Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kisah Sejumlah Bioskop yang Pernah Berjaya di Jombang, Gimana Kondisinya Kini?

Anggi Fridianto • Minggu, 24 September 2023 | 18:56 WIB

 

Bioskio Basuki saat jaman keemasannya di tahun 1988
Bioskio Basuki saat jaman keemasannya di tahun 1988

JOMBANG – Seperti kota lainnya di Jawa, pengusaha bioskop juga membangun sebuah gedung bioskop di Jombang.

Pada pertengahan 1933, berdiri bioskop pertama di Djombang Straat, tepatnya di sebelah utara jalan dekat dengan watertoren Ringin Contong.

Sebuah berita di koran De Indische Courant edisi 16 Juni 1933 menyebut, akan dibangun bioskop untuk film yang dapat berbicara.

“Maksudnya ini untuk membedakan dengan film bisu yang sudah muncul sebelumnya. Teknologi film bisu digantikan film berbicara mulai 1927,” kata Moch. Faisol, penelusur sejarah Jombang.

Dengan adanya bioskop ini penikmat film tidak perlu lagi jauh-jauh ke Mojokerto atau Kediri untuk menonton.

Bioskop pertama di Jombang, bernama Bioscoop Sampoerna. Namun nasibnya kurang mujur. Setelah beroperasi selama dua tahun, bioskop Sampoerna mulai tersendat dan merugi.

De Indische Courant edisi 4 Mei 1936 memberitakan kondisi bioskop satu-satunya di Jombang itu. Operator bioskop mengeluhkan kurangnya pemasukan akibat harus bersaing dengan perusahaan stambul ketoprak dan pentas keliling malam.

Apalagi saat ada keramaian pasar malam yang ada arena judi, sudah pasti bioskop sepi. Begitu juga ketika ada perayaan hari jadi kabupaten. Jangankan bicara keuntungan, bisa menutup ongkos operasional saja sudah bagus.

Selama beroperasi selama 196 hari di tahun 1935, ada 125 hari yang harus menghadapi persaingan berat, mengancam pemasukan bioskop. Bahkan, bioskop Sampoerna sempat ditutup sementara pertengahan 1936.

Namun, akhirnya bisa dibuka kembali untuk memutar film-film produksi Hollywood. Seperti dikabarkan oleh koran De Locomotief edisi 8 November 1939.

Sesuai jadwal, Sampoerna Theater memutar film berjudul Mery Burns, Fugitive (1935) hari Rabu-Kamis, 8-9 November 1939. Tiga hari berikutnya, Jumat-Minggu akan diputar film The Rage of Paris (1938).

Pasca kemerdekaan, bioskop Sampoerna tidak lagi mampu bertahan menghadapi persaingan usaha.

Pada ujungnya, pemilik harus menyerah dan merelakan bioskop pertama ini dibeli oleh grup bioskop berjaringan dengan nama Rex. Karena kekuatan pemodal dan jaringannya yang luas, Rex hampir selalu ada di setiap kota.

Seperti di artikel koran De Vrije Pers edisi 10 Oktober 1949. Kondisi kota Jombang mulai berangsur aman pasca dicapainya gencatan senjata antara pasukan Belanda dan para pejuang. Jam malam masih diberlakukan mulai pukul 18.00.

Namun, karena ada pemutaran film di gedung bioskop Rex, maka jam malam diundurkan sampai pukul 21.00. Di Mojoagung bioskop Satrija juga mulai beroperasi.

“Setelah itu tahun 1970-an, menyusul berdiri bioskop Basuki dan Restu. Sedangkan bioskop Rex berubah nama menjadi Ria,” lanjut Faisol.

Lokasi bioskop Basuki ada di jl KH Wahid Hasyim, tepatnya di sebelah timur Kebonrojo. Sedangkan bioskop Restu menempati gedung yang masih satu kompleks dengan klenteng Hok Liong Kiong di jl Veteran no 72 (Jl RE Martadinata saat ini).

Jika bioskop Ria memilih membidik pangsa pasar menengah ke bawah, sebaliknya bioskop Basuki untuk kalangan menengah ke atas.

Selain perbedaan pilihan film yang diputar, juga terlihat dari fasilitas dan tempat duduk.

Bioskop Ria memakai kursi dari kayu dan anyaman rotan, sementara di Basuki penonton bisa duduk di kursi besi yang empuk dari bahan spon berlapis kulit. Tentu saja harga tiket di bioskop Basuki lebih mahal daripada bisokop Ria.

Pada Agustus 1988, seorang pria bernama Louis Gerard Charles Maximiliaan Pieter Simao alias Boong Ge mengunjungi Jombang untuk bernostalgia.

Boong Ge lahir di Jombang pada 22 Februari 1915. Lalu dibawa orang tuanya ke Semarang hingga dewasa.

Saat mengunjungi kembali kota kelahirannya di usia 73 tahun, Boong Ge sempat berfoto di depan bioskop Basuki. Juga di tangga gunungan Kebonrojo dan di depan stasiun kereta api selatan Alun alun Jombang.

Setahun kemudian, bioskop Basuki mengalami kerusakan pada atapnya yang jebol karena terkena hujan lebat. Setelah itu nasibnya sama dengan kisah bioskop Sampoerna.

Pada 1990 bioskop Basuki menjadi bagian dari grup jaringan 21 Cineplex. Bangunannya diubah menjadi lebih modern dan dilengkapi pendingin udara (AC).

Tak lama kemudian, berdiri bioskop baru yang menjadi pesaing. Namanya Teater Plaza, berada di jl KH Wahid Hasyim dekat jembatan van Hengel.

Bangunannya baru, lebih artistik dan terkesan mewah. Keduanya bersaing memperebutkan pasar penonton bioskop masyarakat Jombang.

Sementara itu, tahun 1970-an, bioskop Brantas di Ploso terpaksa tutup. Sedangkan Ria dan 21 Cineplex menyusul tutup awal tahun 2000-an.

Bioskop Teater Plaza masih bertahan hingga tahun 2010-an, meskipun dengan kondisi yang makin merugi.

Tak lama kemudian menyusul ditutup selamanya. Begitu pula bioskop di Ploso dan Mojoagung tidak lagi bisa bertahan.

Saat ini, bekas bangunan bioskop legendaris di kota Jombang masih ada, namun sudah berubah menjadi toko dan swalayan.

Jejaknya menjadi saksi perjalanan hampir satu abad sejak bioskop dibuka pertama kali di Jombang. (ang/bin/riz)

 

Editor : Achmad RW
#bioskop #Jombang