Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Renungan Minggu 264: Membubuhkan Kasih dalam Setiap Perkataan  

Rojiful Mamduh • Minggu, 5 Oktober 2025 | 14:20 WIB

 

Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan Jombang Pdt Petrus Harianto STh
Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan Jombang Pdt Petrus Harianto STh

Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik, kemarin. Terutama tentang pentingnya membubuhkan kasih dalam setiap perkataan.

’’Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang,’’ tuturnya mengutip Kolose 4:6.

Di awal pernikahan kami, istri saya punya hobi mengkliping aneka resep masakan. Resep-resep itu didapatkan dari beberapa majalah dan tabloid wanita pada masa itu. Bukan hanya kliping, tapi buku aneka resep masakan pun sering juga dibeli.

Dari sekian banyaknya resep masakan yang dikliping ataupun buku resep masakan, semua memuat cara membuat aneka makanan lezat.

Ketika saya membaca dan memeriksa bahan-bahannya, semua jenis masakan pasti ada garam.

Garam sangat dibutuhkan sebagai bumbu bagi setiap masakan. Tanpa garam, masakan menjadi hambar. Tidak peduli semahal apa pun bahan makanan yang telah disediakan, kita tidak akan menemukan kenikmatan jika pada masakan tersebut tidak dibubuhi garam.

Ayat di atas merupakan nasihat Paulus kepada jemaat di Kolose, salah satunya yang berkenaan dengan perkataan. Paulus mengibaratkan perkataan seperti masakan. Paulus menyatakan supaya perkataan kita jangan sampai hambar.

Dalam salinan Alkitab King James Version mengungkapkan pernyataan tersebut secara lebih jelas. Frasa ’’senantiasa penuh kasih’’ diterjemahkan ’’dibumbui dengan garam’’ (seasoned with salt).

Artinya, setiap perkataan yang keluar dari mulut kita, harus ada ’’garam’’ di sana. Garam itu adalah kasih. Termasuk sifat dari kasih ialah sabar, baik hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain (Lihat 1Korintus 13:4-5).

Sesudah kita membubuhi perkataan kita dengan ’’kasih’’ maka akan ada perubahan dalam kata-kata kita. Kita mengkritik, tetapi tidak menjatuhkan. Kita menegur, tetapi tidak membenci. Kita menasihati, tetapi tidak menghakimi.

Kita menyanjung tanpa keinginan mencari muka. Kita memuji bukan atas dasar motivasi tersembunyi. Tapi setiap perkataan yang kita ucapkan selalu membawa dampak yang baik atau mempengaruhi. Perkataan kita pun selalu membawa damai bukan permusuhan dan fitnah.

Garam melezatkan masakan. Demikian juga orang-orang di sekeliling kita pasti akan merasakan kenikmatan apabila selalu ada "garam" dalam perkataan kita. Setiap hati orang-orang yang mendengar menjadi tenteram, mereka dikuatkan atau termotivasi. Kehadiran dan nasehat kita dinantikan dan dibutuhkan banyak orang.

Mulai hari ini, mari kita membubuh "garam" dalam setiap hendak berkata-kata! Selalu ingat untuk menuangkan sifat-sifat kasih dalam ucapan mulut kita.

’’Kehidupan kita akan semakin menjadi berkat bagi sesama apabila senantiasa kita menyertakan kasih dalam perkataan kita. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#GPdI House of Prayer Sawahan #Renungan #Jombang #Minggu