Pendeta GPdI House Of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik, kemarin. Terutama tentang pentingnya melakukan dan mencintai kesetiaan.
’’Yang dituntut Tuhan darimu: Berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu,’’ tuturnya mengutip Mikha 6:8.
Banyak orang bisa melakukan hal yang benar, tetapi tidak semua orang mencintai kesetiaan. Ada perbedaan besar antara keduanya.
Sering kali kita berpikir bahwa menjadi orang baik cukup dengan melakukan hal yang benar sesekali. Namun ayat ini menekankan sesuatu yang lebih dalam: Bahwa yang Tuhan kehendaki bukan hanya melakukan kesetiaan, tetapi mencintai kesetiaan.
Melakukan yang benar bisa terjadi karena kewajiban, tekanan, atau takut konsekuensi. Namun mencintai kesetiaan berarti kita melakukannya dengan hati yang rela dan tulus, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Bayangkan seorang siswa yang diberi tugas oleh gurunya. Ia bisa saja mengerjakan tugas itu karena takut dimarahi atau ingin mendapatkan nilai bagus. Tapi ada juga siswa yang mengerjakan dengan sungguh-sungguh karena ia menghargai kepercayaan gurunya dan mau belajar bertanggung jawab.
Keduanya sama-sama mengerjakan tugas, tetapi motivasinya berbeda. Yang satu sekadar melakukan kewajiban, yang lain mencintai kesetiaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering dihadapkan pada pilihan yang sama. Apakah kita jujur hanya saat diawasi? Apakah kita menepati janji hanya jika menguntungkan kita? Atau apakah kita tetap setia, bahkan saat hal itu sulit dilakukan dan tidak ada yang memperhatikan?
Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi Tuhan juga melihat mengapa kita melakukannya? Ketika kita mulai mencintai kesetiaan, hidup kita menjadi konsisten. Kita menjadi pribadi yang bisa dipercaya, tidak mudah berubah karena keadaan, dan selalu mencerminkan karakter Tuhan yang setia.
Kesetiaan yang sejati lahir dari hubungan yang dekat dengan Tuhan. Semakin kita mengenal Dia, semakin kita rindu untuk hidup setia, bukan karena terpaksa, tetapi karena kita tahu itulah yang benar dan dikehendaki Tuhan.
Coba kita renungkan sejenak. Apakah selama ini saya setia karena kewajiban, atau karena saya sungguh-sungguh mencintai kesetiaan itu?
Kita minta kepada Tuhan, agar mengubah hati kita, supaya kita tidak hanya melakukan yang benar, tetapi juga mencintai kesetiaan.
’’Mengajar kita untuk tetap setia dalam hal kecil maupun besar, dan hidup berkenan di hadapan-Nya, Amin. Tuhan Yesus memberkati,’’ ungkapnya. (jif)
Editor : Anggi Fridianto