk yang tersedia hanya delapan kursi. Namun, menu yang ditawarkan sangat beragam. Mencapai sekitar 45 jenis makanan dan 20 macam kue tradisional.
Yang menarik, seluruh makanan disajikan dengan cita rasa asli Jawa Timur tanpa modifikasi.
”Rasa Jawa Timur asli. Tidak kami ubah sama sekali,” katanya.
Menurut Budi, mencari bahan baku Asia di Amsterdam justru relatif mudah. Tempe, tahu, kemangi, hingga aneka rempah tersedia lengkap di pusat pasar Asia di sana.
Meski demikian, membangun usaha di Belanda bukan perkara mudah. Pada awal membuka usaha, ia sempat menghadapi protes warga sekitar karena aroma terasi dan bumbu masakan Indonesia dianggap terlalu menyengat. Bahkan persoalan itu sampai berujung proses hukum selama sekitar tiga tahun.
Namun, pemerintah Belanda tak hanya memberi teguran, melainkan juga membantu mencari solusi. Salah satunya dengan pemasangan alat penetralisir bau dan pembangunan cerobong khusus agar asap masakan tidak mengganggu lingkungan.
”Di sana aturannya ketat, tapi pemerintah juga membantu mencarikan jalan keluar,” ungkapnya.
Usaha kuliner Budi kini justru banyak dikunjungi warga Belanda. Selain karena cita rasa Indonesia yang unik, restoran mereka juga menyediakan makanan halal. Bahkan pelanggan Yahudi pun datang karena merasa cocok dengan konsep makanan tanpa unsur nonhalal.
Budi dan istrinya dikaruniai tiga anak. Rizal Adji Santoso, Amalia Loubna Santoso, dan Miqdaad Zufar Santoso. Kini dia telah memiliki tiga cucu.
Baca Juga: Cerita Imam Asal Jombang di Uni Emirat Arab: Tarawih Khusyuk, Tapi Ada Suara Ledakan
Meski seluruh keluarga tinggal di Belanda, Budi tetap mempertahankan kewarganegaraan Indonesia. Sejak 2017, ia memilih lebih banyak tinggal di Indonesia dengan pola enam bulan di Jombang dan sekitar satu bulan di Belanda secara bergantian.
”Kami tidak mau ganti warga negara. Tetap paspor Indonesia karena cinta tanah air,” tegasnya.
Tak hanya aktif di bidang kuliner, Budi juga dikenal sebagai penggerak dakwah Islam Indonesia di Belanda. Ia tergabung dalam Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) cabang Amsterdam sejak 1990.
Selama bertahun-tahun, ia aktif membina generasi muda muslim Indonesia di Belanda agar tetap mengenal budaya dan Islam khas Indonesia yang moderat dan kultural.
Di Amsterdam, PPME memiliki Masjid Al-Ikhlas yang menjadi pusat kegiatan masyarakat Indonesia. Hampir setiap hari ada aktivitas keagamaan. Mulai madrasah anak-anak, pengajian ibu-ibu, tahfiz, hingga kegiatan Ramadan.
Budi bahkan rutin mendatangkan ustad dari Indonesia untuk mengisi Ramadan di Belanda. Baginya, mempertahankan identitas Islam Indonesia di Eropa membutuhkan perjuangan panjang.
’’Islam Indonesia itu punya pendekatan budaya yang damai dan mudah diterima. Itu yang kami jaga di sana,” ujarnya.
Sebagai orang Jombang asli, Budi juga berusaha menanamkan nilai kampung halaman kepada anak-anaknya. Ketiga anaknya sempat dipondokkan di Indonesia sebelum melanjutkan pendidikan tinggi kembali di Belanda.
”Saya ingin anak-anak tetap kenal budaya Indonesia dan punya bekal agama yang kuat, dan meneruskan perjuangan dakwahnya di Belanda,” harapnya. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto