JOMBANG - Sebuah warung kopi di Desa Gambiran, Kecamatan Mojoagung Jombang memajang puluhan foto Mojoagung tempo dulu.
32 foto tempo dulu di sekitaran Mojoagung itu, dipamerkan untuk masyarakat umum sekaligus pengunjung warung. Pameran yang digelar dalam momentum HUT ke-78 Kemerdekaan RI ini mengungang minat pengunjung termasuk kaum pelajar.
Deretan foto Mojoagung tempo dulu berjajar rapi di sebuah dinding warung kopi itu. Selain asyik nongkrong sambil menyeruput kopi, beberapa pengunjung juga asyik mengabadikan momen hingga mengamati foto lawas yang dipajang.
Inisiatif dari beberapa pemerhati sejarah asal Mojoagung ini sengaja memamerkan puluhan foto tempo dulu untuk masyarakat umum.
Salah satu foto lawas yang paling mencolok adalah foto robohnya Watertoren. Foto dengan ukuran 30 x 25 cm tersebut menggambarkan suasana Mojoagung pada 1949 silam.
Dalam foto itu, terlihat beberapa tentara yang sedang berpose di depan Watertoren Pabrik Gula di Mojoagung yang roboh. Telihat pula rel Oost-Java Stoomtram Maatschappij (OJSM) yang berbelok.
”Ini kebetulan pulang sekolah, mampir kesini katanya ada pemeran foto Mojoagung tempo dulu,’’ ujar Muhammad Zulkifli Nur Aziz, 19, salah satu pelajar.
Ia mengaku terkesan dengan beberapa foto yang dipajang. Hal ini adalah ilmu baru baginya karena dalam mata pelajaran umum tidak mempelajari lebih detail tentang kondisi Mojoagung.
”Sehingga kami warga Mojoagung tahu sejarahnya bagaimana perjuangan para pejuang membela tanah air di kawasan Mojoagung ini,’’ jelas dia.
Menurutnya, pameran semacam ini harus lebih sering diadakan agar masyarakat Jombang, khususnya Mojoagung lebih tahu tentang kondisi tempo dulu. ”Misalnya di sekolah-sekolah agar kita semakin tahu dan semakin cinta terhadap tanah air,’’ jelas siswa SMK Unggulan NU Mojoagung ini.
Sementara itu, Muhammad Mansur, 33, pemilik cafe mengatakan, total ada 32 foto yang dipajang dalam pameran tersebut. Foto-foto tersebut milik beberapa pegiat sejarah, penelusur dan relawan.
”Saat ini ada 32 foto dan ada kemungkinan bertambah. Ada beberapa relawan yang mau menghibahkan beberapa koleksi fotonya untuk dipamerkan dalam event ini,’’ bebernya.
Dijelaskan, tujuan pameran foto lawas itu dilakukan menumbuhkan semangat juang pada masyarakat khususnya pemuda-pemuda yang sekarang dinilai semakin jauh dari sejarahnya sendiri. Padahal menurutnya sejarah lokal tidak kalah pentingnya dengan sejarah-sejarah besar republik.
“Mewarisi semangat revolusi adalah sebaik-baik bentuk memperingati kemerdekaan. Kami berkomitmen menjadikan tema sejarah ini rutin setiap tahun pada HUT RI. Alhamdulillah, sudah berjalan tahun ketiga. Semoga pergerakan kecil ini terus berjalan dan menuai tanggapan positif dari khalayak umum,’’ tandas dia.
Lebih dari itu, besar harapannya, generasi muda ke depan lebih mencintai sejarah, khususnya sejarah lokal di Mojoagung. Memberi cambuk semangat bagi generasi muda untuk menggali kembali sejarah lokal yang tidak diajarkan di bangku sekolah.
“Sejarah minor yang mulai dilupakan. Padahal di tanah kita sendiri tak kurang pejuang meregang nyawa demi mempertahankan. Generasi muda akan lebih menghargai tanah kelahiran mereka,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz)
Editor : Achmad RW