RadarJombang.id - Berpacaran telah menjadi salah satu trend atau gaya hidup anak muda pada zaman ini.
Pacaran dihakikatkan sebagai hubungan yang terjalin antara perempuan dan laki-laki sebelum menikah.
Perempuan dan laki-laki yang saling mencintai tetapi belum waktunya untuk menikah akan memilih berpacaran.
Melalui pacaran juga, sepasang perempuan dan laki-laki dapat saling mengenal dan menguji kecocokan. Bila dirasa cocok barulah pacaran akan mengarah ke jenjang lebih serius.
Dalam proses berpacaran, dua orang yang berpasangan biasanya tidak akan jauh dari hubungan romantis.
Romantisme akan memperdalam perasaan dan hubungan antarindividu. Keintiman emosional maupun fisik dalam tataran yang aman akan intens dialami.
Umumnya hubungan berpacaran dilakukan oleh remaja yang telah menginjak usia 17 tahun. Remaja akan pergi ke tempat seperti cafe, bioskop, atau taman untuk berpacaran.
Tidak jarang pula, berpacaran ini akan dilakukan secara beramai-ramai untuk menghindari rasa malu dan canggung di antara pasangan.
Tetapi belakangan ini, muncul fenomena berpacaran baru yang menjamur di kalangan anak kecil atau bocah.
Mereka bahkan sudah berpacaran ketika masih duduk di sekolah dasar. Berpacaran dalam usia tersebut tergolong early date yakni dilakukan oleh pasangan berusia di bawah 14 tahun.
Gaya berpacaran yang bocah-bocah ini lakukan mirip seperti gaya berpacaran remaja bahkan beberapa pasangan memiliki panggilan sayang masing-masing.
Seperti yang diunggah oleh akun instagram @afren_id, dalam videonya pemilik akun kerap kali meliput bocah atau anak-anak yang mengaku pacaran.
Mayoritas anak-anak yang diliputnya masih duduk di bangku SD dan SMP. Mereka memiliki gaya berpakaian khas masing-masing yang cenderung nyentrik serta menyematkan panggilan sayang pada pasangan.
Bocah yang berpacaran dalam video sama sekali tidak merasa gengsi dengan hubungannya.
Bahkan terdapat dari mereka yang berpacaran kurang lebih seminggu tetapi sudah saling memanggil dengan sebutan ayah bunda atau mamih papih.
Mereka juga mengaku pilih-pilih tempat dalam berpacaran, idealnya di cafe mahal.
Fakta ini tentunya menimbulkan sudut pandang baru, anak sekolah yang kewajibannya belajar malah telah mengenal hubungan pacaran dan sibuk menjalin romantisme.
Anak-anak pada video juga terang-terangan mengatakan mudah sekali bagi mereka untuk ganti-ganti pasangan alias putus-cari baru.
Maraknya video-video liputan bocah berpacaran tersebut ramai diserbu oleh komentar masyarakat yang mempertanyakan pola asuh dan tanggung jawab orang tua.
Timbul keheranan bagaimana para bocah bisa sebebas itu berpacaran yang jelas tidak sesuai dengan usia mereka.
Menurut Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan dan Konseling tahun 2018, terjadinya fenomena bocah pacaran sangat ditentukan oleh pola asuh demokratis dan otoriter orang tua.
Orang tua yang terlalu membebaskan (demokrasi), terlalu menoleransi anak, serta memberi kepercayaan berlebihan, berpotensi besar menimbulkan salah persepsi bagi anak dalam mengartikan lingkungan sosialnya.
Anak akan lebih bebas memilih pergaulan tanpa pengawasan langsung orang tua dan sebaliknya diberikan kepercayaan.
Baca Juga: Dijanjikan Kerja di Turki, Justru Dijual ke Syiria, Pemerintah RI Bergerak
Anak dapat dengan mudah mengikuti hal-hal yang dianggapnya benar dan menarik.
Orang tua yang memberi kebebasan penuh akibat terlalu sibuk menjadikan anak kurang perhatian sehingga mereka mencari kasih sayang pada orang lain salah satunya melalui hubungan pacaran.
Pola asuh yang terlalu menekan atau membatasi (posesif), selalu mengawasi anak, mengancam dan menakuti, tetap berpotensi mendorong perilaku berpacaran malah dengan perlakukan ini anak akan berpacaran diam-diam.
Anak akan melanggar batasan dan memilih melakukan tanpa sepengetahuan orang tua.
Dilansir dari akun @mohazz_14, pemilik akun sempat mewawancarai bocah yang telah berpacaran selama satu tahun bahkan kerap membeli hadiah pada pasangannya tanpa sepengetahuan orang tua.
Fakta yang terjadi sangat merugikan dan dinilai tidak lazim sebab anak-anak yang seharusnya bermain malah sudah bertingkah seperti orang dewasa. Mereka berpakaian nyentrik dan berpegangan tangan di tempat umum.
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir fenomena ini yakni dengan memberikan perhatian cukup pada anak serta membentuk hubungan komunikasi yang intens.
Memiliki waktu bersama antara orang tua dan anak akan menciptakan kasih sayang dan merasa diperhatikan.
Perhatian yang diberikan dapat menjadi sarana orang tua untuk memberi ajaran yang tepat bagi anak.
Selain itu dibutuhkan penguatan terkait nilai-nilai keagamaan terutama tentang poin pergaulan antar lawan jenis.
Memilah media massa yang digunakan dan diterima anak juga tidak boleh luput sebab media massa merupakan gerbang segala informasi. Tontonan anak sangat menentukan pemikiran mereka. (Rediva Novalisty)
Editor : Achmad RW