RadarJombang.id - Pernikahan menjadi suatu hal yang sakral, serius, dan bisa jadi menegangkan bagi calon pengantin.
Setelah melangsungkan pernikahan, pengantin secara sah telah masuk dalam tahap hubungan baru.
Transisi kehidupan yang terjadi ini membuat pasangan harus ekstra hati-hati dalam mengatur dan mempertahankan kebersamaan.
Oleh karenanya, muncul mitos atau kepercayaan yang menyangkut kehidupan setelah pernikahan. Tepatnya 40 hari setelah pernikahan dilangsungkan.
Empat puluh hari pernikahan dihubungkan dengan fase rentan pasangan yang saling mengadu kecocokan.
Pada masa-masa ini pula, pasangan harus bisa beradaptasi supaya status kebersamaan tetap berlanjut.
Seseorang yang biasanya hidup sendiri harus mengatur kebiasaan baru dan menyelaraskan dengan pasangan.
Empat puluh hari disebut masa yang rentan. Bila pasangan tidak bisa lebih dekat dan saling mengerti dalam periode tersebut, maka hubungan mereka dipercaya tidak langgeng.
Hal yang harus diwaspadai dalam periode ini, utamanya berkaitan dengan lisan atau ucapan.
Berdasarkan jurnal Wacana oleh Mayasari, mitos tentang pernikahan sering disebut “Mitos Ora Ilok” oleh orang zaman dahulu.
Bentuk lisan yang sering terjadi dan menjadi pemantik di antaranya yakni berupa guyonan berlebihan, sindiran, ejekan, dan kata-kata sinisme.
Pengantin akan berlaku sembrono dan sering secara tidak sadar berucap kata-kata yang menyudutkan pasangan.
Ditambah lagi pandangan pasangan-pasangan muda yang mayoritas tidak terlalu percaya dengan nasehat dan larangan zaman dulu sehingga cenderung menyepelekan.
Orang zaman dahulu juga sering melarang pasangan bepergian dalam rentan 40 hari sebab dapat mendatangkan bala atau celaka.
Termasuk pula larangan memotong kuku, jenggot, pergi ke pasar atau kondangan, membawa benda tajam seperti gunting dan pisau ke rumah baru, serta tidak boleh menyentuh atau membawa barang-barang yang menggambarkan arwah seperti patung dan gambar.
Selain itu, mitos 40 hari dipercaya masa ketika pasangan merasa cemas dengan pilihannya.
Kecemasan menjadikan pasangan kesulitan membangun komunikasi yang positif sehingga membuat hubungan menegang.
Biasanya bentuk kecemasan meliputi pemikiran tentang keuangan, pembagian tanggung jawab, serta tuntutan keluarga seperti keinginan mendapatkan keturunan.
Bila pasangan tidak mampu menyelaraskan pemikiran dan keputusan maka berakibat fatal pada hubungan. Komunikasi yang tidak intens juga mendorong kesalahpahaman dan perasaan stress.
Jika pasangan yang setelah menikah berhasil melewati masa 40 hari dengan komunikasi positif, saling mengerti dan memahami, serta mampu bertindak sabar, sebaliknya pernikahan akan memiliki fondasi yang kuat.
Beberapa tips yang dapat diikuti untuk menjaga hubungan dalam tahap rentan yakni dengan sering menghabiskan waktu bersama, berkomunikasi secara terbuka, dan menjaga ekspresi maupun tindakan.
Pasangan yang sering menghabiskan waktu dengan hal menyenangkan atau fokus pada hal yang disukai bersama maka akan lebih mudah saling memahami. (Rediva Novalisty)
Editor : Achmad RW