Pendeta GPdI House Of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik, kemarin. Terutama tentang pentingnya menaruh harapan pada sumber kehidupan. ’’Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, "Jangan menangis!" tuturnya mengutip Lukas 7:13.
Sebuah kisah yang menarik dan memberkati tertulis dalam Alkitab yang terjadi di kota Nain. Seorang Ibu janda yang dipulihkan harapannya oleh Yesus.
Ketika suaminya meninggal, wanita ini bertekad menjanda untuk membesarkan anak tunggalnya. Ia berjuang melawan kerasnya hidup, termasuk cercaan serta cibiran tetangga karena kondisinya saat itu. Ia berpikir, ’’Tak apalah aku susah sekarang. Sebentar lagi anakku dewasa dan dialah harapan masa tuaku.’’ Namun mendadak anak tunggalnya itu meninggal. Harapan hidupnya sirna seketika. Kita bisa bayangkan apa yang terjadi saat itu. Ibu janda ini pasti kalut pikirannya, dan mungkin dia bertanya, ’’Untuk apa lagi aku hidup?’’
Tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Di sepanjang jalan desa menuju pemakaman, air matanya telah mengering. Meski orang-orang turut meratapi kepergian putranya, tak ada yang memahami kesedihannya karena dia kehilangan tempat menggantungkan hidup.
Puji Tuhan, di tengah perjalanan dan tepat di pintu gerbang kota, rombongan pengusung jenazah itu bertemu Yesus. Ketika ia berpapasan dengan Yesus, kesedihan mencekik kerongkongannya. Ia tak lagi mampu mengucap, memohon pertolongan. Namun sesuatu yang menarik ada pada pribadi Yesus waktu itu.
Apakah hati sang Juruselamat hanya tergerak jika diminta dan jika ada iman kepada-Nya? Ketika hatinya begitu sedih dan seakan lumpuh kekuatannya, namun sang Juruselamat memahaminya. Dia peduli pada hati yang menjerit tanpa kata. Hati-Nya penuh dengan belas kasihan. Dengan penuh kasih Yesus berkata: ’’Jangan menangis.’’
Ucapan ini bukan sekadar penghiburan di kala duka. Sebab Dia adalah Tuhan yang berkuasa atas maut dan kehidupan. Maka dengan penuh kuasa Yesus berseru: "Hai anak muda bangkitlah" (ayat 14). Yesus bukan hanya membangkitkan si anak muda, tetapi juga menghidupkan kembali harapan si Ibu janda.
Kepada siapa kita menggantungkan harapan masa depan? Kepada pasangan hidup, anak-anak, harta, kemampuan, pengalaman atau yang lain? Ingatlah bahwa semua itu bisa mati dan habis.
Maka berharaplah kepada sumber kehidupan yaitu Yesus, yang selalu mampu dan mau mempedulikan kita. Taruhlah segala harapan hidup kita, pada dasar yang teguh dan tak tergoyahkan.
Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! (Yeremia 17:7)
’’Dunia dipenuhi dengan ketidakpastian, namun firman-Nya memberikan kita kepastian. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto