Pendeta GPdI House Of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik, kemarin. Terutama tentang pentingnya belajar percaya di tengah pengharapan. ’’Setiap orang pasti pernah berada dalam masa penantian, menanti kesembuhan, menanti jawaban doa, menanti perubahan, atau menanti jalan keluar dari pergumulan hidup,’’ katanya.
Penantian sering kali terasa melelahkan karena tidak ada kepastian kapan semuanya akan berakhir. Dalam keadaan seperti ini, pengharapan menjadi pilihan iman yang tidak mudah, tetapi sangat penting.
Pengharapan kita orang percaya bukanlah angan-angan kosong. Pengharapan adalah sikap hati yang berakar pada janji Tuhan. Firman Tuhan berkata: ’’Berbahagialah orang yang menaruh pengharapannya pada Tuhan.’’ (Yeremia 17:7).
Ayat ini tidak mengatakan bahwa orang tersebut akan langsung bebas dari masalah. Melainkan ia diberkati karena memilih percaya. Pengharapan kepada Tuhan membuat kita berdiri teguh meski badai belum berlalu. Sering kali kita berharap Tuhan segera mengubah keadaan. Namun dalam hikmat-Nya, Tuhan lebih dulu membentuk hati kita. Ia mengajar kita sabar, rendah hati, dan setia. Seperti emas yang dimurnikan dalam api, iman kita dikuatkan melalui proses yang tidak nyaman. Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan penderitaan anak-anak-Nya. Abraham menunggu bertahun-tahun untuk melihat janji Tuhan digenapi. Daud harus melalui masa pelarian sebelum menjadi raja.
Ayub kehilangan segalanya sebelum akhirnya dipulihkan. Dari kisah-kisah ini kita belajar bahwa penantian bukan tanda Tuhan lupa, melainkan bukti bahwa Ia sedang bekerja dengan cara-Nya sendiri. Pengharapan juga menolong kita melihat melampaui keadaan saat ini. Ketika mata jasmani hanya melihat keterbatasan, iman menatap janji Tuhan. Pengharapan memberi kekuatan untuk tetap berdoa ketika jawaban belum datang, tetap setia ketika hasil belum terlihat, dan tetap bersyukur di tengah kekurangan.
Dalam pengharapan, kita belajar percaya bahwa rencana Tuhan selalu baik, sekalipun jalannya tidak mudah dipahami. Kita mungkin tidak mengerti mengapa sesuatu terjadi, tetapi kita percaya kepada Pribadi yang memegang hidup kita. Dan di situlah letak damai yang sejati. Alkitab menegaskan: ’’Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu. Rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.’’ (Yeremia 29:11)
Pengharapan kepada Tuhan bukanlah sia-sia. Pada waktu-Nya, Tuhan akan menyatakan pertolongan-Nya.
’’Yang Ia minta dari kita adalah tetap setia berjalan bersama-Nya, meski langkah terasa berat. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto