RadarJombang.id - Berkembangnya karakteristik generasi muda memunculkan istilah-istilah baru yang cenderung unik untuk menggambarkan diri mereka.
Setelah muncul istilah generasi sandwich yang merujuk pada kondisi seseorang dengan peran ganda menghidupi keluarga di samping memenuhi kebutuhannya, tercipta istilah baru yakni generasi strawberry.
Secara tampilan, strawberry memiliki lapisan luar yang cenderung indah dengan tekstur buah yang mudah hancur.
Karakteristik buah inilah yang disandingkan dengan sifat generasi muda yang kreatif dan inovatif namun di lain sisi juga mudah terpuruk apabila menghadapi tekanan.
Sebenarnya istilah ini telah lama muncul di Taiwan sekitar awal tahun 2000-an.
Istilah generasi strawberry diciptakan oleh sosiolog Australia bernama Paul Hirst pada 1978 yang dituliskan pada buku berjudul The Graying of the Greens Demographic Change And Political Realignment In Australia.
Buku tersebut menggambarkan perubahan demografis di Australia salah satunya muncul konsep generasi strawberry.
Secara umum karakteristik generasi yang digolongkan dalam istilah ini yakni seseorang yang memiliki kelebihan atau sisi positif berupa kecakapan teknologi, ide kreatif dan inovatif, mudah beradaptasi, serta perspektif yang beragam.
Seperti kita ketahui, sudah banyak generasi Indonesia yang bisa menjadi pebisnis atau pelaku usaha serta menghasilkan uang di usia tergolong muda hanya bermodalkan ide dan teknologi.
Mereka juga memiliki kegemaran membuat konten kreatif yang menghibur dan membuka peluang untung.
Tetapi generasi muda ini juga sangat rentan dan mudah terpuruk bila mendapat kesulitan.
Komentar negatif dan kegagalan yang dihadapi mudah saja membuat mereka menyerah bahkan merasa sakit hati.
Generasi dengan karakteristik buah strawberry ini juga cenderung boros dan egois.
Lantas apa saja faktor yang menyebabkan munculnya generasi ini?
1. Pola Asuh Orang Tua
Anak yang cenderung menerima pola asuh sangat dimanjakan dan diperlakukan terlalu lembut oleh orang tua akan rentan terpuruk bila harus menghadapi masalah.
Anak akan merasa sangat dilindungi oleh orang tua dan hanya mengandalkan bantuan tanpa berpikir mandiri menyelesaikan masalahnya.
Jika suatu saat anak dituntut mengambil keputusan maka ia akan merasa cemas.
2. Pengaruh Media Sosial
Media sosial yang dibanjiri unggahan yang menunjukkan gaya hidup seseorang akan memotivasi generasi muda untuk memiliki kehidupan yang serupa.
Mereka rentan membandingkan kehidupannya dengan orang lain yang terkadang diluar batas kemampuan sehingga dipilihlah cara tanpa berpikir panjang.
Bila usaha ini gagal muncullah rasa putus asa dan penyangkalan terhadap diri sendiri.
3. Budaya Serba Instan
Kebiasaan yang menyukai segala sesuatu dilakukan secara mudah dan cepat menjadikan seseorang minim menerima tantangan.
Tahapan proses yang harus dilalui untuk mencapai tujuan cenderung membuat mereka merasa bosan dan mudah menyerah.
Solusi yang dapat dilakukan untuk menghadapi generasi muda dengan sifat seperti ini yakni mengajarkan tentang makna kegagalan.
Kegagalan bukanlah sebuah akhir tetapi proses belajar untuk mencapai keberhasilan lebih maksimal.
Sehingga alih-alih takut, yang dibutuhkan yakni kekuatan dan motivasi lebih untuk mencapai tujuan.
Selain itu juga menghilangkan kebiasaan untuk membandingkan diri dengan orang lain, kesuksesan atau kelebihan yang dimiliki tentu berawal dari proses sehingga bila ingin berhasil maka harus bersabar dan selalu bangkit menghadapi setiap tahapan.
(Rediva Novalisty)
Editor : Achmad RW