Radarjombang. - Pendeta GPdI House of Prayer Sawahan, Jombang, Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik, kemarin. Terutama tentang pentingnya tetap kuat di dalam Tuhan. ’’Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya,’’ tuturnya mengutip Efesus 6:10.
Keadaan yang sedang terjadi hari-hari ini membuat banyak orang mengalami kekhawatiran. Baik itu karena masalah ekonomi, cuaca, kesehatan dan juga peperangan.
Kita tak bisa memungkiri bahwa keadaan dunia semakin hari semakin tidak baik. Persaingan hidup antarinsani semakin berat, kebutuhan hidup merangsek naik dari hari ke sehari. Kejahatan manusia pun semakin merajalela.
Kita takkan mampu menghadapi jika kita bersandar pada kekuatan sendiri. Itulah sebabnya rasul Paulus mendorong orang percaya untuk semakin kuat di dalam Tuhan, seperti dikatakan ayat di atas. Kepada jemaat di Kolose Rasul Paulus juga menasihatkan akan hal ini. Digambarkan sebagai sebuah pohon akan tegak berdiri di tengah terpaan angin apabila akarnya semakin merambat ke dalam.
’’Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu,’’ (Kolose 2:7).
Di hari-hari akhir menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang semakin dekat ini Iblis pun semakin gencar melancarkan serangannya, dan untuk menghadapi serangan Iblis kita harus mengenakan seluruh perlengkapan senjata dari Tuhan agar kita dapat bertahan melawan si Iblis (Efesus 6:11).
Salah satu perlengkapan senjata rohani adalah perisai iman. ’’...Dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,’’ (Efesus 6:16). Pada zaman dahulu perisai yang biasa dipakai oleh tentara Romawi adalah perisai dengan ukuran yang luar biasa. Tingginya bisa mencapai 1,3 meter dan lebarnya 1 meter.
Perisai ini disebut scutum, terbuat dari kayu yang dikelilingi lapisan baja dengan logam di tengahnya.
Ini adalah senjata yang harus dimiliki oleh seorang tentara untuk mempertahankan diri yaitu diangkat untuk melindungi bagian tubuhnya (khususnya wajah) dan dihantamkan kepada lawan sebagai mekanisme pertahanan diri. Kapan kita harus menggunakan perisai iman? Di segala keadaan! Inilah iman yang tidak terpengaruh oleh situasi atau kondisi apa pun. Seburuk apa pun keadaan dan seberat apa pun tantangannya tetaplah beriman kepada Tuhan.
Iman sanggup mengubah yang tak mungkin menjadi mungkin. Iman sanggup membuka jalan saat tiada jalan; dan dengan iman pula kita dapat mematahkan setiap serangan-serangan yang dilancarkan oleh si Iblis: "Lawanlah dia dengan iman yang teguh," (1 Petrus 5:9).
Milikilah iman yang teguh supaya kita mampu bertahan di tengah goncangan dunia dan mampu mengalahkan musuh (Iblis)!
’’Tetap semangat di dalam Tuhan. Tuhan Yesus memberkati,’’ tegasnya. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto